Kenali Tanda Anak Kecanduan Gawai dan Cara Mencegahnya

Terlalu sering menggunakan gadget untuk membuka medsos bisa mengubah otak remaja menjadi kecanduan dan impulsif

JAKARTA – Era kemajuan teknologi saat ini, anak-anak sering menghabiskan waktu dengan gawai. Oleh karena itu, penting bagi orang tua memerhatikan tanda-tanda kecanduan gawai dan dampaknya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Common Sense Media, seperti yang dilaporkan oleh Hindustan Times, Minggu (9/7/2023), anak-anak berusia 8 hingga 12 tahun rata-rata menghabiskan waktu 5,5 jam setiap hari untuk bermain gawai.

“Anak-anak tumbuh dan hidup di lingkungan yang dipenuhi dengan berbagai perangkat digital, yang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari ponsel pintar, tablet, laptop, hingga konsol permainan. Waktu yang terlalu lama di depan layar dapat membawa risiko potensial bagi anak-anak,” kata Dr Arvind Otta, psikolog dan aktivis kesehatan mental.

Arvind menambahkan bahwa anak-anak berusia 6 tahun ke atas sebaiknya membatasi waktu penggunaan gawai mereka menjadi tidak lebih dari 2 jam per hari. Jika melampaui batasan ini, hal tersebut dapat membahayakan perkembangan anak.

Cahaya biru yang dipancarkan oleh layar gawai dapat mempengaruhi produksi hormon melatonin yang mengatur pola tidur. Oleh karena itu, sering terpapar cahaya layar dapat mengganggu tidur, menurunkan kualitas tidur, dan menyebabkan kelelahan di siang hari.

Lebih lanjut, Arvind menjelaskan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan iritabilitas, kesulitan berkonsentrasi, masalah memori, perubahan suasana hati, dan masalah lainnya.

Arvind juga menyebutkan beberapa tanda bahwa seorang anak mungkin mengalami kecanduan gawai, antara lain mulai mengganggu aktivitas sehari-hari seperti mengerjakan pekerjaan rumah, berpartisipasi dalam kegiatan di luar ruangan, dan aktivitas kreatif.

Selain itu, perubahan emosi dan perilaku juga dapat terjadi pada anak-anak yang mengalami kecanduan bermain gawai.

Jika anak-anak terpapar konten agresif atau tidak sesuai dengan usia mereka, hal tersebut dapat menyebabkan perilaku kasar atau kecemasan yang meningkat, serta dapat mengurangi kemampuan kognitif mereka yang berdampak pada kinerja akademik di sekolah.

Arvind memberikan beberapa tips untuk mengatur penggunaan gawai oleh anak dan mencegah terjadinya kecanduan.

Pertama, orang tua perlu menetapkan aturan yang jelas dan mengatur batasan waktu yang diizinkan bagi anak dalam menggunakan gawai.

Orang tua dapat membantu anak-anak memahami konsekuensi dari penggunaan gawai yang berlebihan. Hal ini membantu anak-anak untuk memahami pentingnya membatasi penggunaan platform digital.

Selain itu, menciptakan zona bebas gawai di rumah seperti di area belajar, ruang makan, atau kamar tidur juga dapat diterapkan. Zona bebas gawai dapat mengalihkan perhatian anak-anak dari penggunaan gawai.

Ketika anak-anak menggunakan gawai, penting bagi orang tua untuk mendampingi mereka. Ini membantu memperkuat hubungan antara orang tua dan anak serta memberikan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung.

Mendorong anak-anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik dan permainan kreatif juga merupakan langkah efektif dalam mengurangi waktu penggunaan gawai. Selain melatih fisik, kegiatan tersebut juga memiliki dampak positif pada kemampuan kognitif anak.

Mengawasi penggunaan media digital secara teratur pada anak-anak adalah hal yang penting untuk menjaga kesejahteraan mereka. Orang tua perlu segera melakukan intervensi jika menemui masalah dan tetap memantau aktivitas daring anak-anak mereka untuk melindungi mereka dari potensi bahaya,” tuturnya.

Sumber: Antara

Advertisement