Korban Luka Bentrokan Gusuran Rawajati Masih Menahan Sakit

Ilustrasi Penggusuran di Rawajati/ suara.com

JAKARTA – Mismanto (49), seorang warga yang jadi korban luka saat bentrokan terjadi pada penggusuran, Kamis (1/9/2016) masih menahan kesakitan dan geram dengan sikap pemerintah yang menggusur tempat tinggalnya.

“Saya udah 30 tahun tinggal di sini, anak-anak saya besar di sini, beraninya sama yang kecil, coba itu yang di situ,” tunjuk Mismanto ke arah gedung Kalibata City yang jaraknya sangat dekat itu.

Diketahui, Mismanto baru pulang dari rumah sakit Jumat (2/9/2016) pagi. Dia masih mengapit hasil rontgen kepala, rusuk, dan kakinya.

“Awalnya ada batu bata yang dilempar Sat Pol PP dari belakang, kami dikepung mereka, batu bata itu kena perut saya,” katanya sembari memperlihatkan perut sebelah kirinya yang dibalut kain kasa dan memar kepada liputan6.com, Sabtu (3/9/2016).

Ia memperlihatkan rontgen terhadap rusuk kirinya,juga rontgen rusuk gambar hitam putih cetak kepalanya. “Kepala saya ditendang, diinjak-injak, lalu ada yang mukul saya pakai botol beling, pecahannya masuk ke sini (nunjuk kaki) dan ini enggak bisa dijahit,” jelas Mismanto.

Ia kini tinggal di sebuah tenda yang bersandar pada pagar besi yang menjadi batas apartemen Kalibata City dengan perkampungan sepanjang rel kereta api. Trotoar jalan itu diubah tiga anak Mismanto jadi tenda darurat.

Di sela pembicaraannya dia juga menunjuk rumahnya yang telah hancur, “Itu rumah saya,” kata Mismanto menunjuk sebuah puing-puing.

Hingga kini, Ia belum tahu mau pindah ke mana. Sebuah terpal diikat ke atas pagar, lemari dan perabot rumah jadi dindingnya, sebuah kasur palembang berwarna merah sudah ditiduri Mismanto bersama istri dan tiga orang anaknya.

Ia masih belum mau diajak pindah oleh calon menantunya, anak perempuan Mismanto yang tertua akan menikah dan sudah memiliki rumah.

Sebelumnya, Gubernur Ahok mengatakan sudah menyediakan rumah susun sewa di Marunda, Jakarta Utara, beserta kios bagi yang berdagang. Namun sebagian warga menolak dan tetap memilih tinggal meratapi puing bangunan rumahnya yang telah hancur.

Advertisement