Hikmah Haji dan Umrah dalam Kehidupan

Ilustrasi. (Foto: TEA OOR/Shutterstock)

JAKARTA – Ibadah haji dan umrah memerlukan biaya dan fisik yang cukup besar. Haji diwajibkan bagi umat Islam yang mampu melaksanakannya. Jika kita mengkaji hikmah dari ibadah ini, kita akan menemukan beberapa poin penting:

  • Persiapan Maksimal

Karena memerlukan biaya yang signifikan, orang yang ingin haji harus mempersiapkan dengan baik. Ada yang menabung sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun, dan ada pula yang harus mengalokasikan dana khusus untuk haji.

Menabung untuk haji menunjukkan bahwa uang tidak hanya digunakan untuk kepentingan dunia seperti membeli rumah atau mobil, tetapi juga untuk tujuan ibadah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT.

  • Ibadah Haji sebagai Ibadah Ruhiyah

Haji bukanlah perjalanan untuk bersenang-senang, tetapi merupakan perjalanan spiritual untuk meningkatkan iman dan ruhiyah.

Meskipun biaya perjalanan tidak murah, ibadah ini tetap dilakukan, berbeda dengan perjalanan ke luar negeri lainnya yang mungkin lebih mahal namun tidak memiliki nilai spiritual yang sama.

  • Haji Menghapuskan Jabatan dan Strata Sosial

Saat wukuf, tawaf, sai, melempar jumrah, dan ibadah lainnya, semua jemaah haji berada dalam posisi yang sama di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan antara presiden, jenderal, miliarder, pedagang keliling, kiai, atau orang awam.

Semua laki-laki memakai pakaian ihram tanpa seragam identitas. Mereka yang biasanya mengenakan seragam bergengsi atau pakaian formal harus berganti pakaian ihram, menandakan bahwa di hadapan Allah, semua sama.

  • Totalitas dalam Ibadah

Meskipun memakai wewangian dan berhubungan suami istri adalah hal yang halal, tetapi menjadi haram saat ihram. Ini menunjukkan bahwa haji dan umrah menuntut totalitas dalam beribadah, meninggalkan semua syahwat keduniaan.

Saat ihram, yang ada dalam benak jemaah hanyalah Allah. Orang yang berihram seakan-akan tidak memiliki kekasih kecuali Allah saja.

Hikmah-hikmah di atas hanya sebagian dari banyaknya pelajaran yang dapat kita ambil dari ibadah haji dan umrah.

Beruntunglah mereka yang diberi kemampuan oleh Allah untuk melaksanakan ibadah yang begitu indah dan mengharukan ini.

Semoga para jemaah memperoleh haji mabrur dan mendapatkan pahala surga, sebagaimana yang dijanjikan dalam hadis.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Umrah demi ‘umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari)

Oh, iya, haji mabrur itu apa, ya? Para ulama banyak memaknainya:

  1. Haji yang tidak ada sedikitpun bercampur kemaksiatan. Di antaranya adalah ongkos hajinya berasal dari uang halal, bukan uang hasil maksiat.
  2. Haji yang diterima oleh Allah. Maksudnya adalah haji yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan, ketaatan, dan sempurna rukun-rukunnya.
  3. Haji yang menjadikan orang semakin baik amalnya setelah pulang kembali ke negerinya masing-masing. Setelah haji ketaatannya kepada Allah semakin meningkat. Bukan hanya semakin rajin ke masjid, tapi juga semakin baik akhlaknya kepada siapa saja. Bukan Pak Haji yang sombong, arogan, dan pelit sama orang susah.
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here