
WALAU Partai Demokrat (SDP) yang berakar pada gerakan neo-Nazi dan anti imigran diperkirakan tidak akan memenangi Pemilu Swedia, 9 September, perolehan suaranya akan melonjak dari 13 persen menjadi 20 persen.
Sementara raihan suara Partai Sosial Demokrat (SAP), menurut hasil jajak pendapat Skop Institute, Minggu (2/9) diprediksi anjlok dari 31 persen menjadi 23,5 persen atau terendah sejak partai petahana tersebut mendominasi panggung politik Swedia pada 1930, sehingga sulit dibayangkan pemerintahan yang akan terbentuk nanti.
Berdasarkan hasil jajak pendapat tersebut, perolehan suara kelompok Partai Konservatif diprediksi juga anjlok dari 23 persen menjadi 17 persen karena sebagian suaranya juga ikut tersedot SDP.
Sejauh ini, Swedia sebagai salah satu negara termakmur di dunia, di bawah kepemimpinan PM Stefan Lofven menikmati angka pengangguran terendah dalam dasa warsa terakhir ini, ditandai peningkatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang tekendali. Namun, sebagian warga akhir-akhir ini terusik dengan antrian panjang layanan kesehatan, kesenjangan sosial dan meningkatnya kasus kriminalitas.
Meningkatnya sikap anti pendatang, kemungkinan juga terjadi akibat menurunnya kenyamanan dan meningkatnya aksi-aksi kekerasan akibat kehadiran pencari suaka terutama dari negara-negara yang dilanda konflik di Timur Tengah seperti Suriah.
Yang unik dalam pemilu kali ini adalah terjadinya pergeseran nilai di kalangan penduduk di negeri yang warganya menjunjung tinggi HAM, demokrasi serta persamaan hak ini tercermin dari sejumlah poster memuat penolakan terhadap kebebasan.
Sebagian pendukung Sosial Demokrat menyalahkan PM Lofven yang dianggap member angin pada para pencari suaka yang saat ini sudah mencapai 400-ribu orang atau empat persen dari seluruhnya 10 juta penduduk Swedia. Menrut catatan, sejumlah ex tokoh-kombatan GAM termasuk ketuanya alm. Hasan Tiro juga mendapat suaka di Swedia.(AFP/AP/NS)




