
HARI-HARI ke depan adalah saat menentukan bagi kelompok radikal Maute setelah pasukan pemerintah Filipina melancarkan operasi besar-besaran dengan dukungan tank-tank, helikopter tempur dan pengeboman dari udara ke posisi-posisi mereka di kota Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Filipina Selatan.
Gelar kekuatan secara besar-besaran sejak Selasa lalu (24/5) , menurut Panglima Komando Militer Mindanao Barat Mayjen Carlito Galvez, ditujukan untuk segera memulihan situasi di Marawi menjadi normal sehingga warga dapat beraktivitas kembali seperti biasa.
Operasi militer di Marawi semula bertujuan untuk menangkap gembong kelompok teroris Abu Sayyap, Isnilon Hapilon yang diinfokan terluka dan bersembunyi di Marawi, namun kemudian kelompok militan Maute bergabung untuk menyerang pasukan pemerintah. Kelompok Maute – anggotanya sebagian dari Moro National Liberation Front  (MNLF) – kelompok separatis tertua berbasis di Filipina selatan yang menyebutkan dirinya sebagai Daulah al-Islamiyah.
Presiden Rodrigo Duterte sendiri yang biasanya bersikap keras terhadap aksi-aksi terorisme dan radikalisme mencoba melakukan upaya dialog dengan kaum pemberontak walau ia telah menyatakan keadaan darurat perang selama 60 hari di seluruh Pulau Mindanao yang berpenduduk 20 juta orang.
Duterte juga memberikan keleluasaan pada aparat militer untuk melakukan diskresi seperti melakukan penangkapan terhadap orang-orang  yang dicurigai atau menggeledah tanpa surat perintah.
Kota Marawi di Pulau Mindanao sendiri masih dalam suasana perang setelah diwarnai aksi pembakaran, penjarahan dan penyanderaan oleh kelompok Maute sejak Selasa lalu.
Paling tidak 31 militan, 13 anggota pasukan pemerintah dan dua polisi tewas akibat pertempuran sporadis yang terjadi di sejumlah kawasan di Marawi, sementara ribuan dari 200.000 penduduknya mengungsi mencari tempat aman di wilayah sekitarnya.
Di pihak lain, aksi penyanderaan dan penyerangan di Marawi oleh kelompok Maute yang berafiliasi dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) menunjukkan eksistensi gerakan militan berasal dari Timur Tengah itu.
Yang perlu diwaspadai, adalah pengaruh perluasan paham radikalisme yang bertujuan mendirikan khilafah itu ke Indonesia setelah basis utama mereka di Irak dan Suriah melemah akibat gempuran pasukan pemerintah kedua negara dan pasukan koalisi pimpinan AS.
Aksi-aksi teror yang dilancarkan kelompok NIIS seperti di Manchester, Inggeris yang menewaskan 22 orang awal pekan lalu (22/5) dan aksi bom bunuh diri oleh kelompok yang berafiliasi dengan NIIS, Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur (24/5) mungkin juga bagian upaya perluasan aksi-aksi NIIS.
Aparat keamanan dan segenap komponen bangsa harus terus waspada. Teroris bisa bergerak kemana-mana dan kapan saja . (AP/AFP/Reuters/NS)




