JAKARTA (KBK)– Religions for Peace (RfP) New York, Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), menyelenggarakan Konsultasi Internasional untuk Aksi Kemanusiaan Lintas-Agama (International Consultation on Multi-religious Humanitarian Action) dengan tajuk bahasan “Ekstrimitas Kekerasan Atas Nama Agama, Krisis Pengungsi dan Migran, dan Penanggulangan Bencana” (Violent Religious Extremism, Migrant and Refugee Crisis and Disaster Relief) pada 12–14 Januari 2016 di Hotel Century, Jakarta.
Pertemuan internasional ini dihadiri oleh para tokoh-tokoh agama dunia, perwakilan pemerintah, lembaga-lembaga masyarakat sipil internasional, dan lembaga-lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa,di antaranya RfP, CDCC, MDMC, Asian Conference of Religions for Peace, World Conference of Religions for Peace, UN High Commissioner for Refugees (UNHCR), US Agency for International Development (USAID), Siaga Bumi, GHR Foundation, Catholic Relief Service, World Vision, dan Mediators Beyond Borders.
Pertemuan ini mengangkat tiga topik pembahasan, yaitu, Ekstrimitas Kekerasan Atas Nama Agama, Krisis Pengungsi dan Migran, dan Penanggulangan Bencana dan Pembangunan.
“Hari ini peserta mendiskusikan tentang ekstrimitas kekerasan atas nama agama dan krisis pengungsi dan migran, dilanjut besok dengan topik penanggulangan bencana dan pembangunan,” ujar Yayah Khisbiyah, Program Director CDCC kepada KBK, (13/1/2016).
Tadi pagi, lanjut Yayah, peserta diskusi bersama Prof. Dr. Din Syamsuddin yang bertindak sebagai Ketua Pengarah Panitia berkunjung ke Istana Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Pada kesempatan itu JK menyampaikan, kita harus bangga memiliki Pancasila sebagai dasar negara yang menjadi landasan akan keadilan dan persatuan.
Selanjutnya wakil presiden RI tersebut menyatakan bahwa faktor kekerasan atas nama agama bukanlah ajaran dari agama itu sendiri, melainkan ada kepentingan politik yang membelakangi terjadinya kekerasan tersebut.
Yayah juga menambahkan hasil dari diskusi ini, akan menjadi rekomendasi humanitarian dalam forum yang akan dilakukan di Turki beberapa bulan lagi. “Kita harus bersyukur karena Muhammadiyah merupakan mitra utama RfP,” pungkasnya.





