Hijab, Bukan Lagi Sekedar Penutup Aurat

Muslim Fashion Festival / dok. Panitia

Suasana Ahad malam itu sangat riuh. Ratusan orang, mayoritas perempuan hilir mudik di antara stand-stand berpartisi. Banyak di antara mereka yang menenteng tas jinjing dan plastik kemasan khusus belanja.

Di sudut lainnya, seorang wanita berparas ayu berjalan lenggak-lenggok di atas pentas lorong (catwalk). Wanita itu mengenakan pakaian warna-warni. Beda dengan peragawati biasa, ia juga menutup kepalanya dengan jilbab, lengkap dengan beberapa ornamen pelengkap, terlihat anggun. Wanita lainnya muncul secara bergiliran dari belakang panggung dan melakukan hal yang sama dengan perempuan pertama.

Ahad 29 Mei lalu adalah hari terakhir gelaran Muslim Fashion Festival Indonesia (MUFFEST). Perhelatan ini digelar selama 1 pekan pada 25-29 Mei. MUFFEST merupakan ajang fashion muslim taraf internasional yang ditujukan untuk mengangkat keragaman gaya busana muslim kreasi desainer dan label Indonesia.

Ajang di digelar untuk meningkatkan kompetensi produk fashion muslim Indonesia agar dapat bersaing di pasar global. Berbagai produk dari desaigner terkemuka di pajang dan di jual disana. Ajang ini tidak hanya dihadiri dari designer lokal, tetapi juga dari mancanegara seperti desaigner perwakilan Malaysia Fashion Week, perancang Turki, Italia, Rusia, Uni Emirat Arab, dan Bangladesh yang bernaung dalam Islamic Fashion and Desaign Council (IFDC).

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, tak ayal menjadikan Indonesia sebagai pusat mode Islam dunia. Even ini juga menujukkan pelaku mode lokal dan dunia mulai melihat peluang bisnis yang menjanjikan dari sektor busana muslim.

Wijaya Surya, seorang CEO perusahaan tekstil besar di Indonesia mengakui, potensi hijab dan busana Muslim di Indonesia sangat besar. “Menyikapi peluang yang ada, muncul ide untuk menyatukan potensi desainer dengan perusahaan tekstil yang selama ini kerap jalan sendiri-sendiri,” ujarnya dalam siaran pers-nya yang dibagikan kepada wartawan.

Wijaya mengatakan sejak berlakunnya ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan dibentuknya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun ini, produk fashion dari negara lain leluasa masuk ke pasar domestik. Begitu pula sebaliknya, produk buatan dalam negeri punya peluang untuk merambah pasar global. Untuk itulah, produk fashion muslim Indonesia dituntut untuk semakin siap berkompetensi dengan produk dari mancanegara. Hal itu juga sejalan dengan misi dari tim Indonesia Fashion Chamber atau dikenal dengan IFC yang ingin menjadikan Indonesia sebaga pusat pemasaran busana muslim dunia.

Menurut data The State of the Global Islamic Economy Report 2015/2016, pasar pakaian muslim mencapai US$230 miliar di tahun 2014 atau setara Rp3.000 triliun. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga US$327 miliar di tahun 2020. Jika dibandingkan dengan pasar pakaian global, pakaian muslim saat ini berada di urutan ketiga setelah Amerika Serikat (senilai US$400 miliar USD) dan China (US$310 miliar). Saat ini, Indonesia menjadi pangsa pasar pakaian Muslim terbesar ke-5 di dunia (US$12,69 miliar), setelah Turki (US$24,84 miliar), Uni Emirat Arab (US$18,24 miliar) Nigeria (US$14,99 miliar), dan Saudi Arabia (US$14,73 miliar).

***

Jilbab: Identitas dan Eksistensi

Perkembangan pesat industri fashion Muslim di Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan yang terjadi beberapa dekade silam. Di Indonesia, jilbab pernah menjadi bagian dari politik identitas negara. Pada tahun 1970-1980an jilbab pernah menjadi sesuatu yang haram keberadaannya di ruang publik, terutama di sekolah, pabrik, dan instansi pemerintah. Pemerintah Orde Baru pernah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82 yang mengatur bentuk dan pemakaian seragam bagi siswa di sekolah-sekolah negeri.

