
AMERIKA Serikat (AS) dilaporkan mengerahkan jet tempur siluman F-35 Lightning II dan sejumlah pesawat tanker ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar di tengah eskalasi ketegangan dengan Iran.
Sebagai markas besar terdepan Komando Pusat AS atau CENTCOM, Pangkalan Udara Al Udeid sangat penting untuk memproyeksikan kekuatan udara AS.
Kehadiran kekuatanmiliter AS yang besar di sana, seperti diungkapkan laman WION (13/1) akan memperkuat kemampuan pencegahan dan memperluas jangkauan AS di seluruh Timur Tengah.
Pemerintah AS sendiri sudah meminta warganya keluar dari Iran melalui sejumlah pintu keluar melalui negara tetangganya seperti Armenia, Azerbaijan, Turki atau Turmenistan.
Diberitakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan opsi serangan udara ke Iran, di tengah meningkatnya kekerasan terhadap para demonstran di negara tersebut.
Jubir Gedung Putih Karoline Leavitt, Senin (12/1) menyatakan, serangan udara menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk menghentikan aksi penindasan terhadap warga sipil.
“Satu hal yang sangat dikuasai Presiden Trump adalah
selalu mempertimbangkan semua opsi yang ada, dan serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak opsi yang tersedia bagi panglima tertinggi,” kata Leavitt kepada wartawan di luar Gedung Putih, dikutip AFP.
Pendekatan diplomatik
Meski demikian, Leavitt menegaskan bahwa pendekatan diplomatik tetap menjadi prioritas utama Trump.
“Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama bagi presiden,” ujarnya. Leavitt juga mengungkapkan, terdapat perbedaan sikap antara pernyataan publik dan komunikasi internal Pemerintah Iran.
“Apa yang anda dengar di publik dari rezim Iran sangat berbeda dari pesan-pesan yang diterima pemerintah secara pribadi, dan saya pikir presiden tertarik untuk mengeksplorasi pesan-pesan tersebut,” ucap Leavitt.
Sebaliknya, Pemerintah Iran menuding AS sedang mempersiapkan dalih dan alasan untuk melancarkan serangan di Iran.
Tudingan tersebut disampaikan Misi Iran di PBB melalui akun media sosial X pada Selasa. Misi Iran untuk PBB menyebut, AS berambisi ingin menggulingkan rezim di Iran melalui berbagai cara dan skenario.
“Dengan sanksi, ancaman, kerusuhan yang direkayasa, dan kekacauan sebagai modus operandi untuk menciptakan dalih bagi intervensi militer,” tulis misi tersebut, sebagaimana dilansir AFP.
Bakal temui kegagalan
Sebaliknya, misi Iran di PBB menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam. Lembaga itu juga menyebutkan semua strategi serta skenario Washington di Iran akan gagal.
Sementara aksi unjukrasa yang berlangsung di seluruhnya 31 provinsi di Iran diwarnai aksi-aksi anarkis, perusakan sarana dan parsarana publik, sebaliknya akis tembak langsung oleh aparat pemerintah.
Data terbaru kelompok HAM), HRANA menyebutkan, sedikitnya 2.571 orang tewas, yang sebagian besar disebut akibat kekerasan oleh otoritas Iran terhadap demonstran.
HRANA yang berbasis di AS seperti dilansir Reuters, Rabu (14/1), pihaknya telah memverifikasi kematian 2.403 demonstran, 147 individu yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, 12 anak berusia di bawah 18 tahun, dan sembilan warga sipil non-demonstran.
Rezim Iran sendiri tidak pernah mengumumkan jumlah akorban resmi, sementara terkait demo-demo yang makin tak terkendali, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebutkan mereka sebagai antek-antek AS yang berdemo untuk menyenangkan Presiden Trump.
Gelombang unjuk rasa mengguncang Iran sejak 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi.
Makin memburuknya situasi di Iran akibat gelombang aksi-aksi unjuk rasa agaknya memicu spekulasi, tumbangnya rezim yang berkuasa saat ini tinggal menunggu hari. (AFP/Reuters/WIONKOmpas.com/ns)




