Teganya, 80 ton Bantuan di Aceh ada yang Nilap

Teganya. Di tengah bencana, masih ada yang tega menilap bantuan. 80 ton bantuan ke Kab. Bener Meriah, Aceh dilaporkan raib. Usut sampai tuntas! (ilustrasi: Youtube)

GUBERNUR Aceh Muzakir Manaf menerima laporan, 80 ton bantuan yan dikirimkan ke salah satu lokasi bencana banjir dan longsor di Kabupaten Bener Meriah, Aceh  diduga hilang, sehingga banyak masyarakat yang membutuhkan cuma bisa gigit jari.

Manaf alias Mualem menyebutkan, bantuan sejatinya sudah banyak masuk ke wilayah itu lewat jalur udara yang ditempatkan di Bandara Rembele, Bener meriah.

“Bantuan yang sudah masuk di Bener Meriah, Aceh Tengah saya kira sudah maksimal. Tapi masalahnya, di lapangan, tepat sasaran atau tidak. Saya dengar berita burung ada 80 ton hilang entah kemana. Kita turunkan semua di Bener Meriah,” kata Muzakir Manaf kepada wartawan, Rabu (10/12) malam.

Untuk itu Mualem sudah meminta Pangdam Iskandar Muda dan Kapolda Aceh untuk mengusut dugaan bantuan yang hilang tersebut.

“Saya tidak tahu, kita cek dulu apa betul atau tidak. Yang baru dengar berita burung tidak kita percaya kan. Nanti bersama-sama ada pak Pangdam dan Kapolda untuk mengusutnya,” katanya.

Ia juga berharap Bupati Bener Meriah bisa mengontrol dan menyalurkan sembako ke masyarakat dengan adil dan merata, agar masyarakat bisa bertahan.

“Karena kita tahu bahwa Bener Meriah tempat mereka antar (bantuan) karena di situ ada bandara yang boleh kita gunakan,” katanya.

Persoalan lainnya di Bener Meriah dan Aceh Tengah, lanjut gubernur, kurangnya pasokan aliran listrik dan persediaan BBM, sehingga alat-alat berat dan transportasi untuk suplai bantuan macet.

Sementara Kepala Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Kabupaten Bener Meriah, Ilham Abdi mengatakan pihaknya belum mendapat informasi adanya kehilangan logistik di gudang posko.

Begitupun jika ada donatur atau yang mengirim logistik untuk masyarakat Bener Meriah pihaknya selalu mencatat dan hendak ditujukan ke mana lalu pihaknya mengambil ke gudang cargo bandara lalu ditempatkan di gudang posko.

“Tentang informasi adanya logistik yang hilang, kalau yang sudah masuk gudang logistik dipastikan tidak ada. Di bandara yang kita bawa hanya yang dialamatkan untuk masyarakat Bener Meriah, diterima petugas di Bandara Rembele kemudian dibawa ke gudang dengan pengawalan,” katanya.

Sementara di gudang cargo sendiri, menurut Abdi, ditangani dan di bawah kendali TNI AU yang bertugas di sana,” lanjut Ilham saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com. Kamis (11/12).

Di negeri ini di mana hati nurani, moral dan nilai-nilai kejujuran sudah menipis atau terdegradasi, kecurigaan raibnya bantuan saat terjadi musibah, bukan hal yang aneh.

Ingat saat musibah pandemi Covid-19, Maret 2020 sampai Juni 2023? Banyak bansos yang jatuh ke tangan orang tidak berhak, sebaliaknya yanga berhak, tidak menerimanya.

Bahkan Menteri Sosial saat itu, Juliari Batubara yang seharusnya menjadi “panglima” dalam pendistribusian bantuan, terjerat kasus korupsi, “menyunat” setiap paket bansos sehingga merugikan negara puluhan miliar rupiah.

Dari setiap bencana, sebenarnya segenap  pemimpin dan politisi di negeri ini mengambil hikmahya agar kejadian sama tidak tidak terulang lagi.

Dalam kasus kerusakan ekosistem hutan secara masif yang memicu banjir di tiga provinsi di Sumatera akhir November, sehausnya tidak hanya pelaku di lapangan yang dikejar, tetapi juga pejabat pemerintah yang memberi izin, politisi di pusat dan daerah yang membeckingi  atau penegak hukum yang lalai, bahkan “ikut bermain” .

Usut tuntas sampai ke akar-akarnya. Siapa berani? (CNN Indonesia/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here