
JAKARTA, KBKNEWS.id – Iran menyatakan hanya kapal dari negara-negara yang dianggap “sahabat” yang diperbolehkan melintasi Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.
Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan media Lebanon, Al Mayadeen, Kamis (26/3).
“Kami telah mengizinkan kapal dari Tiongkok, Rusia, India, Pakistan, Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat untuk melewati Selat Hormuz,” ujar Araghchi.
Namun, Iran menegaskan tidak ada kewajiban memberikan akses yang sama kepada negara yang dianggap sebagai lawan. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah target di Iran pada Februari lalu, yang kemudian dibalas oleh Teheran.
Situasi tersebut memicu gangguan di Selat Hormuz, bahkan disebut sebagai blokade de facto. Jalur ini selama ini menjadi penghubung utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Akibatnya, distribusi energi terganggu dan harga bahan bakar dunia mengalami kenaikan.
Meski Iran menyebut sejumlah negara sahabat, belum ada kejelasan apakah Indonesia termasuk dalam daftar tersebut.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menekan Iran agar menerima proposal gencatan senjata yang diajukan Washington. AS disebut telah menawarkan 15 poin persyaratan, namun hingga kini belum mendapat respons dari Teheran.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, operasi militer AS dan Israel dilaporkan masih berlangsung, dengan sejumlah target strategis Iran menjadi sasaran. Kondisi ini membuat ketegangan di kawasan Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda.



