KRESNA KEMBANG

Narayana sebagai pencuri Dewi Rukmini, hendak ditangkap Harjuna. Mereka pun bersandiwara.

“PUSER ke atas memang 50 tahun, tapi puser ke bawah saya selalu merasa remaja 17 tahun, kok…!” begitu kilah Pendita Durna selalu, manakala ditanya pers. Dan memang itulah karakter pendita dari Pertapan Sokalima ini. Meskipun usia rielnya 67  tahun, Pandita Durna yang menjabat Kepala Staf Urusan Kebatinan & Paranormal di Istana Gajahoya ini masih berpenampilan genit. Rambutnya yang memutih selalu disemir pikok. Kacamata hitam dan celana jins di balik jubahnya selalu menyertai dalam acara   pisowanan ke Istana Gajahoya.

Karena kegenitannya itulah,   kakek yang sudah  layak masuk panti Werda Cipayung, Jakarta Timur, ini mencoba-coba melamar putri Prabu Bismaka dari Kumbina,  Dewi Rukmini, yang baru saja lulus SMA. Dasar nasib sedang mujur, lamaran tersebut diterima dengan catatan harus bisa menebak teka-teki Dewi Rukmini.

Jawaban surat Prabu Bismaka sangat melegakan keluarga Ngastina yang pagi itu sedang mengadakan sidang selapanan. Prabu Duryudana ikut berbahagia karenanya, sebab dengan kawinnya Pandita Durna nanti berarti jabatan Ketua Tim Penggerak PKK cabang Sokalima tak perlu kosong berkepanjangan.

“Paman Durna, apakah Anda sudah siap dengan jawaban untuk teka-teki Dewi Rukmini?” kata Prabu Duryudana selepas membaca surat balasan lewat email dari Prabu Bismaka.

“Tenang saja, anak Prabu. Teka-teki Dewi Letekmini (begitu selalu dia menyebut Rukmini, Red) soal sepele. Tidak percuma saya sering mengisi TTS di koran dan majalah,” jawab Pandita Durna mantap.

Keluarga Ngastina segera berbagi tugas untuk mengantar keberangkatan calon mempelai jompo ke Kumbina. Adipati Karno yang terkenal micara (pintar bicara) santun dan seiman, ditugasi di bagian sambut-menyambut acara perkawinan di Kumbina nanti, mewakili Prabu Duryudana. Sedangkan patih Sengkuni mempersiapkan acara ngunduh pengantin, sementara Pandita Durna sendiri sibuk pesan jas beberapa stel di penjahit Wisnu Taikidul.

Berkat postingan di majalah online “Wayang Ria”, rencana perkawinan Dewi Rukmini melawan Pandita Durna sudah menjadi firal di jagad maya. Bagawan Abiyasa pensiunan pegawai negeri yang baru saja terima THR dan gaji ke-13, pagi itu ketamuan Harjuna di Pertapaan Wukiretawu. Mereka juga sedang sibuk memperbincangkan rencana perkawinan spektakuler tersebut. Mereka merasa salut dengan Pandita Durna, sebab meskipun sudah bau tanah masih best seller untuk kawin dengan gadis cantik macam precenter TV Grace Natalia.

“Jangan-jangan Pandita Durna main guna-guna, Eyang. Apa sudah tidak ada stok wayang tampan, sehingga Prabu Bismaka menerima lamaran Pandita Durna?” ujar Harjuna seakan menyesalkan.

“Ssst jangan ngiri pada rezeki orang. Eyang sendiri kalau masih muda nggak nolak, kok!”

Sebagai kesatria yang masih keluarga dekat Kumbina, Harjuna oleh Bagawan Abiyasa kemudian disarankan datang lebih awal ke sana. Siapa tahu tenaganya sangat dibutuhkan. Minimal bisa disuruh-suruh cari pinjaman karpet atau malah jaga penitipan sepeda motor.

