Sore itu, bus tingkat tanpa atap bergerak pelan dari kawasan Senayan, menyusuri sepanjang sibuknya kawasan Sudirman, Bundaran HI, dan Monas. Bus yang dinaiki sekitar lima puluh penumpang tersebut membelah gedung-gedung pencakar langit ibukota yang juga dipadati kendaraan lalu Lalang di jalan protokol Jakarta. Para penumpang fokus mendengarkan paparan melalui headphone khusus di telinga mereka. Mikrofon yang terhubung langsung ke headphone berpindah dari satu genggaman narasumber ke genggaman narasumber lainnya. Lima puluh peserta duduk berderet dengan headphone di telinga. Dalam kasat mata tampak sunyi, namun sejatinya lima puluh penumpang bus tingkat wisata tanpa atap tersebut dengan lantang menyuarakan tentang Palestina. Sebuah puisi tentang Palestina dibacakan, dan mengawali perjalanan luar biasa ini, menjadi lebih terasa khidmat.
Perjalanan itu adalah “SolidaRIDEty Kita Palestina”, sebuah diskusi yang digelar Dompet Dhuafa sebagai penanda jelang tiga tahun peristiwa 7 Oktober 2023. Konsepnya tak lazim memang, tetapi pesan yang dibawa begitu terang untuk tetap mberbicara lantang tentang Palestina. Karena, dalam diskuis tersebut, semua sepakat bahwa Palestina tidak hanya berada di Gaza, ia juga berada di jalan-jalan yang kita lalui setiap hari. Maka di sore itu, aktivis kemanusiaan, komika, musisi, akademisi, dan para pegiat media sosial berbagi bus yang sama, mengelilingi kota yang sebagian besar penghuninya mungkin tak sadar bahwa mereka sedang hidup di tengah jejak perlawanan terhadap penjajahan, seperti yang dirasakan saudara kita di Palestina saat ini.
Dalam perjalanan tersebut, semua membayangkan bahwa rombongan tengah melaju di gerbang Rafah, menuju Gaza, Palestina. Jejak sejarah mulai dibahas oleh Shofwan Al Banna, salah satu Dosen Hubungan Internasional Universitas Indonesia yang sore itu mengajak penumpang membaca Jakarta sebagai teks sejarah. Masjid Istiqlal berdiri di bekas kawasan benteng pertahanan Hindia Belanda, ruang kolonial diubah menjadi ruang ibadah. Kemudian Patung Selamat Datang, hadir sebagai simbol penolakan terhadap segala bentuk penjajahan katanya. Maka menurut Shofwan, ketika bangsa ini membela Palestina, sebenarnya bangsa ini sedang pulang ke jati dirinya sendiri, ke prinsip yang digariskan para pendirinya. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang secara jelas menyatakan lebih dari delapan dekade lalu yaitu kemerdekaan ialah hak segala bangsa.
Perbincangan di atas bus tersebut sudah jelas akan bermuara pada peristiwa 7 Oktober 2023, hari ketika serangan Hamas berbalas dengan serangan Israel yang telah menewaskan ribuan jiwa dan mencatatkan ratusan sandera. Peristiwa 7 Oktober bukanlah sebagai titik awal. Para aktivis kemanusiaan banyak yang telah menjabarkan bahwa tragedi kemanusiaan ini juga merentang jauh ke belakang, hingga pada peristiwa Nakba 1948, ketika ratusan ribu warga Palestina terusir dari rumahnya. Setelah itu datang puluhan tahun pendudukan, perluasan permukiman di Tepi Barat, dan blokade yang mengurung Gaza hingga masyarakat dunia menyebutnya penjara terbuka terbesar di dunia. Menjelaskan konteks bukan membenarkan kekerasan terhadap warga sipil. Itu cara agar kita memahami mengapa luka ini tak kunjung kering, dan mengapa penyelesaiannya tak mungkin dicapai hanya dengan menghitung korban dari satu sisi.
Akibat dari perang susulan sejak 7 Oktober 2023 sudah terlalu jelas untuk disangkal. Kementerian kesehatan Palestina mencatat lebih dari 71.400 jiwa melayang di Gaza. Dari angka tersebut, setidaknya 20.000 korbannya adalah anak-anak. Angka sebesar itu mudah diucapkan tetapi nyaris mustahil dibayangkan. Satu anak yang kehilangan seluruh keluarganya sudah cukup menggugat nurani. Dua puluh ribu seharusnya mengguncang dunia, dan kita tahu bahwa di balik setiap angka ada nama, ada kamar tidur, ada seragam sekolah yang tak sempat dipakai kembali.
