Giliran Massa Gen Z Maroko Turun ke Jalan

Demo ribuan massa gen Z berujung anarkisdi sejumlah kota di Maroko berlangsung tujuh hari berturut-turut, Jumat (3/10) menuntut pembubaran pemerintah . Dilaporkan tga orang tewas. (foto AFP)

PARA politisi dan birokrat di negara mana saja agaknya perlu belajar dan mawas diri karena Generasi Z tidak lagi membiarkan mereka berlaku semena-mena, “hidup di menara gading” atau abai pada nasib rakyat.

Setelah aksi unjuk rasa dimotori serikat pekerja, kauma remajaj dan  mahasiswa berujung anarkis mengguncang sejumlah kota di Indonesia 25 -31 Agustus lalu dan di Sri Lanka pada8 Sept lalu , dan yang teranyar terjadi di Maroko.

Ribuan remaja Gen Z kembali turun ke jalan di sejumlah kota besar di Maroko, Jumat (3/10), memasuki hari ke-7 berturut-turut, menuntut reformasi layanan kesehatan dan pendidikan publik serta mendesak PM  Aziz Akhannouch lengser.

AFP dan media lokal melaporkan, massa turun ke jalan di ibu kota Rabat, serta kota-kota besar lainnya seperti Agadir, Casablanca, dan Tangier.

Sebelumnya pasukan keamanan bergerak maju dengan kendaraan meriam air untuk membubarkan para pendemo  dipimpin pemuda di kota Sale, Maroko, Rabu (1/10).

“Suara kami tidak dapat dibungkam,” tertulis di spanduk yang diising seorang pengunjuk rasa di depan gedung parlemen Maroko di Rabat, tempat puluhan orang berkumpul untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Kelompok di balik aksi ini adalah Gen Z 212, komunitas daring yang terbentuk di platform Discord pada pertengahan September.

Meski telah mendapatkan hampir 170.000 anggota di Discord, kepemimpinan kelompok ini belum diketahui secara pasti.

Tolak kekerasan

Pengujukrasa menyerukan aksi damai dan menolak segala bentuk kekerasan maupun perusakan dan dalam pernyataan terbaru mereka.

Gen Z 212 kembali meminta pendemo mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk solidaritas bagi para korban luka dan tewas.

Sebanyak tiga orang dilaporkan tewas pada Rabu (1/10) setelah massa diduga mencoba menyerbu kantor polisi di dekat Agadir.

Pasukan keamanan Maroko mengawal para pengunjuk rasa keluar dari gedung parlemen di Rabat, Minggu, dalam aksi demonstrasi yang dipimpin anak muda, terutama Gen Z, untuk keadilan sosial dan menuntut perbaikan pada sektor kesehatan publik dan pendidikan.

“Kami menolak segala bentuk kerusuhan. Kami ingin tetap sepenuhnya damai,” tulis kelompok tersebut dalam seruan terbuka kepada para anggotanya.

Demo Maroko berangsur damai meski sempat terjadi

insiden kekerasan dan vandalisme pada hari-hari sebelumnya, sementara laporan dari jurnalis AFP menyebutkan bahwa aksi pada Kamis dan Jumat berlangsung relatif damai.

Salah satu demonstran, Yasser (20), menyampaikan kegelisahannya soal kualitas pendidikan di Maroko.

“Saya mengalami kesulitan di universitas karena tingkat pendidikan yang saya terima di SMA tidak baik,” ujarnya kepada AFP saat mengikuti aksi di Rabat.

Dipicu delapan pasien meninggal

Gelombang kemarahan publik ini mencuat usai laporan tentang meninggalnya delapan ibu hamil yang sedang dalam perawatan di di rumah sakit umum di Agadir bulan lalu.

Insiden tersebut menyoroti ketimpangan sosial dan lemahnya layanan publik, yang kemudian memicu demonstrasi nasional.

GenZ 212 juga sempat mengunggah pernyataan yang ditujukan kepada Raja Mohammed VI, menyerukan pembubaran pemerintah.

Akan tetapi, dalam pernyataan susulan, mereka menyebut bahwa pesan tersebut belum merupakan versi final, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

Di tengah memanasnya situasi, Uni Eropa turut angkat suara. Dalam pernyataan resminya pada Jumat, UE mengingatkan pentingnya partisipasi pemuda dalam kehidupan publik dan meminta semua pihak menahan diri.

Gaya hiudp para pejabat dan politisi yang bergelimang kemewahan dari hasil korupsi, memeras sana sini atau menumpuk komisi, abai, apalagi pamer dan arogan terhadap rakyat, sudah harus ditinggalkan jika mereka tak ingin dilindas zaman. (AFP/kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here