MAKASSAR – Keluarga Muhammad Akbar (25), seorang korban yang tewas dimangsa ular piton yang sdi Kecamatan Karossa, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, 516 km utara Makassar mengaku sering memburu ular.
Kenyataan tersebut diungkapkan paman Akbar, Adhan Andi Tajuddin, yang mengaku menjadi salah satu anggota keluarga yang paling sering menangkap dan memelihara ular yang warga setempat menyebutnya dengan ular sawah atau ‘tampusisi’.
Bahkan, Adhan mengaku kerap membunuh ular di kawasan perkebunan sawit Inti ini.
“Kalau dibilang pawang bukan karena saya sering membunuh, karena kalau pawang itu tidak membunuh,” kata Adhan, mengutip Tribun Timur.
Tahun 2008 lalu, ia memelihara ular sanca sepanjang empat meter. Tapi ular sejenis yang memangsa keponakannya itu lepas, “Saya yakin ular itu masih hidup,” kata dia.
Sementara itu menurutnya mendiang paman Akbar yang lain, Adhan Andi Malik, juga pernah memelihara ular sampai lebih dari dua puluh kali. Terakhir ia memelihara ular sepanjang tiga meter.
“Terakhir saya pelihara ular disitu dan saya bawa ke Karossa karena mau dijual tapi lepas saat ditinggalkan di karung,” kata Adhan.
Saat ular tersebut lepas, ditangkap dan dibawa kembali ke rumah, karena ia berpikir mungkin tidak mau dijual dan ular tersebut kembali lepas.
Kakak ipar almarhum Akbar, Abidin juga bercerita serupa. Petani sawit ini juga sering mendapati ular piton di kawasan tersebut.
“Saya pernah juga dapat ular yang memangsa babi, biar (ular piton itu) diinjak kepalanya, tidak goyang, tapi ini yang menelan Akbar, melawan waktu mau dilumpuhkan,” cerita Abidin.
Diketahui kisah Akbar yang ditelan ular piton sangar menggemparkan warga, bukan hanya warga sekitar tapi hingga ke pelosok Indonesia. Mayat Akbar ditemukan oleh warga di perut ular sanca kembang (Python reticulatus), Senin (27/3/2017) malam, di kebun miliknya, Dusun Pangerang, Desa Salubiro, Kecamatan Karossa, sekitar 72 km barat ibu kota provinsi.




