JAKARTA, KBKNEWS.id – Indonesia turun peringkat menjadi posisi ke 21 sebagai negara paling dermawan di dunia, berdasarkan Laporan World Giving Report (WGR) 2025.
Posisi Indonesia yang sebelumnya berada di peringkat satu digeser Nigeria, dari 101 negara yang telah disurvei. Setelah Nigeria, disusul Mesir dan Cina di peringkat dua dan tiga.
Menanggapi turunnya posisi Indonesia yang terbilang jauh tersebut, Hamid Abidin, peneliti filantropi di Public Interest Research and Advocacy Center (PIRAC) menilainya sebagai hal yang biasa.
Menurutnya, penelitian ini menggunakan metodologi yang berbeda, yang lebih terperinci dan inklusif dengan memasukkan aspek nilai donasi terhadap pendapatan serta keragaman jalur pemberian.
“Pendekatan ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang kedermawanan global dibanding World Giving Index (WGI) yang mengandalkan frekuensi aktivitas memberi. Perubahan ini juga berpengaruh terhadap rangking negara-negara yang sebelumnya menduduki posisi atas di WGI,” katanya melalui keterangan di Jakarta, Sabtu.
Meski tetap menunjukkan kedermawanan tinggi secara global, Hamid menilai Indonesia tidak lagi menduduki posisi pertama dan tergeser oleh negara-negara dengan proporsi pendapatan donasi yang lebih besar, seperti Nigeria, Mesir dan China.
Ia menekankan pentingnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amal atau filantropi sebagai faktor kunci dalam membangun budaya kedermawanan yang kuat.
Menurutnya, tingkat kepercayaan terhadap lembaga amal dan organisasi sosial sangat berkorelasi dengan budaya menyumbang masyarakat.
“Tren ini juga tergambar dalam WGR 2025, yang menunjukkan bahwa negara-negara dengan kepercayaan tinggi pada organisasi amal/filantropi (Afrika dan Asia) menunjukkan tingkat partisipasi dan donasi yang lebih tinggi,” ujarnya.
Hamid mengingatkan urgensi kebijakan dan dukungan pemerintah dalam membangun ekosistem filantropi yang berdampak pada meningkatnya keterlibatan dan jumlah donasi masyarakat.
“Secara global, Indonesia menjadi contoh inspiratif bagaimana negara berkembang dapat menggabungkan tradisi sosial dan modernisasi dalam meningkatkan kedermawanan yang berkelanjutan, sekaligus menunjukkan bahwa filantropi memainkan peran vital dalam pembangunan sosial di tengah tantangan ekonomi dan perubahan sosial yang dinamis,” tutur Hamid.





