KTT Kuala Lumpur: Cermin tak Solidnya Dunia Islam

PM Malaysia Mahathir Mohamad (kiri) dan Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan dalam KTT negara-negara muslim di Kuala Lumpur yang dibuka, Kamis (19/12). Negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) terbelah mengikuti KTT tersebut.

KTT KUALA LUMPUR, Malaysia, yang sejatinya digelar untuk menggalang segenap kekuatan negara-negara Islam atau yang mayoritas warganya pemeluk Islam ternyata malah mencerminkan fakta sebaliknya.

Sampai Rabu malam (18/12), pada jamuan makan yang mengawali pembukaan pertemuan pada keesokan harinya (Kamis,19/12) hanya 20 atau sepertiga lebih dari seluruhnya 56 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang mengirimkan delegasinya.

Bahkan PM Pakistan, Imran Khan yang semula bersama tuan rumah, PM Mahathir Mohamad dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memrakasai KTT Kuala Lumpur 2019, tidak hadir.

Muncul kabar burung, penarikan diri PM Khan disebabkan tekanan dari Arab Saudi, salah satua mitra utama Pakistan yang selama ini terlibat perebutan hegemoni pengaruh di kawasan Timur Tengah dengan Iran.

Kerajaan Arab Saudi yang juga tidak mengirimkan wakilnya untuk hadir di KTT Kuala Lumpur beralasan, walau membahas isu terkait 1,75 milyar umat muslim dunia, pertemuan itu dianggap “kurang pas”.

Alasannya, seperti diberitakan Kantor Berita Saudi, SPA, Raja Salman telah menelpon PM Mahathir , menegaskan bahwa persoalan-persoalan terkait dunia Islam semestinya dibahas di forum OKI.

Bahkan Sekjen OKI Yousef al-Othaimeen menilai, KTT Kuala Lumpur bisa memecah belah Islam karena akan menyaingi OKI. “Setiap upaya pelemahan terhadap platform OKI adalah pelemahan Islam dan muslim, “ tuturnya.

Sebaliknya, PM Mahathir dalam pernyatan resminya menegaskan, ia sama sekali tidak berniat menciptakan “blok baru” negara-negara Islam melalui penyelenggaraan KTT Kuala Lumpur kedua kalinya (pertama, 2014).

Ketua KTT Kuala Lumpur 2019 dan selaku tuan rumah, PM Mahathir menyatakan, di forum ini ia menyatakan kesiapannya memimpin kembali peradaban umat Islam.

“Upaya mengumpulkan para pemimpin intelektual dan cendekiawan Islam di KTT ini bertujuan untuk mengindentifikasi permasalahan yang menimpa dunia muslim dan mencarikan solusinya, “ kata PM Mahathir.

PM Mahathir Frustrasi
PM Mahathir pekan lalu menyampaikan rasa frustrasi atas ketidak mampuan OKI membentuk front bersama dan bersikap tegas merespons sejumlah isu, termasuk dugaan terus berlangsungnya pelanggaran HAM oleh rezim China terhadap suku minoritas muslim Uighur di wilayah otonomi Xinjiang.

Kecaman terhadap dugaan aksi pelanggaran HAM oleh penguasa China terhadap suku Uighur di Xinjiang justeru disuarakan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa yang warga muslimnya minoritas.

RI mengutus Menlu Retno Marsudi yang hadir hanya dalam acara pembukaan, Kamis pagi, lalu kembali ke Jakarta, sedangkan Wapres Ma’ruf Amin yang semula dijadwalkan hadir, batal dengan alasan, disarankan istirahat oleh dokter.

Kritik terhadap para pemimpin negara Islam juga dilontarkan oleh muslim pemain bola klub Arsenal, Inggeris ewarganegara Jerman asal Turki, Mesut Oezil yang menyebutkan, mereka berdiam diri, tidak melakukan apa-apa atas sejumlah pelanggaran HAM terhadap warga Uighur di Xinjian, China.

Berdasarkan laporan dari beragam sumber yang dibantah pemerintah China, warga muslim Uighur mengalami berbagai tekanan seperti dilarang beribadah, berkumpul dan menyampaikan pendapat, didiskriminasi dalam pekerjaan, dipersekusi dan bahkan dilaporkan sekitar 2.500 orang dihukum mati karena dianggap membangkang.

Kemenlu RI sendiri mengaku memilih bersikap hati-hati merespons dugaan kasus-kasus pelanggaran HAM oleh rezim pemerintah China tersebut.

Sedangkan pimpinan PP Muhammadiyah juga menampik pemberitaan the Wall Street Journal yang menyebutkan , ormas-ormas Islam melunak pasca diundangnya perwakilan mereka oleh rezim Beijing ke Xinjiang Februari lalu.

Sebanyak 18 perwakilan media dan ormas Islam diundang pemerintah China untuk menyaksikan kehidupan suku minoritas muslim Uighur, walau ada diantara peserta yang mengaku, kegiatan mereka diatur dan diawasi ketat oleh aparat China.

Saudara-saudara muslim kita suku Uighur, Palestina, etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar, dan muslim di Chechnya di Rusia perlu bantuan dan dukungan kongkret terutama dari negara-negara Islam atau yang penduduknya mayoritas Islam.

Namun jika dunia Islam hanya mengedepankan egonya, agaknya susah juga diharapkan kekompakan dan langkah bersama untuk mencarikan solusi atau membantu sesama muslim yang tertindas dan terzalimi. (AFP/Reuters/ns)

Advertisement