Jalan Cahaya

Saudaraku, iman itu ibarat lampu senter yang memberi kita keyakinan utk mengarungi gelap malam. Namun, sehebat apa pun senter, kemampuannya menuntun kita meniti jalan yg benar tergantung daya baterai yg dikandungnya. Baterai itu adalah ilmu pengetahuan.

Iman dan ilmu hrs dihela dlm satu tarikan nafis, sbg dua entitas yg tak boleh terpisah. Kitab suci merujuk keduanya sbg sumber ketinggian kemuliaan manusia. Hanya dgn keterpaduan iman dan ilmu, manusia bisa menempuh kehidupan di jalan cahaya.

Bahasa Indonesia memiliki sebutan yg pas utk kata iman itu, yakni “percaya”. Berasal dari kata “bercahaya”. Tersirat pengertian bahwa org beriman itu hatinya hrs memancarkan cahaya (pencerahan); bahwa cermin hati yg kotor tak bisa memantulkan nur Ilahi dan tak bisa jadi wahana bercermin diri.

Untuk membersihkan hati kotor diperlukan jalan spiritualitas. Dari bahasa Latin, ‘spiritus’, artinya ‘menyala’ (menyalakan cahya hati) atau ‘bernafas’ (menyegarkan rongga jiwa).

Dalam kosmologi Nusantara, cahaya jiwa itu dinyalakan melalui konektivitas yg dipancarkan ke tiga arah (triadik): relasi kasih dgn “dunia atas” (Tuhan), “dunia tengah” (manusia) dan “dunia bawah” (alam).

Dalam kosmologi Hindu dinamakan “Tri Hita Karana” (tiga penyebab kebahagiaan): Sanghyang Jagatkarana, manusia dan bhuana. Dlm Islam disebut “hablun min-Allah, hablun min al-annas, dan “hablun min al-alam”.

Poros tengah sebagai simpul pertemuan ketiga relasi itu adalah manunggalingkawula-gusti (menyatunya mikrokosmos-makrokosmos); yang memijarkan cahaya kasih. Di bawah terang kasih, manusia saling berinterkasi di bawah tuntunan “kaidah emas” (golden rule). Dlm kalimat negatif: “Janganlah berbuat sesuatu kpd org lain yg engkau sendiri tak ingin diperlakukan seperti itu.” Dlm kalimat positif: “Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.”

Semua manusia adalah ahli waris jagad yg sama dgn hulu mata air spiritualitas yg sama. Kebahagiaan hidup bersama akan terengkuh manakala kita bisa menyatukan kekuatan iman dan ilmu sbg pelita jiwa, dgn membangun relasi harmonis yg dipancarkan ke tiga arah. Semua itu bisa dihidupi manakala di pusat jiwa kita terpancar cahaya cinta.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here