Jurnalis AS Shelly Kittleson Diculik di Baghdad, Diduga Melibatkan Kelompok Bersenjata

Shelly Kittleson, jurnalis AS menjadi korban penculikan di Irak. (Foto: AFP/Getty Images)

Jakarta, KBKNews.id – Kabar mengejutkan datang dari jantung ibu kota Irak. Shelly Kittleson, seorang jurnalis lepas asal Amerika Serikat yang dikenal luas atas dedikasinya melaporkan dinamika konflik di Timur Tengah, dilaporkan menjadi korban penculikan. Insiden ini terjadi di tengah merosotnya stabilitas keamanan regional pasca-eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Kittleson bukan nama baru di medan liputan berbahaya. Selama bertahun-tahun, laporannya dari Suriah, Irak, hingga Lebanon telah memberikan gambaran mendalam mengenai peta kekuatan suku dan dinamika perang di wilayah tersebut.

Detik-Detik Penculikan yang Terekam Kamera

Berdasarkan keterangan kepolisian setempat, Kittleson disergap oleh empat pria berpakaian sipil di jalanan Baghdad. Rekaman kamera pengawas (CCTV) memperlihatkan momen mencekam saat seorang pria memaksa Kittleson masuk ke dalam mobil, yang kemudian melaju kencang meninggalkan lokasi hanya dalam hitungan detik.

Kementerian Dalam Negeri Irak mengonfirmasi, pengejaran sempat terjadi hingga menyebabkan mobil tersangka terbalik saat mencoba melarikan diri.

“Pasukan keamanan berhasil menangkap salah satu tersangka dan menyita kendaraan yang digunakan dalam kejahatan tersebut. Upaya terus dilakukan untuk melacak pelaku lainnya dan memastikan pembebasan jurnalis yang diculik,” tulis pernyataan resmi Kementerian Dalam Negeri Irak.

Kaitan dengan Kelompok Militan Pro-Iran

Departemen Luar Negeri AS mensinyalir adanya keterlibatan kelompok bersenjata Irak yang berafiliasi dengan Iran, yakni Kataib Hezballah. Dylan Johnson, Asisten Sekretaris Negara untuk Urusan Publik Global, menyatakan individu yang ditangkap oleh otoritas Irak diduga memiliki hubungan kuat dengan kelompok tersebut.

“Kami bekerja keras untuk memastikan pembebasannya sesegera mungkin. Departemen Luar Negeri sangat menyarankan seluruh warga Amerika, termasuk awak media, untuk mematuhi semua peringatan perjalanan,” tulis Johnson melalui akun resminya di media sosial X, dikutip Rabu (1/4/2026).

Ketegangan ini merupakan rembetan dari konflik yang lebih luas. Sejak perang pecah, pangkalan militer dan kedutaan AS di Irak kerap menjadi sasaran empuk kelompok milisi, yang dibalas dengan serangkaian serangan udara oleh pihak Washington.

Alarm bagi Kebebasan Pers

Media Al-Monitor, tempat Kittleson sering berkontribusi, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden ini. Mereka mendesak agar jurnalis kebanggaan mereka segera dipulangkan dalam keadaan selamat.

“Kami berdiri di belakang pelaporan vital yang ia lakukan dari kawasan tersebut dan mendesak kepulangannya dengan cepat agar ia dapat melanjutkan pekerjaan pentingnya,” tegas pihak Al-Monitor.

Kasus ini membangkitkan memori kelam atas penculikan akademisi Israel-Rusia, Elizabeth Tsurkov, di lokasi yang sama pada 2023. Tsurkov baru dibebaskan tahun lalu setelah dua tahun dalam penyekapan dan mengalami cedera permanen akibat penyiksaan.

Peringatan Perjalanan bagi Warga AS

Meski situasi keamanan di Baghdad sempat membaik dalam beberapa tahun terakhir, perang terbaru di kawasan telah menghidupkan kembali sel-sel konfrontasi antara milisi pro-Iran dengan otoritas negara Irak.

Pemerintah AS kini meningkatkan level peringatan bagi warga negaranya. Johnson menegaskan pihaknya telah menjalankan kewajiban untuk memberi peringatan dini kepada para jurnalis mengenai risiko yang mengintai di Irak, terutama setelah serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Saat ini, fokus pencarian dipusatkan di wilayah timur Baghdad, arah di mana kendaraan penculik terakhir kali terlihat.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here