Kekeringan Melanda, Warga Menjerit

0
150

BEKASI – Badai kekeringan melanda tiga desa di Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Akibatnya warga di tiga desa tersebut terpaksa mengonsumsi air sungai keruh selama dua bulan terakhir.

Salah seorang warga Kampung Cigogo, Desa Sirnajati, bernama Asep (45 tahun) mengatakan sebelumnya warga mengonsumsi pasokan air tanah. Tetapi karena saat ini kondisinya sangat sulit mendapatkan air bersih di daerahnya.

“Butuh berjam-jam untuk mengisi satu ember air. Kekeringan bukan hanya dialami kami, tapi juga dua desa lainnya di antaranya Desa Ridogalih dan Desa Ridomanah,” kata Asep, Senin (27/07/2015).

Pemerintah setempat, tutur Asep, kerap membantu memberikan bantuan air bersih untuk warga, tetapi bantuan tersebut kurang maksimal.

Saat ini, kondisi air sungai juga mulai surut. “Sekarang air di sungai juga sudah mulai surut. Warga biasanya membuat sumur-sumur kecil di pinggir sungai untuk mendapatkan mata air,” ucapnya.

Sementara itu di Sukabumi, Palang Merah Indonesia (PMI) setempat mewaspadai dan bersiap mengantisipasi dampak musim kemarau berkepenjangan dengan menyiapkan armada tangki air untuk warga yang kesulitan mendapatkan air bersih.

Humas PMI Kabupaten Sukabumi, Atep Maulana mengatakan, pihaknya menyiapkan rencana operasi dengan menghimpun data laporan dengan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi.

“PMI juga telah melaporkan antisipasi kekeringan ke PMI daerah dan pusat,” kata Atep.

Atep mengungkapkan, berdasarkan data sementara yang dihimpun di lapangan, ada beberapa kecamatan yang melaporkan kesulitan air bersih, di antaranya Kecamatan Bantargadung, Pelabuhanratu, dan Ciracap.

“Kami menyiapkan armada tangki air. Nantinya armada tangki air akan siap digunakan untuk melakukan operasi distribusi air bersih ke beberapa titik lokasi yang terdampak kekeringan,” katanya.

Di Tangerang, warga menggunakan pompa air yang biasa digunakan untuk industri yaitu model satelit. Hampir setiap rumah memasang pompa air yang harganya berkisar antara Rp 12 – 20 juta. Padahal penggunaan pompa air model satelit dapat mengakibatkan menurunnya permukaan tanah.

“Sebelum puasa kemarin sudah susah air, puasa tambah parah. Pas Lebaran saya langsung ngebor pakai pompa satelit. Kalau pakai pompa air biasa sudah tidak keluar lagi,” kata Bambang, warga Cipondoh, Tangerang.

Krisis air di Tangerang disebabkan menurunnya permukaan serta debit air Sungai Cisadane. Kepala Bendungan Pintu Air 10 Sungai Cisadane, Sumarto mengatakan, permukaan air sudah menyusut jauh dan ini masuk kategori krisis air.

Dia menjelaskan, kekeringan yang terjadi di Sungai Cisadane dikarenakan minimnya curah hujan yang terjadi di Tangerang dan Bogor. “Sumber air Sungai Cisadane hanya berasal dari aliran sungai di Bogor,” ujarnya.

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here