Ultimatum Trump ke Iran: Buka Selat Hormuz atau Pembangkit Listrik Dihancurkan

JAKARTA, KBKNEWS.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran terkait penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Dalam unggahan media sosial yang penuh kata-kata kasar, Trump memperingatkan bahwa ia akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika negara tersebut tidak segera membuka kembali jalur pelayaran tersebut sebelum tenggat waktu yang ditetapkan.

Ancaman ini muncul di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari sebulan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Situasi semakin memanas setelah Iran menghambat lalu lintas di Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran akan inflasi di berbagai negara.

Meski demikian, Trump menyebut masih ada “peluang bagus” untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran.

Pemerintah Iran menanggapi ancaman tersebut dengan nada mengejek.

Seorang juru bicara kepresidenan Iran menyebut pernyataan Trump sebagai tindakan “putus asa, gugup, dan tidak masuk akal”. Iran juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali jika sebagian biaya transit digunakan untuk mengganti kerugian akibat perang.

Di lapangan, ketegangan militer terus meningkat. Serangan udara AS dan Israel dilaporkan menghantam sejumlah infrastruktur penting di Iran, termasuk fasilitas petrokimia dan bandara internasional.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan drone dan rudal ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS.

Salah satu serangan rudal Iran menghantam sebuah bangunan permukiman di Haifa, Israel, yang menyebabkan empat orang terluka.

Sementara itu, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain juga melaporkan kerusakan pada fasilitas energi akibat serangan atau puing rudal.

Di tengah eskalasi konflik ini, operasi militer juga dilakukan untuk menyelamatkan awak pesawat tempur AS yang ditembak jatuh di wilayah Iran.

Salah satu awak berhasil diselamatkan dalam operasi kompleks di wilayah pegunungan, sementara pilotnya telah lebih dulu ditemukan.

Trump beberapa kali menunda tenggat waktu pembukaan Selat Hormuz, namun kembali memperpanjangnya hingga Selasa malam waktu setempat.

Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan tindakan lebih ekstrem jika kesepakatan tidak segera tercapai.

Ketegangan yang terus meningkat ini membuat dunia khawatir akan dampak lebih luas, terutama terhadap stabilitas energi global dan potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here