Bukankah perang sudah usai sejak gencatan senjata 10 Oktober 2025? Sebagian benar: para sandera telah dibebaskan, dan jasad sandera terakhir dikembalikan Januari lalu. Tetapi bagi warga Gaza, damai masih sebatas kata di atas kertas. Jadi, pada tanggal 10 Oktober lalu, gencatan senjata Hamas dengan Israel genam setahun. Namun Kompas melaporkan, pada tahun pertama gencatan senjata, Sabtu (10/10/2026), militer Israel masih menyerang hampir setiap hari dan menguasai sekitar 70 persen wilayah Gaza. Menurut OCHA, hingga 23 September 2026 sedikitnya 1.402 warga Palestina meninggal dan 4.881 lainnya terluka, dan itu terjadi sejak gencatan senjata diumumkan. Bahkan, inflasi melambung sekitar 207 persen dibanding sebelum Oktober 2023.
Di balik angka-angka itu, kehidupan sehari-hari di tanah yang terpenjara berjalan dalam kerentanan yang sunyi. Awal tahun ini, Republika melaporkan beberapa bayi meninggal kedinginan di tenda pengungsian sejak November 2025, ketika musim dingin datang dan bantuan yang ada tak mencukupi. Di saat yang sama, aturan registrasi baru yang diberlakukan Israel sejak 1 Januari 2026 mengancam keberlangsungan puluhan organisasi kemanusiaan internasional di Gaza. Artinya adalah tangan-tangan yang ingin menolong pun harus melewati birokrasi yang berliku. Gencatan senjata yang sungguh-sungguh semestinya membuat bantuan mengalir lebih lancar, bukan malah sebaliknya.
Diskusi di atas bus tingkat itu juga menjadi upaya untuk merawat ingatan kita agar tidak padam dalam menjaga asa Palestina. Hari ini, musuh terbesar rakyat Palestina bukan hanya senjata, tetapi juga kelelahan dunia. Ketika berita tentang Gaza tak lagi menjadi kabar utama, namun penderitaan tak ikut berhenti. Perhatian publik adalah sumber daya yang cepat menguap, dan karena itu harus terus dirawat seperti api kecil yang menyala di tengah angin.
Karena itu, suara lantang yang kita butuhkan bukan sekadar yang paling keras menyuarakan Palestina. Tetapi juga yang paling tahan lama untuk lantang menyuarakan kemanusiaan di Palestina. Dalam bincang sore itu, aktivis kemanusiaan Wanda Hamidah bersuara dengan lantang dan menawarkan jalan konkret untuk terus komitmen dalam gerakan boikot, divestasi, dan Sanksi. Semuanya dapat dimulai dari pilihan paling sederhana, yakni apa yang kita beli dan konsumsi sehari-hari, dengan beralih ke produk lokal dan UMKM yang jelas bersih dari sangkut paut penyumbang dana zionis. Boikot adalah langkah cerdas dengan mengubah kemarahan yang abstrak menjadi keputusan yang bisa diambil di rak toko, tanpa menunggu izin siapa pun.
Dalam perbincangan sore di atas bus tersebut, komika Sammy Notaslimboy yang menyuarakan bahwa keberpihakan pada Palestina tak boleh dikurung sekat agama atau ideologi. Ia menautkannya dengan ajaran kasih dalam iman Kristen, sebuah pengingat bahwa ini pada dasarnya soal kemanusiaan. Di atas bus yang sama, seorang pembicara beragama Islam, seorang komika beragama Kristen, dan seorang akademisi duduk berdampingan. Pemandangan sederhana itu menegaskan bahwa Palestina bukan monopoli satu golongan, tetapi adalah soal kemanusiaan.
Sebuah catatan di sore itu, kita ingin gerakan ini kuat. Boikot dan solidaritas menemukan kekuatannya ketika bertumpu pada prinsip yang konsisten, yaitu menolak pembunuhan warga sipil, siapa pun korbannya, dan menuntut penghormatan pada hukum humaniter internasional. Atas dasar tersebut, kritik bahwa kepedulian kita selektif akan sulit menemukan celah. Konsistensi untuk bersuara dengan lantang adalah cara terbaik menjawab tudingan, dan akan lebih ampuh ketimbang adu argumen di kolom komentar sosial media.
Bus itu akhirnya kembali ke titik awal. Peserta turun, headphone dilepas, dan Jakarta kembali pada kesibukannya. Gaza masih terluka, dan satu diskusi tak lantas dengan cepat menjembatani Palestina merdeka. Namun setidaknya kita tetap terus lantang dan menjaga ingatan akan kekejaman yang menimpa saudara kita di tanah yang terpenjara. Tak ada penindasan yang abadi selama masih ada orang yang menolak membisu. Teruslah bersuara lantang dengan jernih, dengan tangan yang terus bekerja membantu sesama. Dunia mungkin tak cepat bergeser oleh satu teriakan lantang, tetapi ia tak akan sanggup mengabaikan jutaan suara yang menolak padam menyuarakan isu kemanusiaan di Palestina. Mari terus jaga asa untuk Palestina merdeka.
Artikel Opini oleh Taufan Yusuf Nugroho, Reporter Kemanusiaan & Manager Corporate Communications Dompet Dhuafa



