JAKARTA – Utsman bin Affan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang menjadi khalifah ketiga setelah Umar bin Khattab. Pada usia 70 tahun, ia diangkat sebagai salah satu dari Khulafaur Rasyidin dan memimpin selama 12 tahun (644-656 M atau 12 Zulhijah 35 H).
Utsman memiliki masa jabatan terlama di antara khalifah dari Bani Umayyah. Ia dikenal dengan gelar “Dzun Nurain” (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah SAW.
Kisah Utsman bin Affan memberikan banyak pelajaran berharga. Sosoknya yang cerdas dan taat membuat malaikat pun takjub. Pengalamannya mengajarkan nilai-nilai mulia yang dapat kita teladani, khususnya dalam berinteraksi dengan masyarakat.
1. Sosok Dermawan
Kedermawanan Utsman terlihat dari wakaf Sumur Raumah yang hingga kini manfaatnya masih dirasakan. Jika dinilai dengan mata uang saat ini, jumlah kekayaannya mencapai lebih dari Rp2,5 triliun, tetapi ia memilih untuk mendonasikan harta tersebut melalui zakat, sedekah, dan wakaf.
Pada saat Nabi Muhammad dan masyarakat Madinah kesulitan mencari air, Rasulullah bersabda:
“Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka ia akan mendapatkan surgaNya Allah Ta’ala” (HR Muslim)
Awalnya, Utsman membeli Sumur Raumah dari Yahudi agar Rasulullah dan masyarakat Madinah bisa minum di tengah panceklik.
Bermula dari Utsman membeli setengah air, hingga akhirnya membeli sepenuhnya setelah kesepakatan yang lain dengan pemilik sumur. Sampai sekarang, wakaf sumur dari Utsman hadir dengan kokoh selama 14 abad sebagai devisa negara Saudi.
2. Teguh Mempertahankan Akidah
Utsman dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an dan termasuk dalam golongan Assabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang pertama yang memeluk Islam.
Keteguhannya diuji ketika ia disiksa oleh pamannya, Al-Hakam bin Abil Ash, yang marah karena Utsman meninggalkan agama nenek moyangnya.
Utsman tidak gentar. Ia tetap teguh pada akidahnya hingga menjawab, “Demi Allah aku tidak mengganti keyakinanku, aku tidak akan meninggalkan agama yang diajarkan Rasulullah, apa pun yang terjadi pada diriku.”
Karena keteguhannya, pamannya pun menyadari Utsman tidak mungkin kembali ke agama nenek moyang. Maka dari itu, ia melepaskan Utsman bin Affan dari siksaan.
3. Disegani Rasulullah dan Malaikat
Rasulullah SAW sangat menghormati Utsman, bahkan para malaikat pun menaruh rasa segan terhadapnya. Utsman dikenal sangat pemalu dan selalu memprioritaskan kepentingan orang lain.
Rasulullah pernah berkata bahwa Utsman adalah seseorang yang bahkan para malaikat pun menghormatinya karena sikapnya yang santun dan penuh penghormatan.
4. Berjiwa Sosial Tinggi
Utsman sangat peduli terhadap kesulitan orang lain. Ketika umat Islam menghadapi krisis ekonomi saat Perang Tabuk, ia menyumbangkan 300 unta dan 1.000 dinar untuk membantu perjuangan umat.
Rasulullah SAW yang menerima bantuan tersenyum seraya mendoakan Utsman agar dosa-dosanya, baik yang dirahasiakan maupun dosa yang ia nyatakan diampuni oleh Allah.
“Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, wahai Ustman. Dosa yang kamu rahasiakan maupun dosa yang kamu nyatakan.” (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf)
5. Membukukan Al-Qur’an
Pada masa pemerintahannya, Utsman memprakarsai pembukuan Al-Qur’an menjadi mushaf untuk menjaga keaslian kitab suci ini. Dengan bantuan penghafal Al-Qur’anseperti Zaid bin Tsabit, lembaran-lembaran Al-Qur’an disatukan, disalin, dan disebarkan ke berbagai wilayah seperti Madinah, Mekah, Syam, Basrah, dan Kufah.
6. Hidup Sederhana
Meskipun dikenal sebagai saudagar kain yang kaya raya, Utsman tetap hidup sederhana. Kekayaannya sering digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan hingga mereka dapat mandiri.





