Jurusan Sastra Inggris Sepi Peminat, Ada Apa?

Ilustrasi mahasiswa (Foto: Ist)

LONDON – Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap jurusan Sastra Inggris dan bidang humaniora secara umum mengalami penurunan yang signifikan. Fenomena ini tampak di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Harvard University bahkan menyatakan bahwa persentase mahasiswa yang lulus dengan gelar di bidang humaniora telah menurun drastis dalam 50 tahun terakhir. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa jurusan seperti Sastra Inggris semakin sepi peminat?

Melansir dari Al-Jazeera, Selasa (18/2/2025), salah satu alasan utama penurunan minat ini adalah kekhawatiran akan prospek kerja setelah lulus. Banyak calon mahasiswa dan orang tua mempertanyakan, “Apa yang bisa dilakukan dengan gelar Sastra Inggris?” Pertanyaan ini sering kali diikuti dengan anggapan bahwa lulusan Sastra Inggris hanya bisa menjadi guru atau penulis.

Padahal, sebenarnya ada banyak peluang karir yang bisa dijalani, seperti copywriter, editor, content creator, hingga pekerjaan di bidang media dan komunikasi.

Jumlah Mahasiswa Turun Drastis

Di Amerika Serikat, misalnya, jurusan Sastra Inggris menjadi salah satu jurusan yang paling cepat menurun peminatnya antara tahun 2013 dan 2018, dengan penurunan hingga 25%. Di Inggris, jumlah mahasiswa yang mendaftar untuk studi Sastra Inggris turun dari 42.000 pada tahun 2019 menjadi 37.000.

Bahkan di Australia, pemerintah memutuskan untuk mengurangi subsidi pendidikan untuk jurusan seperti Sastra Inggris, sementara meningkatkan pendanaan untuk bidang teknik dan kedokteran.

Namun, penurunan minat ini bukan hanya tentang prospek kerja. Ada juga kekhawatiran bahwa generasi muda semakin kehilangan minat terhadap literatur dan humaniora karena pengaruh teknologi dan media sosial. Banyak anak muda lebih tertarik pada konten singkat dan visual, seperti video TikTok, daripada membaca buku atau menganalisis karya sastra. Hal ini berdampak pada kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan pemahaman konteks yang lebih luas.

Dampak Penurunan Minat Humaniora

Lalu, apa implikasi dari penurunan minat terhadap humaniora? Beberapa ahli berpendapat bahwa hal ini dapat memengaruhi kualitas komunikasi dan interaksi manusia di masa depan. Farah Shari, seorang career coach, menyatakan bahwa banyak lulusan muda yang kurang memiliki kemampuan komunikasi yang baik karena kurangnya paparan terhadap literatur dan filsafat.

Omid Rayan, pendiri Aid.a, juga menekankan pentingnya interaksi manusia dan kemampuan berkomunikasi dalam dunia kerja, terutama di era digital seperti sekarang.

Universitas Harus Berinovasi

Meskipun demikian, tidak semua harapan hilang. Banyak universitas dan institusi pendidikan mulai berinovasi untuk menarik minat mahasiswa kembali ke jurusan humaniora. Misalnya, dengan memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan nilai-nilai dan manfaat dari mempelajari sastra dan humaniora.

Selain itu, penting juga untuk mengedukasi masyarakat bahwa gelar di bidang humaniora tidak hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang mengembangkan kemampuan analitis, kreativitas, dan empati yang sangat dibutuhkan di dunia kerja.

Jadi, apakah jurusan Sastra Inggris dan humaniora akan benar-benar punah? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita, sebagai masyarakat, memandang nilai-nilai yang ditawarkan oleh bidang ini. Jika kita mampu melihat bahwa humaniora adalah fondasi penting untuk membangun manusia yang berpikir kritis dan berempati, maka jurusan seperti Sastra Inggris akan tetap relevan, bahkan di era teknologi yang terus berkembang.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here