Budiati dalam Jurnal Sosiologi Islam mengurai, pada masa itu muncul kasus-kasus siswi berjlbab di sekolah negeri. Mereka harus memilih tetap bersekolah di sana tanpa berjilbab atau terus berjilbab dengan konsekuensi meninggalkan sekolah yang bersangkutan. Di beberapa instansi pemerintah, perusahaan dan sejenisnya pun cenderung menolak mempekerjakan perempuan berjilbab. Alasannya sangat klasik, yakni untuk memperlancar komunikasi dan proses produksi.

Kondisi ini kemudian berubah di tahun 1990-an, pelarangan berjilbab siswi sekolah negeri dicabut. Pada masa itu, istilah jilbaber (pemakai jilbab) populer dan menjadi trend tersendiri. Ketika gaung kebebasan untuk berekspresi mulai dibuka maka banyak orang mulai mengekspresikan kebutuhan yang selama ini terkekang.

Berselang dua dekade sejak izin pemakaian jilbab di sekolah-sekolah dikeluarkan pada tahun 1990, jilbab menjamur di mana-mana. Tren jilbab merebak di kalangan perempuan-perempuan muda, mulai dari pelajar, karyawan, pegawai negeri, para eksekutif, hingga artis. Model, warna, dan bahan kain jilbab yang dikenakan pun beraneka ragam. Selain itu, gejala yang tak kalah menarik adalah munculnya komunitas-komunitas Jilbabers atau Hijabers yang beranggotakan para remaja berjilbab.

 

***

Penggunaan jilbab saat ini lebih dari sekedar menunaikan kewajiban “menutup aurat”, sebagaimana diperintahkan agama. Alasan modis dan gaya juga menjadi pertimbangan. Fasti, salah satu pengunjung MUFFEST misalnya, mengaku tertarik menggunakan jilbab karena terlihat lebih anggun dan modis. “Sekarang jilbab lebih modis-modis, banyak pilihan dan desainnya modern. Tidak seperti dulu yang itu-itu saja,” katanya.

 

Malcolm Barnard, akademisi dari School of Art and Design at the University of Derby dalam bukunya “Fashion as Communication” menuturkan, busana muslimah menjadi trendi karena penggunanya merasa akan mencapai prestise tertentu. Menurutnya, jilbab mampu mengkomunikasikan hasrat menjadi orang modern yang saleh dan sekaligus menjadi muslim yang modern.

Jilbab yang “lebih modern” ini diakui Indadari, pemilik brand busana muslim by Indadari lebih diminati wanita Indonesia. Istri dari komedian Caesar ini mengatakan, hampir 80% yang membeli produk di butiknya menanyakan model yang modern dan trendi. “Mereka rata-rata menginginkan jilbab yang modern dan trendi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Bisa dikatakan hampir 80% muslimah yang membeli produk busana muslim berkata begitu,” ujarnya.

Di sisi lain, trend jilbab belakangan ini juga menjadi berkah untuk banyak orang. Jilbab juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Anita misalnya, mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah ini mampu melihat peluang yang ada. Setahun yang lalu ia memutuskan untuk merintis usaha jilbab dengan brand Qadasha. Salah satu alasannya merintis usaha ini adalah karena ia melihat tingkat religiutas masyarakat semakin tinggi. Dan itu bernilai ekonomi tinggi.

“Saya memutuskan membuka usaha jilbab karena di Indonesia pangsanya sekarang cukup besar karena tingkat religiutas masyarakat kini semakin meningkat,” ujarnya. Dari keuntungan penjualannya kini ia bisa menambah uang jajan dan membantu orang tuanya membayar uang kuliah.

Tak salah sejumlah pengamat menilai, Indonesia mampu bertahan dari krisis yang terjadi delapan tujuh tahun belakangan karena keberadaan kelas menengah, termasuk muslim perkotaan. Merekalah salah satu kelompok yang membuat ekonomi di negeri ini terus bergerak. [Igman Yuda Pratama]

Advertisement