Glioblastoma, Kanker Otak Paling Ganas yang Renggut Nyawa Sophie Kinsella

Glioblastoma, kanker otak paling ganas. (Foto: freepik)

Jakarta, KBKNews.id – Kabar duka datang dari dunia sastra internasional. Sophie Kinsella, penulis tersohor di balik seri fenomenal “Shopaholic”, meninggal dunia pada usia 55 tahun akibat glioblastoma.

Itu merupakan salah satu jenis kanker otak paling agresif yang dikenal medis. Kinsella yang bernama lengkap Madeleine Sophie Wickham didiagnosis mengidap penyakit ini sejak 2022. Namun dia baru mengungkapkannya kepada publik tahun lalu.

Dalam pernyataan keluarga yang dipublikasikan melalui akun Instagram-nya, Kinsella disebut meninggal dengan tenang, dikelilingi keluarga, musik, kehangatan, dan hal-hal kecil yang selalu membuatnya bahagia.

Para penulis dunia turut menyampaikan belasungkawa. Jill Mansell menyebutnya sebagai sosok yang membawa begitu banyak kegembiraan. Sementara Adele Parks mengenangnya sebagai wanita hangat yang akan terus hidup dalam hati jutaan pembacanya.

Lebih dari 50 juta eksemplar karyanya telah terjual dan diterjemahkan ke lebih dari 40 bahasa. Bahkan, tokoh ikonik Becky Bloomwood pernah diadaptasi ke layar lebar dalam film Confessions of a Shopaholic (2009).

Buku terakhirnya, What Does It Feel Like? merupakan novel pendek yang ditulis setelah operasinya. itu merupakan sebuah karya yang lahir dari pergulatan nyata menghadapi penyakit mematikan itu.

Di balik kisah kehilangan ini, muncul kembali perhatian publik terhadap glioblastoma, kanker otak yang terkenal ganas dan sulit ditangani.

Apa Itu Glioblastoma?

Glioblastoma, atau glioblastoma multiforme (GBM) merupakan salah satu kanker otak primer paling mematikan. Tumor ini berasal dari sel glial bernama astrosit—sel penopang saraf yang berperan menjaga kesehatan jaringan otak.

Saat sel astrosit mengalami mutasi genetik dan tumbuh tanpa kendali, terbentuklah glioblastoma. Dia dapat menyusup dengan cepat ke jaringan otak sehat di sekitarnya.

Kebanyakan glioblastoma tumbuh di otak besar, terutama di lobus frontal dan temporal. Meski demikian, dia dapat muncul hampir di semua bagian otak, bahkan sumsum tulang belakang.

Kanker ini jarang menyebar ke organ lain karena sifatnya yang lebih “terkunci” dalam sistem saraf pusat. Namun justru karena lokasinya yang vital, kerusakan yang ditimbulkan sering kali bersifat cepat dan parah.

Salah satu alasan glioblastoma sangat sulit diobati adalah kemampuannya membentuk pembuluh darah baru secara mandiri. Dialah yang memberi suplai nutrisi bagi pertumbuhan tumor yang cepat dan invasif.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga kini, penyebab pasti glioblastoma belum diketahui. Ilmu medis memahami, kanker ini dipicu mutasi genetik pada sel astrosit, namun faktor pemicunya masih menjadi misteri.

Meski demikian, beberapa kondisi diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena glioblastoma. Di antaranya:

  • Usia di atas 50 tahun
  • Berjenis kelamin laki-laki
  • Riwayat radioterapi di kepala
  • Kelainan genetik seperti neurofibromatosis tipe 1, sindrom Li-Fraumeni, atau sindrom Turcot
  • Paparan bahan kimia tertentu

Sebagian besar pasien tidak memiliki faktor risiko yang jelas, sehingga deteksi dini sering kali menjadi tantangan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala glioblastoma bergantung pada lokasi tumor. Namun, beberapa keluhan umum yang sering muncul. Di antaranya sakit kepala yang memburuk di pagi hari, mual dan muntah, penglihatan kabur atau ganda, perubahan perilaku, gangguan konsentrasi, kelemahan otot, serta kejang.

Seiring pertumbuhan tumor yang menekan jaringan otak sehat, gejala dapat makin berat. Perubahan kepribadian tiba-tiba, mudah mengantuk, kesulitan memahami perkataan, hingga gangguan keseimbangan bisa menjadi tanda serius yang tidak boleh diabaikan.

Apabila mengalami gejala seperti ini, pemeriksaan medis segera dianjurkan agar penanganan dapat dilakukan sejak awal.

Bagaimana Glioblastoma Dideteksi?

Diagnosis glioblastoma dimulai dari tanya jawab medis, pemeriksaan fisik, serta tes neurologis untuk menilai fungsi motorik, koordinasi, penglihatan, pendengaran, dan refleks. Jika dokter mencurigai adanya tumor, langkah selanjutnya adalah pemeriksaan pencitraan melalui MRI atau CT scan untuk melihat lokasi dan ukuran massa.

Biopsi (mengambil sampel jaringan tumor) adalah prosedur paling penting untuk memastikan jenis kanker.

Beberapa rumah sakit juga menggunakan PET scan atau tes darah tambahan untuk mengevaluasi kondisi tubuh secara keseluruhan.

Pilihan Pengobatan Glioblastoma

Glioblastoma termasuk kanker yang sulit diobati karena sifatnya yang agresif dan menyusup ke jaringan otak. Tidak ada terapi tunggal yang dapat menyembuhkannya. Pengobatan biasanya kombinatif dengan tujuan memperlambat perkembangan penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

1. Operasi

Operasi menjadi pilihan utama untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin. Namun karena glioblastoma tumbuh di antara jaringan otak sehat, pengangkatan total hampir tidak mungkin. Setelah operasi, pasien biasanya melanjutkan radioterapi dan kemoterapi.

2. Radioterapi

Radioterapi menggunakan sinar-X untuk membunuh sisa sel kanker. Terapi ini hampir selalu menjadi bagian dari penanganan pascaoperasi, dan kadang dilakukan bersama kemoterapi.

3. Kemoterapi

Obat seperti temozolomide diberikan untuk menghentikan pertumbuhan sel kanker. Jika kanker muncul kembali, kemoterapi dapat diberikan melalui infus atau diganti dengan obat lain.

4. Terapi Target dan Imunoterapi

Jika kemoterapi tidak lagi efektif, dokter dapat beralih ke terapi target yang bekerja menghambat zat tertentu dalam sel kanker. Beberapa pasien juga menerima imunoterapi untuk memperkuat sistem kekebalan dalam melawan tumor.

Selain terapi utama, obat kortikosteroid sering diberikan untuk mengurangi pembengkakan otak. Sementara obat antikejang membantu mencegah kejang berulang.

Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Tanpa penanganan, glioblastoma dapat menyebabkan kehilangan penglihatan, gangguan pendengaran, perubahan kepribadian drastis, hilang ingatan, hingga kejang berat. Sementara itu, pengobatan intensif juga dapat memicu efek samping seperti sulit tidur, infeksi, depresi, dan risiko kanker kambuh.

Bisakah Glioblastoma Dicegah?

Karena penyebab pastinya belum diketahui, pencegahan spesifik sulit dilakukan. Namun, pola hidup sehat tetap menjadi upaya terbaik untuk menjaga fungsi otak. Selain itu juga menghindari paparan radiasi yang tidak perlu, tidak merokok, menjaga pola makan bergizi dan rutin berolahraga. Yang tak kalah penting, lakukan pemeriksaan medis apabila memiliki kelainan genetik yang meningkatkan risiko tumor otak.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here