“Tolong sampaikan maaf dan salam saya pada Prabu Bismaka. Saya cuma bisa kirim kado, soalnya tepat di hari perkawinan itu saya justru sedang tirakatan di Gunung Kawi,” pesan Begawan Abiyasa sambil menyerahkan bungkusan berpita yang isinya tak lebih cuma gelas polos selusin.

Sementara Harjuna berangkat ke Kumbina dengan mengendarai mobil model roti tawar, Narayana putra raja Mandura yang sudah beberapa waktu lamanya kost di Widarakandang juga masih sibuk berdandan untuk kondangan ke tempat yang sama. Tapi benarkah Narayana akan kondangan ke Kumbina?

Lebih dari itu sebenarnya. Tekad pemuda yang berkulit hitam karena banyak berjemur ini sudah bulat. Ingin mencuri Dewi Rukmini dan diajak kawin lari. Kenapa begitu? Sebelum dilamar oleh Pandita Durna, sebenarnya Rukmini sudah berpacaran dengannya. Sayang, sebelum Narayana mengajukan lamaran, keduluan pandita dari Sokalima. Sedangkan bagi Rukmini, untuk menolak kehendak orang-tuanya serba repot.

Di Istana Kerajaan Kumbina yang sudah dihias pakai tenda-tenda sewaan, siang itu tampak ramai sekali. Para tamu dari Pandawa dan Ngastina sudah hadir lengkap. Pandita Durna yang akan menjadi raja sehari, tampak keren sekali dengan pakaian pengantin. Namanya juga penasihat spiritual, dia kali ini pakai sorban putih di kepalanya, sehingga sepintas mirip Mochtar Ngabalin jubir Istana Presiden Jokowi.

“Mana teka-tekimu dinda Letekmini, biar saya tebak segera.?” kata Pandita Durna tak sabaran.

“Sabar dong kek, semua kebagian.” Jawab Dewi Rukmini ketus.

Merah muka dewi Rukmini mendengar tutur kata colon suaminya yang kurang santun itu. Tapi karena sesuai dengan janjinya tempo hari, maka teka-teki tersebut segera disampaikan di depan para undangan.

“Teka-teki saya tidak banyak, kok Eyang Bagawan. Dalam penghujung tahun 2018 ini, kira-kira kurs dolas AS menyentuh Rp 15.000,- nggak….?” kata Dewi Rukmini dengan bibir bergetar.

Ternyata teka-teki yang gampang-gampang sulit itu ditanggapi dengan senyum simpul oleh Pandita Durna. Setelah mengheningkan cipta sejenak seakan minta petunjuk Sanghyang Wenang di Kahyangan Alang-Alang Kumitir, dia menjawab lantang: “Tergantung kenyinyiran kaum oposisi….!”

Dewi Rukmini terkesiap. Apalagi setelah seluruh wayang yang hadir dimintai persetujuan oleh Pandita Durna menja­wab kompak “tuuuul,” kembang kerajaan itu Kumbina benar-benar merasa terpojok. Memang benar jawaban itu tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia tak sudi jadi nyonya Pendita Durna. Begitu frustasi Dewi Rukmini, sehingga dia segera kabur menuju taman keputren.

“Lho, Iho, mau ke mana calon istriku. Kok seperti bandar buntutan saja, ketembus nomernya langsung kabur….!” teriak Pandita Durna sambil mengejar sang dewi.

Dewi Rukmini di taman keputren bertemu Narayana yang agaknya sudah lama menunggu. Dia segera memeluk pria kekasihnya itu sambil menangis. Rukmini sangat bersedih karena teka-tekinya terjawab, sedangkan jiwa dan raganya hanya akan dipersembahkan kepada Narayana, bukan Pandita Durna.

“Tolong Kanda, kita kabur dan kawin lari saja. Saya tak mau jadi nyonya Pandita Durna,” ratap Rukmini.

