
SEJUMLAH kota di Iran dilanda demo setelah tujuh orang tewas dalam aksi-aksi massa yang dimulai sejak Minggu lalu (28/12/2025).
CNN mengutip media int’l melaporkan, aksi demo pecah di di ibu kota Teheran, Mashhad, Isfahan, Lorestan, Khuzestan, Azna, dan Qom. Demo diikuti berbagai elemen masyarakat, mulai dari pedagang hingga pelajar. Aksi anjuk rasa dilaporkan berlangsung di 21 dari 31 provinsi di Iran.
Aksi terjadi setelah para pedagang memprotes anjloknya kurs rial terhadap dolar AS yang pada Minggu mencapai level terendah sepanjang masa, yakni 1,42 juta per dolar.
Pedagang mengeluh sulit bersaing di pasar, sementara para pejabat dinilai tak acuh dengan kondisi tersebut.
Seorang pedagang mengeluhkan anjloknua nilai tukar rial pada harian Eternad yang dikuti AFP. “Mereka bahkan tidak menindaklanjuti (melambungnya) nilai tukar dolar AS berdampak bagi kehidupan kami,” ujarnya.
“Kami terpaksa memprotes. Dengan kurs dolar yang (tinggi-red) seperti ini, kami bahkan tidak bisa menjual casing ponsel, sementara para pejabat sama sekali tidak peduli bahwa penghidupan kami bergantung penjualan ponsel dan aksesorisnya,” kata pedagang yang tak ingin diungkap identitasnya.
Ekonomi terpuruk
Selama berpuluh-puluh tahun, perekonomian di Iran terperosok gegara sanksi negara-negara Barat. Kondisi ini kian diperparah setelah PBB memberlakukan kembali sanksi int’l akibat program nuklir Iran.
Pada Desember, inflasi di Iran tercatat mencapai 52 persen ‘year-on-year’. Sejumlah ekonom telah memperingatkan bahwa Iran berpotensi mengalami krisis pasokan pangan apabila stabilitas mata uang tak segera ditangani.
Demo yang awalnya diakibatkan krisis moneter ini tak lama kemudian berubah menjadi tuntutan perubahan rezim.
Para pedemo mulai menyerukan slogan anti-rezim Ayatollah Ali Khamenei dan mendesak Iran kembali ke monarki.
Di berbagai daerah, warga menuntut agar Reza Pahlavi memerintah negara tersebut. Reza Pahlavi merupakan Putra Mahkota terakhir Kerajaan Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi yang kini idup dalam pengasingan.
Propaganda asing
Kemendagri Iran telah mewanti-wanti bahwa demonstrasi
terbesar sejak 2022 ini dipicu oleh propaganda eksternal.
Wakil Mendagri Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum Ali-Akbar Pourjamshidian pada Senin (29/12) mengatakan isu volatilitas mata uang Iran didorong oleh rekayasa oleh musuh-musuh Iran.
Pada hari yang sama, Pahlavi mengunggah video di Instagramnya yang menyerukan rakyat Iran turun ke jalan dan mengakhiri pemerintahan teokrasi Teheran yang telah menggulingkan monarki ayahnya pada 1979.
“Salam kepada saudara-saudara sebangsa di pasar (pedagang-red) dan rakyat yang telah turun ke jalan. Selama rezim ini berkuasa, perekonomian akan memburuk. Sekaranglah saatnya untuk menjaga solidaritas,” kata Pahlavi.
Ia juga meminta semua lapisan masyarakat untuk bergabung dengan mereka yang telah turun ke jalan dan menyerukan diakhirinya rezim ini.
Secara khusus, saya memiliki pesan untuk pasukan keamanan dan kepolisian: Ambil kendali atas nasib Anda sendiri. Rezim ini sedang runtuh. Jangan melawan rakyat, bergabunglah dengan rakyat,” lanjutnya.
AS dan Israel dukung
Sementara itu, musuh utama Iran yakni AS dan Israel kompak menyuarakan dukungan terhadap unjuk rasa rakyat Iran yang menuntut perubahan rezim.
Kemlu Israel menyebut masyarakat Iran sudah muak dengan Khamenei, dan Kemlu AS mendesak pemerintah Iran merespons tuntutan rakyat dengan tepat.
“Republik Islam Iran harus menghormati hak-hak mendasar rakyat Iran dan menanggapi tuntutan sah mereka, bukannya membungkamnya.
