Kiat Cegah Kekerasan Seksual pada Anak, Orang Tua Wajib Tahu

0
106
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock/somchaiP)

JAKARTA – Anak-anak yang mengalami pelecehan seksual sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang dilecehkan. Padahal, hal ini dapat memengaruhi cara mereka bertindak, berpikir, dan merasakan sesuatu.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan orang terdekat untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan seksual. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memberikan edukasi kepada anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan tujuh kiat bagi orang tua untuk mencegah kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan mereka.

“Peran orang tua sangat besar, jadilah pendengar yang baik, usahakan jadi sahabat anak. Cari waktu berkualitas, sekarang banyak orang tua yang sibuk, padahal penting untuk mencari waktu berkualitas. Kadang, walaupun waktu banyak namun kurang berkualitas jadi kurang bisa mendukung edukasi yang diberikan pada anak,” kata Anggota Satgas Perlindungan Anak PP IDAI Prof. Dr. dr. Meita Dhamayanti, Sp.A(K), M.Kes.

Menurut data IDAI yang dihimpun dari 1 Januari hingga 27 September 2023, Meita menyebutkan bahwa kasus kekerasan seksual paling banyak dilaporkan oleh korban yang berusia remaja, yakni 13-17 tahun, diikuti oleh kelompok usia 25-44 tahun dan 6-12 tahun.

Bentuk kekerasan seksualnya pun bervariasi. Korban dapat mengalami tiga jenis kekerasan yang berbeda, yaitu kekerasan fisik, verbal, dan non-verbal.

Lokasi kejadian bisa terjadi di rumah, di transportasi umum, maupun fasilitas publik lainnya. Pelaku bisa siapa saja, mulai dari orang tua, tokoh adat, teman sebaya, hingga orang yang tidak dikenal oleh anak.

Meita menekankan bahwa kejadian tersebut harus menjadi kewaspadaan bagi semua pihak karena kekerasan seksual adalah kejahatan yang menyebabkan luka dan trauma mendalam pada anak, yang sulit untuk disembuhkan. Butuh keterlibatan lintas sektor dalam penanganannya.

Oleh karena itu, Meita mengajak semua orang tua untuk memutus rantai kejadian tersebut dengan melakukan tujuh langkah pencegahan kekerasan seksual. Langkah pertama adalah menciptakan lingkungan yang mendukung dan penuh kasih.

Pada tahap ini, orang tua perlu menyediakan lingkungan yang aman dan penuh kasih bagi anak-anak, agar anak merasa dicintai, dihargai, dilindungi, serta membangun harga diri dan kepercayaan diri anak untuk menolak pelecehan.

Langkah kedua, orang tua harus menjalin komunikasi yang terbuka dan jujur dengan anak-anak. Hal ini dapat mendorong anak untuk membicarakan segala kekhawatiran atau masalah yang mereka miliki, termasuk pelecehan seksual.

Ketiga, orang tua dapat memberikan pendidikan seks yang sesuai dengan usia anak. Edukasi harus bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan membangun keterampilan anak untuk melindungi diri sesuai dengan keperluannya.

“Ajarkan cara mengidentifikasi situasi yang berbahaya, menolak pendekatan pelaku dan mencari bantuan ketika diperlukan,” katanya.

Langkah keempat, orang tua perlu menetapkan batasan seksual yang sehat dan memastikan bahwa anak mengerti pentingnya persetujuan. Orang tua harus menekankan bahwa tidak ada yang berhak menyentuh atau membuat anak merasa tidak nyaman tanpa izin mereka.

Selanjutnya, orang tua harus memantau dan mengawasi anak-anak mereka dengan cermat, terutama di hadapan orang dewasa yang tidak dikenal atau di tempat umum, untuk mencegah situasi di mana pelaku pelecehan bisa memanfaatkan anak-anak.

“Hal penting selanjutnya yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah mendukung program pencegahan pelecehan seksual di sekolah dan organisasi berbasis masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah pelecehan seksual,” ucap Meita.

Langkah ketujuh adalah mendorong anak-anak untuk selalu waspada terhadap situasi di sekitar mereka. Anak harus bisa mempercayai instingnya dan mencari bantuan ketika diperlukan, serta diajarkan cara mengidentifikasi atau menghindari situasi yang tidak aman.

Advertisement div class="td-visible-desktop">

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here