PONDOK RANGGONÂ – Bulan Oktober 2015 ini, KansapMilk memperingati miladnya yang ke empat tahun. Meski baru berumur 4 tahun, selama 3 tahun perjalanannya Produsen Susu dan Yogurt ini, diisi dengan berbagi susu untuk anak-anak dhuafa, yatim, anak-anak terlantar dan anak-anak yang berada di lingkungan pemukiman padat dan kumuh.
Adalah Zulfalah, Founder KansapMilk, kepada KBK Rabu (7/10/2015) bercerita, selama 3 tahun ini ia bersama 5 temannya membuat program #PendingMilk.
Di program ini donatur membeli susu seharga Rp4.000 per botol 200ml, tapi tidak untuk dikonsumsi oleh donatur itu, melainkan dititip ke KansapMilk untuk dibagikan kepada anak-anak yatim di panti asuhan atau komunitas, dhuafa, komunitas sosial yang bergerak mengayomi dan mengedukasi anak-anak di Jakarta.
“Nah setelah terkumpul, maka KansapMilk menyalurkan sesuai dengan yang kita sepakati dengan donatur,” jelas Zulfalah
Tahun 2015 ini, KansapMilk punya target pengumpulan susu dan penyaluran dari Program #PendingMilk ini sekitar 5.102 botol susu, angka 5.102 didapat dari kebalikan dari angka tahun 2015. Sampai Oktober ini KansapMilk sudah menghimpun 2.500 botol susu pending, dan yang sudah disalurkan sebanyak 1.400 botol susu.
Tahun lalu, KansapMilk membagikan 2.014 botol susu sesuai dengan jumlah angka di tahun tersebut.
Ketika ditanyakan kenapa ada ide membagi-bagi susu ini? Zulfalah menceritakan, awalnya ia hanya ingin menyemarakkan Hari Susu Nusantara, jatuh pada 1 Juni. Nah ketika itu di tahun 2012.
Namun, karena mendapat tanggapan positif dari berbagai komunitas termasuk donatur, akhirnya program menjadi berlanjut sampai sekarang.
“Pas awal sih spontanitas tercetus ide ini untuk menyemarakkan hari susu nusantara setiap 1 Juni, juga mau mengedukasi masyarakat tentang susu murni,” urai Zulfallah.
KansapMilk sendiri berdiri di tahun 2011, awalnya bukan bernama KansapMilk melainkan “Leinbou Uyu” dari bahasa Korea (waktu itu sedang demam Korea di remaja Indonesia, jadi kelompok anak muda ini juga ingin memanfaatkan trend itu dengan bisnis mereka).
Arti dari nama tersebut, kurang lebih; Leinbou itu pelangi, Uyu itu susu atau yang dimaksud “susu pelangi” (produk awal dari usaha ini, susu yang warna-warni seperti pelangi). Leinbou Uyu, didirikan dengan modal patungan 5 anak dari keluarga pemilik sapi perah di Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur.
Anak-anak muda yang saat itu sama-sama berumur 22 tahun (kini 26 tahun), adalah Zulfalah Zainudin, M. Riza Hafiz, Ahmad Zaki, Wijse Hijryah dan Dian Fitriani. Karena melihat semangat mereka para orang tua pun bersemangat memotivasi, mereka memberikan pinjaman modal awal untuk anak-anak mereka guna membeli bahan baku dan menyewa toko.
“Kami membeli susu mentah dari peternakan keluarga masing-masing kemudian mengolahnya menjadi susu sehat yang siap dikonsumsi,” terang Zulfalah.
Sampai saat ini, usaha bisnis dari anak-anak muda ini sudah mengeluarkan produk kemasan; Susu Sapi & Kambing Murni, Susu Sapi & Kambing Pasteurisasi, Yogurt Homemade dan Puding Yogurt.
“Alhamdulillah, Perkembangan bisnis dari KansapMilk, omsetnya 15 kali lipat dari 2011. Dan sudah memiliki 10 reseller di Jakarta,” pungkas Zulfalah.
Nama KansapMilk sendiri baru di-rebranding tahun 2014, merupakan kependekan dari Kandang Sapi (Kansap), sebelumnya nama dagangnya tidak begitu menarik menurut pendirinya, sehingga perlu diganti dengan nama yang menarik, dipilihlah KansapMilk.
Akhirnya alumni Social Enterpreneur Camp (SE Camp) Dompet Dhuafa 2014 ini, mendesain ulang logo dari mereknya. Yang lebih menarik dari rebranding ini adalah dengan bubuhan tagline “Nenen Never Ends”, yang menyatakan bahwa manusia tidak akan berhenti minum susu sampai kapan pun. Luar biasa!.





