JAKARTA – Mengapa pada saat kita khawatir akan kekurangan harta dan takut menjadi miskin malah menjadi waktu yang baik untuk memberikan sedekah? Ya, tentu saja karena Rasulullah sendiri yang menyatakan hal tersebut.
“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya? Beliau menjawab, ‘Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan’.” (Muttafaqun ‘alaih. HR Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032)
Jelaslah bahwa Rasulullah mendorong kita untuk tidak menunda-nunda memberikan sedekah meskipun kita merasa cemas akan kekurangan. Karena, ada hikmah besar di babaliknya. Berikut ini penjelasannya:
- Bersedekah Memberi Perasaan ‘Kaya’ dan Bahagia, Baik untuk Kejiwaan
Menurut penelitian Elizabeth Dunn, seorang pakar psikologi dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, semakin besar jumlah uang yang diberikan seseorang untuk membantu sesama, tingkat kebahagiaan si pemberi akan semakin meningkat.
Para peneliti percaya bahwa ketika kita melakukan tindakan altruistik, otak akan melepaskan hormon endorfin yang membuat kita merasa bahagia, menunjukkan dampak positif dari sikap dermawan terhadap kesejahteraan kita.
- Bersedekah di saat Kekurangan Membuktikan Kesungguhan Iman
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa seseorang cenderung menjadi pelit saat dalam keadaan sehat. Jika pada saat tersebut dia memutuskan untuk memberi sedekah dengan ikhlas, maka hal tersebut membuktikan kesungguhan niatnya dan besar pahala yang akan diperolehnya.
Namun, berbeda dengan orang yang memberi sedekah menjelang akhir hayat atau ketika tidak ada lagi harapan hidup, sedekah pada waktu itu masih terasa kurang berarti dibandingkan saat dalam keadaan sehat. (Syarh Shahih Muslim, 7: 112)
- Menunjukkan Tingkat Ketawakalan yang Tinggi
Meskipun mengetahui bahwa pengeluarannya melebihi pendapatannya, namun tetap bersedia untuk bersedekah, hal ini menunjukkan tingginya tingkat ketawakalan seseorang kepada Allah.





