
Jakarta, KBKNews.id — Pergerakan pasar saham domestik kembali tertekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Kamis (6/2/2026) di zona merah. Kondisi ini akibat terseret pelemahan bursa global meski data ekonomi nasional menunjukkan kinerja positif.
IHSG ditutup turun 42,84 poin atau 0,53 persen ke level 8.103,88. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar juga melemah 0,41 persen ke posisi 829,35.
Sentimen Global Menekan, Data Domestik Kurang Mengangkat Pasar
Ekonom keuangan dan praktisi pasar modal Hans Kwee menilai tekanan terhadap IHSG lebih dipicu oleh kondisi eksternal, terutama koreksi yang terjadi di pasar saham global.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen tentu menjadi kabar baik. Namun saat ini pasar lebih dipengaruhi oleh koreksi global,” ujar Hans saat dihubungi di Jakarta seperti dilansir dari Tempo.
Ia menambahkan, sentimen terkait kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia sudah relatif netral dan tidak lagi menjadi beban tambahan bagi pergerakan indeks.
Saham Teknologi Jadi Titik Lemah
Hans menjelaskan, pelemahan IHSG juga tak lepas dari aksi rotasi investasi global yang berdampak langsung pada saham-saham teknologi.
“Ada rotasi global dan tekanan pada saham teknologi. Kondisi itu ikut memengaruhi pasar saham Indonesia,” katanya.
Di tingkat global, investor cenderung mengurangi eksposur pada saham teknologi seiring kekhawatiran atas valuasi yang dinilai terlalu tinggi, besarnya belanja kecerdasan buatan (AI), serta potensi gangguan terhadap model bisnis perangkat lunak konvensional.
IHSG Berbalik Arah sejak Sesi Pertama
Secara intraday, IHSG sempat dibuka di zona hijau. Namun tekanan jual membuat indeks berbalik arah dan bergerak di wilayah negatif sejak sesi pertama perdagangan.
Memasuki sesi kedua, IHSG tetap bertahan di zona merah hingga penutupan bursa.
Data PDB Positif tapi Tak Cukup Menahan Tekanan
Di sisi fundamental, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen (year on year). Angka ini melampaui ekspektasi pasar dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,04 persen.
Sementara itu, sepanjang tahun 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen, sedikit di bawah target pemerintah yang dipatok sebesar 5,2 persen.
Meski demikian, data positif tersebut belum mampu sepenuhnya meredam tekanan eksternal yang membayangi pasar saham.
Pergerakan Sektoral Mayoritas Melemah
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya dua sektor yang berhasil mencatatkan penguatan, yaitu barang konsumen primer naik 1,11 persen dan keuangan menguat tipis 0,05 persen.
Sementara itu, sembilan sektor lainnya bergerak melemah, dengan tekanan terdalam terjadi pada industri turun 1,74 persen, infrastruktur melemah 1,25 persen dan energi terkoreksi 1,02 persen.
Saham Top Gainers dan Losers
Pada perdagangan hari ini, saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar antara lain CTTH, NZIA, KOCI, PPRE dan FITT. Sebaliknya, saham-saham dengan penurunan paling dalam meliputi MINA, MBTO, PADI, LPAD dan TRUE.
Aktivitas Perdagangan Masih Ramai
Dari sisi transaksi, frekuensi perdagangan tercatat mencapai 2,54 juta kali dengan volume 35,99 miliar saham. Nilai transaksi saham mencapai Rp20,06 triliun. Secara keseluruhan 299 saham menguat, 349 saham melemah dan 172 saham stagnan.
Bursa Asia Bergerak Variatif
Pelemahan IHSG sejalan dengan pergerakan bursa saham kawasan Asia yang cenderung berfluktuasi. Indeks Nikkei Jepang dan Shanghai Composite ditutup melemah. Sementara Hang Seng Hong Kong dan Straits Times Singapura masih mampu mencatatkan penguatan terbatas.