“Kawin lari sih gampang, tapi surat-suratnya kita kan belum komplit. Memangnya kita mau kumpul kebo?” ujar Narayana tak kurang paniknya.

Pandita Durna melihat adegan mesra-mesraan Rukmini-Narayana cemburunya selangit, tapi tak berani berbuat. Dia cuma bisa mengadu ke keluarga colon mertuanya. Keluarga Pandawa tahu Narayana yang jadi maling di keputren Narayana, berlagak pilon. Cuma Harjuna saja yang berani bertindak tegas. Dengan dibantu keluarga Ngastina Harju­na mencoba menaklukkan Narayana yang telah menjelma jadi raksasa hybrida.

Harjuna memang kesatria pilih tanding, lama-lama Na­rayana menyerah dan takluk. Kuatir bila ditangkap dan diserahkan kepada keluarga Ngastina bakal babak belur dipermak dia menciptakan Narayana lain yang dibuat dari kembang.

“Kita kan sohib Harjuna, tolong Narayana yang abal-abal saja yan ditangkap. Nanti kamu saya kasih adikku deh!” Narayana yang juga bernama Kresna itu memberikan iming-iming.

Harjuna yang memang sudah lama mengincar Bratajaya, oke-oke saja. Narayana aspal itu segera dibawa ke istana dan keluarga Hastina yang demikian dendam segera menghajarnya sampai tewas, disponsori Pandita Durna si peng­antin gagal.

Berita pembunuhan itu sampai pula ke telinga Endang Bratajaya di Widarakandang. Mendengar kakak kesayangannya tewas dalam pesta pengantin secara keji, kemarahannya segera bangkit. Dengan mengangkat rok tinggi-tinggi, dia melabrak ke Kumbina. Karena yang dianggap bikin gara-gara adalah Rukmini, dia menuntut Rukmini pula yang dibunuh sebagai pengganti.

“Utang nyawa harus dibayar nyawa. Rukmini harus mengalami nasib seperti pengedar narkotika di Malaysia, harus….!” teriak Bratajaya begitu tiba di Kumbina.

Perempuan sedang kalap memang menakutkan, sehingga Prabu Bismaka tak bisa lain kecuali menyerahkan puteri kesayangannya untuk dieksekusi. Cuma Pandita Durna dan keluarga Ngastina mencoba mencegah, tapi malah diomeli habis-habisan oleh Bratajaya.

“Hai   tua   bangka  yang  nggak  tahu   diri,   sudah   mau ngurek   (masuk) bumi saja masih    belagu    kawin lagi. Kasihan yang muda-muda nggak kebagian. Biarkan saja Rukmini saya bunuh, jangan ikut campur….!” kata Bratajaya meledak- ledak.

Mendengar protes dan kritikan Bratajaya yang begitu tajam, Pandita Durna dan seluruh keluarga Ngastina memilih pulang. Sebab makin banyak Bratajaya ngoceh, hanya akan memperbesar kemaluan, eh menambah rasa malu saja.

“Celaka, bagaimana ini Dimas Sengkuni? Saya sudah terlanjur kredit ranjang pengantin, masa gagal dipakai….?” keluh Durna sepanjang jalan pulang ke Ngastina.

Dengan bubarnya keluarga Ngastina Endang Bratajaya segera bermaksud membunuh Dewi Rukmini. Tapi sebelum keris itu ditusukkan, tiba-tiba muncul Narayana kakaknya. Dia buang keris itu, dan dipeluknya tubuh Narayana kuat-kuat.

“Oh, kau masih hidup. Kakandang Untung saja asuransi

jiwamu belum saya klim….!” tangis Bratajaya.

“Ya masih hiduplah. Yang dieksekusi kan Cuma penjelmaan kembang,” jawab Kresna bisik-bisik.

Karena calon pengantin Pandita Durna sudah mengundurkan diri, akhirnya Narayana jadi calon tunggal. Siang itu juga dia diresmikan jadi pengantin melawan Rukmini. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement