JAKARTA – Masih banyak orang tua di Indonesia yang memberi anak-anak mereka teh dalam botol sebagai pengganti susu formula, meskipun WHO tidak merekomendasikan teh untuk anak-anak di bawah usia 2 tahun.
Bahkan untuk anak usia 2-5 tahun, konsumsi teh sebaiknya dibatasi. Selain kandungan kafein, ada zat lain dalam teh yang dapat memengaruhi kesehatan anak.
Menurut dokter spesialis anak dari Universitas Indonesia, dr. Ria Yoanita Sp.A,, orang tua perlu berhati-hati memberikan teh kepada anak karena dapat berdampak buruk pada tumbuh kembang mereka.
Ria menjelaskan bahwa teh tidak mengandung zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak. Anak yang minum teh bisa merasa kenyang, namun tidak mendapatkan nutrisi penting yang dibutuhkan.
Hal ini bisa merugikan bagi anak-anak yang membutuhkan zat gizi lengkap untuk bisa tumbuh dan berkembang,” katanya dilansir dari Antara.
Lebih lanjut, kandungan polifenol dan asam fitat dalam teh dapat menghambat penyerapan zat besi, sehingga berisiko menyebabkan defisiensi zat besi dan anemia pada anak.
“Teh mengganggu penyerapan zat besi, anak jadi mudah terkena anemia defisiensi besi, akibatnya terjadi kenaikan berat badan seret, lama kelamaan menjadi stunting jika tidak diatasi segera,” tuturnya.
Ria juga menyarankan agar teh tidak diberikan sebagai pendamping makan, karena teh bisa mengganggu penyerapan nutrisi.
Selain itu, kandungan kafein dalam teh, termasuk stimulan seperti theobromine dan teofilin, dapat membuat anak terlalu aktif dan sulit tidur. Teh juga bersifat diuretik, yang membuat anak lebih sering buang air kecil jika dikonsumsi berlebihan.
Ia menambahkan, teh dalam kemasan sebaiknya dihindari untuk anak-anak karena sering kali mengandung banyak gula, yang berisiko menyebabkan obesitas.





