
GULA adalah jenis karbohidrat yang dipecah dalam tubuh manusia menjadi glukosa, dialirkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah menjadi energi dalam beraktivitas sehari-hari.
Jika dikonsumsi secukupnya dan terukur, gula yang memiliki rasa manis bermanfaat untuk menciptakan energi bagi tubuh, namun jika berlebihan dapat memicu berbagai gagguan kesehatan.
Masalahnya,  jika seseorang mengonsumsi terlalu banyak gula  yaitu gula yang ditambahkan ke dalam produk makanan untuk meningkatkan rasa atau memperpanjang masa penyimpanan. Makanan seperti kue, kue kering, permen, minuman ringan, jus buah, dan sebagian besar makanan olahan mengandung gula tambahan.
Mengonsumsi gula terlalu banyak mmicu sejumlah masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, kerusakan gigi, dan kolesterol tinggi. Jadi, mengenali tanda-tanda peringatan, seseorang mengalami kelebihan gula, sangat penting.
Meski identik dengan rasa manis, tak berarti gula hanya terkandung pada makanan bercitarasa manis saja. Kandungan gula umumnya ada pada makanan mengandung karbohidrat seperti tepung, roti, nasi, tebu, dan lain-lain.
Tanpa mengonsumsi gula, menurut situs web Kemenkes, akan membuat tubuh manusia terutama saraf pusat kekurangan energi sehingga sulit berkonsentrasi, mudah lelah, sulit bergerak dan bernafas serta suhu tubuh tak teratur.
Dalam Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, konsumsi gula per orang per harinya adalah 10 persen dari total energi atau sekitar 200 kalori. Jumlah tersebut setara dengan 50 gram atau 4 sendok makan gula.
Tidak untuk dihindari
Gula bukan untuk dihindari, tetapi konsumsinya saja yang harus diperhatikan agar tidak berlebihan. Cara yang paling sederhana adalah dengan memperhatikan label gizi makanan.
Label gizi makanan yang terletak pada kemasan mengandung berbagai informasi gizi seperti total energi, karbohidrat, lemak, garam, vitamin, mineral, serta gula.
Di samping satuan massa, label gizi makanan pun menyantumkan persentase angka kecukupan gizi (AKG) harian per porsi untuk mempermudah Anda memperhatikan asupan yang masuk.
Mengonsumsi gula terlalu banyak dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan seperti obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi, kerusakan gigi, dan kolesterol tinggi.
Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda peringatan seseorang mengalami kelebihan gula sangat penting untuk diketahui.
Spesialis dermatologi, flebologi, proktologi, dan pengobatan gizi, dr Lela Ahlemann seperti dikutip Express UK mengatakan ada lima tanda yang mengindikasikan seseorang kelebihan gula.
Salah satu tandanya, kenaikan berat badan dan rasa lapar terus-menerus karena gula mengandung banyak kalori sehinga jika dikonsumsi berlebihan menyebabkan obesitas dengan cepat.
Hal itu disebabkan karena gula meningkatkan kadar glukosa darah dalam jangka pendek, tetapi tidak mengenyangkan, karena kurangnya serat. Jika orang merasa lapar, ia akan makan lebih banyak dari yang dibutuhkan hingga pada akhirnya menyebabkan penambahan berat badan.
Pertanda lain, lanjut dr. Ahlemann, munculnya jerawat karena konsumsi gula dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon yang disebut faktor pertumbuhan mirip insulin 1, atau IGF-1.
“Bersama insulin, IGF-1 menstimulasi kelenjar sebasea dan menyebabkan keratinisasi berlebihan di kelenjar sebasea, sehingga tersumbat dan berujung pada peradangan,” ungkapnya
Menaikkan glukosa
Mengonsumsi gula menyebabkan kadar glukosa naik cepat, menyebabkan pelepasan insulin, namun lonjakan itu sering kali begitu kuat sehingga gula darah tidak turun kembali ke tingkat normal, malah turun di ambang batas dasar.
“Ini disebut hipoglikemia, yang kemudian menyebabkan keinginan makan berlebihan. Pada beberapa orang, hal ini juga menyebabkan perubahan suasana hati, mudah marah, ” kata dr Ahleeman.
Kelebihan pasokan gula juga berpotensi menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun sehingga membuat seseorang lebih sering mengalami sakit.
“Biasanya, gula diserap oleh tubuh melalui usus halus. Namun, jika jumlah glukosa dan fruktosa yang kita konsumsi melebihi kapasitas usus halus, gula bermuara di usus besar,” imbuhnya. Bakteri yang hidup di usus besar kemudian memakan gula tersebut. “Pemberian makanan secara selektif menyebabkan bakteri ini berkembang biak.”
“Masalahnya, bakteri membawa endotoksin pada permukaannya  yang kemudian dapat meninggalkan usus dan memasuki aliran darah, menyebabkan peradangan diam-diam, mempercepat penuaan dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.”
Dr Ahlemann menyebutkan, secara ilmiah terbukti bahwa asupan gula yang tinggi menyebabkan terbentuknya advanced glycation end products (AGEs), yang menghancurkan serat kolagen.
“Jika terdapat terlalu banyak AGE, serat kolagen menjadi kaku, rapuh, dan mengalami degenerasi. Tubuh juga kurang mampu memperbaiki dirinya sendiri, berarti kualitas kolagen semakin memburuk.”
Tidak hanya gula, apa pu yang berlebihan past berakibat buruk bagi tubuh manusia. Ayo kembali ke pola hidup sehat, makan dan minum terukur, berolahraga dan mensyukuri kehidupan.




