PARA menlu Liga Arab dalam penutupan sidang luar biasa yang digelar di Kairo, Minggu (20/11) merekomendasikan untuk membawa isu intervensi Iran di dunia Arab ke Dewan Keamanan PBB.
Dalam deklarasi pertemuan itu disebutkan, Liga Arab akan meminta DK PBB mengeluarkan resolusi yang mengharuskan Iran menghentikan intervensi di dunia Arab dan mengenakan sanksi jika negara itu tidak menggubrisnya.
Alasannya, kata Sekjen Liga Arab Hossam Zaki, agenda untuk membawa isu tersebut ke DK PBB karena intervensi Iran dianggap berbahaya bagi keamanan dan perdamaian, baik di dunia Arab mau pun internasional
Menurut Zaki, Liga Arab terdorong untuk melakukan upaya guna menghentikan ancaman dan intervensi Iran yang dilakukan dengan berbagai cara dan modus.
Ketegangan di Timteng terjadi pasca penembakan rudal balistik ke kota Riyadh oleh milisi Houthi pro Iran di Yaman awal November lalu. Arab Saudi menuduh Iran lah yang memasok rudal, walau pun hal itu dibantah.
Arab Saudi sejauh ini memang aktif mendukung rezim petahana Yaman pimpinan Mansour Hadi dengan melancarkan serangan udara ke posisi-posisi pemberontak suku Houthi dukungan Iran yang sat ini sudah menguasai ibukota, Sana’a.
Perseteruan antara Arab Saudi dan Iran juga terasa di tengah krisis politik di Lebanon yang berujung mundurnya PM Saad Hariri, diduga akibat tekanan dari Arab Saudi.
Arab Saudi diduga kesal pada Hariri, salah satu loyalisnya, karena dinilai tidak mampu bertindak tegas terhadap kelompok Hezbollah binaan Iran yang berkoalisi di pemerintah Lebanon pimpinan Presiden Michel Aoun.
Yang jelas, dunia Arab saat ini terbelah dua dalam konteks pro Arab Saudi dan Iran serta diwarnai ketegangan antara kedua negara.
Perebutan hegemoniÂ
Arab Saudi dan Iran juga terlibat perebutan hegemoni di Timur Tengah dan di tengah sejumlah konflik di kawasan itu keduanya berada dalam kubu yang saling berseberangan.
Irak, Suriah, Lebanon, pemerintah de facto suku Houthi di Yaman dan Qatar yang dikucilkan oleh empat negara Arab (Arab Saudi, Bahrain, UAE dan Mesir) berada di kubu pro Iran.
Iran bahkan membantu mengirimkan bantuan makanan besar-besaran ke Qatar saat diblokade dari darat, laut dan udara oleh keempat negara Arab Juni lalu.
Sementara itu, sejumlan negara Arab lainnya seperti Arab Saudi, Bahrain, Mesir dan UEA jelas-jelas anti Iran, sementara Aljazair, Kuwait, Maroko, Oman, Tunisia dan Sudan agaknya memilih sikap abu-abu.
Ironisnya, terkuakya hubungan rahasia tak langsung antara Israel – Arab Saudi yang dimediasi AS dan negara Eropa, khususnya terkait tukar-menukar intelijen sejak pasca Revolusi Iran pada 1979 juga kabar buruk bagi dunia Arab.                                                                       Titik temu kepentingan agaknya membuat hubungan rahasia Arab Saudi – Israel dimungkinkan.
Bagi Israel yang berhubungan baik dengan Iran di masa rezim Shah Reza Pahlevi,  berbalik pasca revolusi Iran menjadi seteru utama, sedangkan Arab Saudi yang menganut rezim monarkhi absolut  cemas, revolusi Iran akan menular ke negaranya.
Hubungan rahasia antara Israel dengan Arab Saudi dan sejumlah negara Arab lainnya diungkapkan oleh Menteri Energi Israel Yuval Steinitz di Radio Tentara Israel (19/11).
Kastaf AB Israel, Letjen Gadi Eizenkot kepada laman berita Arab Saudi juga mengatakan, negaranya siap berbagi info intelijen untuk menghadang Iran yang dianggap oleh Arab Saudi dan Israel sebagai ancaman utama di Timur Tengah.
Sesama gajah (negara-negara Arab) berkelahi, pelanduk (Israel) menikmati di tengahnya.





