
HARI ke-33 perang Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel masih berlangsung sengit di mana kedua kubu mengeklaim kemenangan.
Pengamat hubungan int’l Suzie Sudarman seperrti dilaporkan KB Anadolu dan dikutip INews, Turki memprediksi, perang AS dan Israel melawan Iran bakal selesai pada akhir April 2026 ini.
Alasannya, Kongres AS membatasi pembiayaan perang di bawah perintah Presiden AS Donald Trump yang maksimal untuk 60 hari.
“Trump sudah pasti harus mundur (dari perang), karena sudah tidak memungkinkanlah dia menggelontorkan APBN pemerintah AS.
Menurut Suzi dalam program INews “Rakyat Bersuara:  Perang Iran dan Ancaman Krisis” , Trump harus menghentikan  perang dalam 60 hari, karena jika tidak, dia akan ditegur kongres.
“Kongres tidak akan mengizinkan lebih dari itu (30 April),” imbuhnya.
Dia menjelaskan, perang darat dengan Iran akan membutuhkan biaya yang sangat banyak, sementara penggelontoran uang dari pemerintah AS membutuhkan persetujuan kongres.
Kerahkan B-52 Stratofortress
Sementara itu dilaporkan, AS secara resmi mulai mengerahkan pesawat pengebom B-52 untuk melakukan misi penerbangan di atas wilayah Iran.
Operasi yang diberi sandi “Epic Fury” ini menandai babak baru dalam eskalasi militer di kawasan tersebut, sebagaimana dilansir Anadolu Agency.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengonfirmasi dimulainya misi tersebut pada Selasa (31/3).
Menurutnya, langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya keunggulan udara pasukan koalisi di wilayah tersebut.
“Mengingat peningkatan keunggulan udara, kami telah berhasil memulai misi B-52 pertama. Hal ini memungkinkan kami, seperti sebelumnya, untuk terus berada di atas musuh,” ujar Caine dalam konferensi pers bersama Menhan Pete Hegseth.
Dalam penjelasannya, Caine mengungkapkan bahwa dalam 30 hari terakhir, pasukan AS telah menggempur lebih dari 11.000 target di Iran. Operasi ini dirancang untuk melumpuhkan kekuatan militer Teheran secara sistematis.
“Pasukan gabungan kami terus fokus pada tujuan militer kami saat kami secara sistematis terus mendegradasi dan menghancurkan kemampuan Iran mengancam warga sipil di negara-negara tetangganya,” tegas Caine.
Selain serangan udara, Caine juga mengeklaim bahwa militer AS telah menghancurkan lebih dari 150 kapal milik Angkatan Laut Iran.
Di sisi lain, Menhan Pete Hegseth menyatakan bahwa meskipun Iran masih memiliki kemampuan untuk meluncurkan serangan balasan, pihaknya telah siap melakukan antisipasi penuh.
“Iran mungkin masih akan menembakkan beberapa rudal, tetapi kami akan menembak jatuh rudal-rudal tersebut,” kata Hegseth, seraya menambahkan, ia melihat adanya penurunan aktivitas serangan dari pihak lawan dalam sehari terakhir.
Ia menyebutkan bahwa dalam 24 jam terakhir, jumlah rudal dan drone yang ditembakkan oleh Iran adalah yang paling sedikit selama konflik berlangsung.
Dari penambahan ratusan personil pasukan misi kuhsus seperti US Navy SEAL, Rangers (Baret Hijau), 2.000 an personil Pasukan Lintas Udara ke-82 AS dan 5.000 an marinir,agaknya AS akan melancarkan serangan darat ke wilayah Iran dalam waktu edkat ini. Ditotal, ada sekitar 50.000-an personil militer AS yang ditematkan di ejjumlah pangkalan militer di negara-negara Teluk dan Arab.
Balasan Iran
Sebagai bentuk balasan, Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Konflik ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang masif, tetapi juga mulai mengganggu pasar global serta jalur penerbangan internasional secara signifikan.
Bandara Internasional Kuwait menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak atau drone diduga berasal dari Iran, Rabu (1/4).
Otoritas penerbangan sipil setempat melaporkan, serangan itu memicu kebakaran besar tangki penyimpanan bahan bakar di area bandara.
Jubir Diten Penerbangan Sipil Kuwait Abdullah Al-Rajhi mengonfirmasi, serangan tersebut berasal dari wilayah Iran dan kelompok pendukung.
Al-Rajhi menambahkan, meskipun mengenai sasaran vital, hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa.
Negara-negara Asia sedang menghadapi krisis energi besar akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah antara AS-Israel dengan Iran.
Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 tersebut menyebabkan Iran menghentikan pelayaran kapal di Selat Hormuz yang merupakan jalur seperlima pasokan minyak mentah dunia dan sejumlah besar gas.
Kondisi tersebut menimbulkan guncangan di pasar energi global dan menyebabkan kenaikan harga bagi konsumen di seluruh dunia.
Perusahaan analitik maritim Kpler mengatakan kepada AFP, terjadi penurunan tajam pengiriman minyak mentah ke wilayah Asia, sementara itu hanya ada sedikit alternatif.
“Kami pikir Asia, untuk saat ini, akan menjadi yang paling menderita,” kata Presiden Kpler Jean Maynier kepada AFP, Selasa (31/3).
Dia menyebut, jika kondisi ini terus berlanjut, akan sangat berdampak pada kondisi pasokan energi di wilayah Asia. “Ini benar-benar buruk bagi Asia dan kami tidak optimis jika kondisi ini berlanjut,” ujarnya.
Dia mengatakan bahwa meskipun serangan terhadap Iran telah diantisipasi, tetapi durasi dan dampak perang yang terjadi di luar perkiraan.
Khususnya krisis energi yang terjadi saat ini. Hampir tidak ada minyak mentah yang tiba di Asia saat ini, dan tidak ada alternatif yang layak untuk impor energi dari Timur Tengah, sedangkan persediaan sedang menipis, kata Maynier.
Dampak penutupan Selat Hormuz secara de facto telah menyebabkan pemerintah mengambil langkah-langkah besar, seperti Filipina yang mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mengambil sejumlah kebijakan, salah satunya adalah skema Work from Home (WFH) bagi sejumlah ASN. (AFP/Anadolu/ns)




