
BANGSA Indonesia kehilangan putera terbaiknya, Presiden ke-3 Prof. Dr.Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie yang telah mengawal negara ini menuju transisi ke era demokrasi dan membawanya agar bisa bersanding sejajar dengan negara-negara maju.
BJ Habibie yang selalu tampil super energik, bersemangat dan inspiring jika berbincang mengenai nasib negara dan bangsa, langkahnya terhenti karena dipanggil sang Khalik, di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Rabu pukul 18.05 WIB (11/9) setelah sekitar seminggu dirawat akibat komplikasi penyakit yang menggerogoti raganya.
Putera kelahiran Pare-pare, 25 Juni 1936 itu selain memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata, juga “gila kerja”, seolah-olah tak rela sekejap pun sia-sia, tidak dimanfaatkan bagi kemaslahatan bangsa dan negara.
Di dunia iptek, Ia dijuluki “Mr. Crack” dari hasil temuannya berupa teori propagasi retakan (crack propagation theory) pada pesawat terbang untuk meningkatkan keamanan dan menghemat bahan bakar.
Selain teori yang memungkinkan penghitungan keretakan sampai sekecil atom yang diciptakannya pada usia 32 tahun itu, Habibie juga menelurkan berbagai karya teknologi pesawat terbang sehingga dikenal sebagai teori, faktor atau metode Habibie.
Keilmuwanannya terkait teknologi dirgantara mengantarkan Habibie menjadi salah satu pimpinan industri pesawat terbang Jerman Messerschmitt-Bolkow-Blohm (MBB) dan kemudian mengembangkan pesawat CN-235, N-250 dan R80 di tanah air. Ketiga jenis pesawat yang didisain terutama untuk angkutan penumpang yang menghubungkan Indonesia dari pulau ke pulau, juga terdiri dari beberapa varian kegunaan seperti patroli maritim, evakuasi medis dan pengintai.
Terobosan Kebijakan
Di ranah politik, waktu singkat sebagai Presiden RI ke-3 sebelum pertanggungan jawabnya ditolak MPR, Habibie juga mewariskan sejumlah legasi berupa kebijakan-kebijakan yang pada era sebelumnya di bawah rezim otoriter Presiden Suharto dianggap tabu.
UU Nomor 2 tentang Parpol dan UU Nomor 3 tentang Pemilu pada tahun sama (1999) yang diterbitkan di bawah kepemimpinan Presiden Habibie mendorong lahirnya 48 parpol dan pintu masuk bagi Indonesia melangkah ke alam demokrasi.
Larangan sensor dan pembredelan yang diatur UU No. 40, 1999 tentang Pers juga menjadi salah satu keputusan fenomenal di era Habibie yang kemudian mendorong tumbuh subur media dan penyiaran swasta.
Pada tahun yang sama, lahir UU No. 8, 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang juga memuat pasal-pasal peningkatan kualitas produk.
Sedangkan UU No. 22, 1999 tentang desentralisasi didisain untuk mendorong pemerataan pembangunan. Presiden BJ Habibie juga membebaskan sejumlah tahanan politik dan memberikan kesempatan luas pada publik mengritik pemerintah.
Masa singkat kepemimpinan Habibie (21 Mei ’98 – 20 Okt. 1999) ditandai keberhasilan menekan inflasi yang sampai 80 persen pada awal jabatannya menjadi dua persen dalam kurun satu tahun.
Nilai tukar rupiah yang anjlok ratusan persen hingga bertengger sampai lebih Rp 16 ribu per dolar AS di masa krisis sebelumnya juga berhasil diatasi Habibie hingga pada level yang wajar yakni Rp 6.500/dolar AS.
Hal yang memicu kontroversi keputusan Habibie hanyalah lepasnya Provinsi Timor Timur dari pangkuan NKRI akibat kekalahan dalam referendum yang digelar pemerintah RI.
Dunia sendiri terkejut menyaksikan langkah maju Presiden Habibie untuk menggelar referendum di Timtim, padahal semula mereka menganggap, pemberian otonomi khusus saja sudah dianggap cukup saat itu.
Di benak Habibie, persoalan Timor Timur – wilayah bekas koloni Portugal yang menyatakan berintegrasi pada 1975 – berlarut-larut dan memojokkan RI di forum-forum internasional termasuk di PBB. Negara-negara yang menghendaki agar isu Timtim diagendakan lagi untuk dibahas di forum PBB semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Selain menjadi persoalan paling melelahkan di kancah diplomasi RI jika tidak segera dibereskan seperti dilukiskan oleh Menlu saat itu Ali Alatas, laporan intelijen juga menyebutkan (kemudian terbukti keliru-red), mayoritas rakyat Timtim berpihak pada Indonesia.
Indonesia yang menerjunkan ribuan pasukannya untuk mempertahankan integrasi Timtim sejak 7 Desember 1975 juga harus membayar mahal, baik dari jumlah pasukan yang gugur maupun biaya perang yang harus dikeluarkan. Sekitar 200 ribu penduduk Timtim atau sepertiganya diperkirakan tewas dalam kurun waktu antara 1976 hingga 1999 baik akibat konflik langsung, kelaparan dan penyakit.
Sebagai rasa terima kasih, referendum yang digelar pemerintah RI di bawah Presiden Habibie, mengantarkan Timor Leste meraih kemerdekaannya pada 20 Mei 2002, sehingga Habibie pun diabadikan sebagai nama jembatan baru di kota Dili.
Romantisme dan Cinta
Sosok Habibie tidak hanya perlu diteladani di pentas politik dan kenegaraan, tapi ia juga dikagumi sebagai pribadi yang penuh romantisme dan kehangatan dan cinta.
Kesetiaan dan kasih sayang yang ditunjukkan pada isterinya, Ny. Hasri Ainun Bestari dan orang-orang dari berbagai kalangan yang dikenalnya juga merupakan kelebihan Habibie.
Tidak berlebihan rasanya, Presiden Jokowi yang menjadi inspektur upacara pada pemakaman BJ Habibie menilai almarhum sebagai negarawan sejati, inspirator dan ilmuwan yang meyakini, tanpa cinta, kecerdasan berbahaya.
“Ilmu, Iman dan taqwa harus menjadi satu, “ ujarnya.“
Jokowi menyebut BJ Habibie adalah sosok yang visioner, memikirkan negara dan bangsa 50 sampai 100 tahun ke depan, tidak berfikir untuk dirinya saja.
Sementara putera sulung almarhum, Ilham Akbar menilai, selain pejuang, BJ Habibie telah memberikan contoh cinta sejatinya pada seorang istri, Ibu Ainun dan keluarga yang luar biasa, juga cinta pada keluarga, negara dan bangsa, cinta seluas-luasnya.
Ilham juga meminta agar generasi muda meniru kerja keras yang diteladankan oleh BJ Habibie, dan terus belajar dan menyampaikan ilmu dan pengetahuannya di berbagai forum, baik di dalam maupun LN.
BJ Habibie telah pergi. Semoga dambaannya terwujud, bertemu sang istri tecinta di tempat terbaik di sisi-Nya. Tinggal bangsa ini, mampu kah melanjutkan visi almarhum yang agaknya masih relevan dan pas di era now untuk menyongsong revolusi industri 4.0.