AS mendukung rakyat Iran dalam upaya mereka untuk menyampaikan suara mereka,” demikian pernyataan Kemlu AS dalam unggahan di akun X berbahasa Persia.
Video yang beredar di medsos menunjukkan demonstrasi di Iran berlangsung panas, diwarnai bentrok antara aparat keamanan dan massa serta aksi-aksi anarkis. Sejumlah mobil dan bangunan tampak dibakar massa.
Presiden Masoud Pezeshkian telah meminta masyarakat untuk tenang dan mendesak pemerintah segera menanggapi kekhawatiran rakyat.
“Jika masyarakat tidak puas, kitalah yang harus disalahkan. Jangan menyalahkan Amerika atau siapa pun. Kita harus melayani dengan baik agar masyarakat puas dengan kita,” kata Pezeshkian, seperti dikutip IRNA.
Ganti Gubernur Bank Sentral
Pada Senin, pemerintah Iran mengganti gubernur bank sentral dengan mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Abdolnasser Hemmati.
Pezeshkian kemudian menunjuk mantan gubernur bank sentral, Mohammad-Reza Farzin, sebagai ajudan ekonomi khususnya. Melalui langkah tersebut, ia berharap bisa segera mengatasi keluhan rakyat.
Kemlu Israel, Minggu (28/12) menyatakan bahwa demonstrasi di Iran meletus karena masyarakat sudah kepalang muak dengan rezim Khamenei.
“Rakyat Iran sudah muak dengan rezim dan perekonomian yang kolaps,” demikian pernyataan Kemlu Israel di akun X berbahasa Persia, Minggu (28/12).
Eks perdana menteri (PM) Israel, menteri-menteri Israel, sampai PM Israel Benjamin Netanyahu juga ramai-ramai menyuarakan dukungan terhadap masyarakat Iran.
Dalam pernyataan saat wawancara dengan Newsmax, Netanyahu mengatakan Negeri Zionis sepenuhnya bersimpati dengan rakyat Iran.
Ia berujar rezim Iran saat ini telah menindas masyarakat Teheran yang memiliki masa lalu serta masa depan gemilang.
“Jika ada perubahan, itu akan datang dari dalam. Semua tergantung rakyat Iran. Kami memahami yang mereka alami dan sangat bersimpati kepada mereka,” kata Netanyahu, seperti dikutip Iran International.
Sementara Kemlu AS, Senin lalu (29/12) juga menyuarakan dukungan terhadap aksi protes di Teheran.
Dalam pernyataan di akun X berbahasa Persia, Kemlu AS meminta pemerintah Iran menghormati hak-hak dasar rakyat Iran dan merespons tuntutan mereka dengan tepat.
“Republik Islam Iran harus menghormati hak-hak mendasar rakyat Iran dan menanggapi tuntutan sah mereka, bukannya membungkamnya, “ bunyi pernyataan itu.
Kemlu AS dalam pernyataannya juga menyatakan dukungannya pada rakyat Iran dalam upaya mereka untuk menyampaikan suara mereka.
Demo meletus di Iran sejak Minggu yang mulanya dipicu oleh krisis ekonomi. Demo kemudian meluas dan berubah menjadi desakan perubahan rezim Khamenei.
Para demonstran di berbagai kota Iran meneriakkan
slogan-slogan anti-rezim dan mendesak Iran kembali ke monarki.
Mereka meminta agar pemerintah Iran dipegang oleh Reza Pahlavi, Putra Mahkota terakhir dari Kerajaan Iran sekaligus Kepala Dinasti Pahlavi yang kini diasingkan.
Kementerian Dalam Negeri Iran telah mewanti-wanti bahwa demonstrasi besar-besaran ini dipicu oleh propaganda eksternal.
Wakil Mendagri Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum Ali-Akbar Pourjamshidian mengatakan isu volatilitas mata uang Iran didorong oleh rekayasa musuh Iran.
Pahlavi dalam tayangan video di Instagramnya menyerukan rakyat Iran turun ke jalan dan mengakhiri pemerintahan teokrasi Teheran yang telah menggulingkan monarki ayahnya pada 1979.
Rakyat Iranlah yang paling berhak menentukan nasib dan masa depan mereka. Waktu akan menentukan endingnya. (CNN/AFP/ns)




