
Jakarta, KBKNews.id – PT Multi Garam Utama Tbk (FOLK) kedatangan investor baru dengan profil kuat di pasar modal. Investor asal Jambi, Djoni, resmi tercatat sebagai pemegang saham dengan kepemilikan sebesar 5,09 persen atau setara 201 juta lembar saham.
Informasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan struktur kepemilikan saham efektif berlaku per 9 Januari 2026, setelah Djoni melakukan tambahan akumulasi saham.
“Perubahan kepemilikan sebanyak 7.541.000 saham,” kata Direktur PT Ficomindo Buana Registrar selaku biro administrasi efek FOLK, Jimmi Maulana Sidik dalam keterangan keterbukaan informasi yang dirilis pada Kamis (8/1/2025).
Sebelumnya, Djoni tercatat telah menggenggam 193,45 juta saham atau sekitar 4,90 persen. Dengan penambahan tersebut, kepemilikannya kini menembus ambang 5 persen yang lazim dipandang sebagai kepemilikan strategis.
Masuknya Djoni menambah jajaran pemegang saham utama FOLK. Saat ini, struktur kepemilikan perseroan terdiri dari PT Garam Ventura Indonesia dengan porsi 42,19 persen, PT Sumber Garam Pratama sebesar 24,57 persen, dan Djoni sebesar 5,09 persen.
Aksi Akumulasi Dinilai Perkuat Fondasi Bisnis
Pelaku pasar menilai aksi akumulasi saham oleh Djoni sejalan dengan penguatan struktur permodalan dan konsolidasi bisnis FOLK. Djoni dikenal sebagai investor dengan pendekatan berbasis fundamental serta orientasi jangka panjang.
Nama Djoni cukup dikenal di kalangan bisnis nasional. Ia merupakan pengusaha properti yang memulai usahanya dari Jambi sebelum melakukan ekspansi lintas daerah. Portofolio usahanya mencakup pengembangan kawasan residensial hingga proyek komersial berskala menengah dan besar.
Di pasar modal, Djoni tercatat aktif sebagai investor dengan rekam jejak kepemilikan signifikan di sejumlah emiten, khususnya sektor teknologi, telekomunikasi, dan consumer. Beberapa saham yang pernah dan masih masuk dalam portofolionya antara lain WIFI dan TRUE, yang sempat menjadi sorotan pasar saat memasuki fase transformasi bisnis.
Pendekatan tersebut dinilai konsisten dengan langkahnya masuk ke FOLK, emiten yang bergerak di bidang investment holding. Sejumlah analis melihat aksi ini bukan hanya mencerminkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang perseroan, tetapi juga membuka peluang masuknya investor strategis lain ke dalam struktur kepemilikan FOLK.
Private Placement dan Lonjakan Saham FOLK
Masuknya Djoni terjadi tidak lama setelah FOLK menuntaskan aksi korporasi Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Aksi tersebut telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 Desember 2025 dan dieksekusi pada awal 2026.
Dalam keterbukaan informasi sebelumnya, manajemen FOLK menetapkan harga pelaksanaan private placement sebesar Rp398 per saham. Dari aksi ini, perseroan berpotensi menghimpun dana sekitar Rp56,99 miliar.
Dana hasil private placement direncanakan digunakan untuk pengembangan usaha melalui investasi yang dinilai mampu memberikan nilai tambah, serta untuk kebutuhan modal kerja dan keperluan umum perusahaan.
Di pasar sekunder, saham FOLK menunjukkan performa yang sangat agresif. Saat berita ini disusun, saham FOLK berada di level Rp910. Dalam tiga bulan terakhir, harga sahamnya tercatat melonjak sekitar 337,50 persen. Secara tahunan, saham ini telah melesat sekitar 1.720 persen dari posisi Rp50 setahun lalu.
Dengan masuknya Djoni sebagai pemegang saham signifikan, pelaku pasar menilai FOLK berpotensi memasuki fase baru dalam penguatan struktur kepemilikan dan strategi pertumbuhan jangka panjang, seiring meningkatnya minat investor terhadap emiten tersebut.




