Hari ke-38 Perang: Memperebutkan Pilot Pesawat F-15 AS

Jenis pesawat tempur multi peran F-15 E milik AS Strike Eagle buatan McDonell Douglas ( sekarang gabung Boeing) yg ditembak jatuh Iran, Jumat (3/5) ( foto: McDonnel Douglas).

HARI ke-38 perang Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel, Senin (5/4) diwarnai saling klaim, masing-masing telah berhasil mengamankan pilot pesawat Strike Eagle F-15 E milik AU AS yang jatuh di atas wilayah Iran, Jumat (3/4).

Sebelumnya, pihak Iran mengeklaim, sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh masing-masing  sebuah jet tempur   Strike Eagle  F-15 E dan Thunderbolt  A-10 milik AS dan yang sedang melancarkan misi di atas wilayahnya.

Menurut pihak AS , pilot pesawat A-10 berhasil diselamatkan , sementara operasi pencarian dan penyelamatan pilot F-15 sedang berlangsung.

Sebaliknya, Iran sebelumnya melaporkan telah berhasil mencegat dan menghancurkan pesawat-pesawat tempur AS yang tergabung dalam misi pencarian termasuk beberapa helikopter, sementara pilotnya berhasil ditawan.

Laporan dari kantor berita Tasnim juga menyebutkan warga lokal di Iran ikut membantu mencari pilot AS yang hilang setelah pesawat mereka dijatuhkan oleh unit pertahanan udara Iran.

Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi misi keberhasilan operasi penyelamatan tersebut melalui media sosialnya, Minggu (5/4) pagi waktu setempat, dan menyebutnya sebagai operasi paling berani dalam sejarah.

“Pilot dalam keadaan selamat dan sehat, “ tulis Trump dalam unggahannya, walau pun di bagian lain pernyataannya,  Trump menyebutkan, sang pilot terluka parah.

Pesawat tempur multi peran

BBC, Minggu (5/4) dalam laporannya menyebutkan, F-15E Strike Eagle merupakan pesawat tempur multi peran yang digunakan untuk misi duel di udara dan serangan udara ke darat.

Di atas udara Iran, kemungkinan besar pesawat itu terlibat dalam peran defensif yakni  memburu drone atau rudal jelajah Iran yang ditembakkan ke arah Israel atau ke fasilitas AS di Timur Tengah.

Dalam perannya sebagai pesawat serang udara ke darat, jet ini mampu menjatuhkan amunisi presisi yang dipandu laser dan GPS, serta aneka bom lainnya.

Pesawat berawak dua ini, yakni pilot serta seorang awak lagi di kursi belakang yang berrtanggung jawab untuk memilih target dan memastikan persenjataan diprogram untuk serangan yang ditargetkan.

F-15 E juga berkemampuan menyusup ke target lawan dalam jarak jauh, menghancurkan posisi darat musuh, dan meloloskan diri dari medan tempur.

Kemampuannya terbang rendah memungkinkan pilot F-15 untuk terbang dengan aman di luar endusan radar.

Pesawat jet gnerasi 4.5 ini dibandrol dengan harga sekitar 100 juta dollar AS (sekitar Rp 1,7 triliun tergantung varian dan persenjataan seta asesoris lainnya.

Didukung CIA 

Sementara itu AFP menyebutkan, dinas rahasia AS (Central Intelligence Agency -CIA)  turut berperan dalam operasi pencarian dan penyelamatan pilot F-15E.

Dikutip dari New York Times, menurut seorang pejabat senior pemerintah AS, CIA membuat rencana pengecohan dan mengulur waktu untuk menjauhkan pasukan pelacak Iran dari tempat lokasi jatuhnya pesawat.

Pejabat yang berbicara dengan syarat anonim itu membahas operasi penyelamatan dan pengumpulan intelijen yang sensitif.

Meskipun para pejabat AS awalnya tidak mengetahui keberadan pilot secara pasti, mereka meyakini, dia telah berpindah dari tempat kursi pelontarnya yang menghunjam tanah.

Mereka juga tahu pilot itu sedang terluka, sehingga menambah urgensi pencarian. CIA lalu menyebarkan berita palsu bahwa pilot telah ditemukan dan sedang meninggalkan negara itu dengan kendaraan darat.

Tujuannya,  agar pihak Iran mengalihkan upaya pencarian mereka dari tempat yang diduga sebagai lokasi pilot ke jalan raya, keluar dari wilayah Iran.

Menurut seorang pejabat senior pemerintahan, operasi CIA itu tampaknya memang menimbulkan kebingungan di antara pasukan Iran yang memburu sang pilot.

Pilot itu disebut berhasil menghindari pasukan Iran selama lebih dari 24 jam, akhirnya mendaki punggung bukit setinggi 2.100 meter dan bersembunyi di celah perbukitan.

Semua pilot pesawat tempur dan perwira persenjataan AU AS dilengkapi dengan suar dan perangkat komunikasi yang aman untuk berkoordinasi dengan tim penyelamat.

Israel buru pemimpin Iran

Dalam perkembangan lainnya, Menhan Israel, Israel Katz, mengatakan akan mengejar dan membunuh para pemimpin Iran dan menyasar sarang-sarang rudal Iran yang terus menghujani wilayahnya.

“Selama serangan rudal terus menargetkan warga sipil Israel, Iran akan membayar harga mahal yakni kerusakan dan pada akhirnya kelumpuhan infrastruktur nasionalnya dan kapasitas operasional rezim,” kata Katz dalam pernyataan video dilansir dari AFP, Minggu (5/4).

“Pada saat yang sama, kami akan terus mengejar dan menetralisir kepemimpinan teror, dan menyerang target keamanan dan aset strategis di seluruh Iran,” sambungnya.

Dalam beberapa hari terakhir, Israel dengan bantuan AS telah menyerang fasilitas baja dan petrokimia Iran, dengan tuduhan bahwa pendapatan dari sektor-sektor ini digunakan oleh Garda Revolusi untuk membiayai produksi senjata.

Sebalikya, pada hari ini waktu setempat, Iran juga meluncurkan salvo serangan rudal dan pesawat nirawak alias drone ke berbagai wlayah Israel dan Kuwait.

Serangan dilancarkan usai ultimaltum Presiden AS Donald Trump terhadap Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir atau membuka kembali Selat Hormuz dalam tempo 48 jam.

Selain itu, Trump juga mengancam akan ‘menghancurkan’ pembangkit listrik Iran, jika mereka tak segera membuka Selat Hormuz.

“Waktu hampir habis – 48 jam sebelum neraka menimpa mereka,” ancamnya.

Iran menolak ultimatum Trump dengan menyebut ancaman itu sebagai tindakan tidak berdaya dan menunjukkan kepanikan.

Iran juga terus menghujani sejumlah kota di Israel dan berbagai fasilitas AS di timur Tengah dengan rudal-rudal balistik dan drone-drone kamikazenya. (AFP/NYT/Tasnim News Agency/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here