
SETELAH ibu-ibu rumah tangga menjerit akibat kenaikan harga minyak goreng, disusul tahu-tempe yang menjadi menu pangan andalan rakyat Indonesia , kini giliran harga daging sapi juga ikut-ikutan naik.
Harga daging sapi di pasar-pasar saat ini berkisar Rp150-ribu per Kg dari harga sebelumnya Rp130-ribu, sehingga sampai Jumat (8/3), menurut Ketua Asosiasi Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) A. Mansuri, anggotanya se-Jabodetabek akan melakukan mogok.
Naiknya harga daging sapi terutama mengikuti kenaikan harga impor yang pada Oktober lalu berkisar antar 3,5 – sampai 3,6 dollar AS (Rp49,7 ribu – Rp51,1-ribu) menjadi antara 4,5 sampai 4,6 dolar AS (Rp53,9-ribu – Rp65,3-ribu) sejak Januari lalu.
Impor daging sapi dan sapi bakalan Indonesia sejauh ini 90 persen tergantung pada Australia dan Selandia Baru, sehingga perlu dipertimbangkan untuk mengimpor dari negara lain seperti India, dengan risiko terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) atau dari Argentina dan Brazil, namun lebih mahal karena persoalan jarak.
Pada 2021 tercatat impor daging sapi dan kerbau Indonesia 223.142Â ton untuk memenuhi kebutuhan nasional 696.956 ton atau 2,56 kg/per orang per tahun, sementara ketersediaan lokal hanya 473.814 ton.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan kerbau nasional pada 2022 yakni sebanyak 436.704 ton, Indonesia harus mengimpor 266.065 ton.
Minyak goreng langka
Sedangkan kenaikan harga minyak goreng juga dipicu oleh kenaikan harga CPO (minyak sawit mentah) di pasar int’l yang mencapai 1.340 dollar AS per metrik ton (sekitar RpRp19.028 juta) saat ini dan juga kenaikan harga minyak nabati lainnya.
Di dalam negeri, kenaikan harga minyak goreng juga dipengaruhi meningkatnya kebutuhan akibat kewajiban oleh pemerintah terkait penggunaan 30 persen minyak kelapa sawit untuk bahan bakar diesel dalam upaya menekan volume impor migas.
Ikut bermainnya spekulan di sejumlah lokasi seperti yang diungkapkan aparat kepolisian baru-baru ini juga membuat harga minyak goreng melambung tinggi dan menghilang dari pasaran.
Akibatnya, walau pemerintah menetapkan HET Rp11.500 per liter untuk minyak goreng curah, Rp.13.500 kemasan sederhana dan Rp14.000 kemasan premium, harga di pasaran masih jauh lebih tinggi.
Sementara kenaikan harga kedelai yang berdampak pada harga tahu-tempe, terjadi juga akibat kenaikan harga di pasar internasional dari 12 dollar AS per gantang menjadi 18 dollar AS (sekitar Rp255,6ribu).
Kenaikan harga kedelai di dua negara importir utama RI yakni Brazil akibat gangguan cuaca (El Nina) dan AS akibat inflasi, membuat harga kedelai yang dibeli para perajin tahu dan tempe naik dari sekitar Rp9.000 per Kg sampai Rp12.000.
Melonjaknya kebutuhan kedelai int’l terjadi akibat naiknya permintaan China dua kali lipat dari sekitar 100 juta ton pada 2021 seiring dengan perluasan peternakan babi sampai milyaran ekor.
Ketergantungan Indonesia pada impor kedelai yang menjadi bahan pembuatan tahu-tempe, komditas pangan utama rakyat,  juga ikut mengatrol naiknya harga kedelai. Dari tiga juta ton kedelai yang dibutuhkan khususnya untuk pembuat tahu tempe, produksi dalam negeri paling tinggi 750.000 ton.
Apa pun penyebabnya, Indonesia yang merupakan negara agraris yang begitu luas lahan pertaniannya, hendaknya kembali mengedepankan sektor pertanian demi keamanan dan ketahanan pangan rakyat.




