Lab Minim untuk Deteksi Hepatitis

jika anak demam, diare, muntah dan mual, segera hubungi fasyankes terdekat, untuk memastikan tidak terkena hepatiitis akut yang sudah menyebar di 20 negara.

LAB di daerah-daerah, apalagi di luar Jawa masih sangat terbatas jumlahnya untuk menghadapi kemungkinan lonjakan kasus hepatitis akut misterius yang sejauh ini sudah terdeteksi di 20 negara termasuk Indonesia.

Di Indonesia, kasus hepatitis yang belum bisa dikonfirmasi penyebabnya itu menimpa tiga anak, satu di antaranya berusia dua tahun belum divaksin, satu lagi usia delapan baru divaksin dosis pertama dan yang ketiga, 11 tahun sudah divaksin lengkap.

Ketiga pasien yang dikonfirmasi negatif dari Covid-19 meninggal dalam rentang waktu yang berbeda sejak pertengehan sampai 30 April 2022 setelah dirawat di RSCM Jakarta Pusat.

Akibat keterbatasan lab, pengujian sampel darah di laboratorium pun harus membutuhkan waktu sekitar dua pekan karena sampel  harus dikirimkan dari daerah ke lab di Jakarta (RSPI Prof Dr Sulianti Saroso atau Fakultas Kedokteran UI)  atau ke FK Unair, Surabaya.

Ketiga kasus tersebut, menurut Sekretaris Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes , Siti Nadia Tarmizi, belum bisa dikonfirmasi  hepatitis berat, mengingat investigasi sejauh ini belum rampung.

Hasil lab nanti akan menentukan apakah ketiga pasien tersebut terpapar hepatitis A,B,C, D dan E atau jenis hepatitis lainnya yang belum dikenal.

Sementara itu, berdasarkan penyelidikan epidemiologi pada  ketiga kasus, sejauh ini tidak ada riwayat dari keluarga korban yang terpapar hepatitis atau penyakit kuning, bahkan setelah penularan terjadi, tak satu pun anggota keluarga yang mengalami gejala serupa.

Korban lebih 200 orang

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan tentang 10 kasus hepatitis yang menyerang anak dari rentang usia satu bulan sampai 16 tahun di Skotlandia Tengah, Inggeris Raya antara Januari hingga Maret lalu. Kini sudah lebih 200 orang korban di 20 negara.

Sebagian korban tidak mengalami demam dan dari hasil lab tidak terbukti ada paparan virus hepatitis A,B, C , D dan E yang sudah dikenal selama ini. Temuan terbanyak adalah patogen yang disebut adenovirus 41F.

Setelah diobati sebagan pnderita, pada umumnya jkembali pulih kesehatannya walau ada beberapa diantaranya yang harus memerlukan transplantasi hati dan beberapa lagi meninggal.

Ada juga kecurigaan, vaksin AstraZeneca untuk melawan Covid-19 yang menggunakan platform adenovirus dituding sebagai penyebab munculnya hepatitis, namun hal itu ditepis, mengingat, sebagian besar korban, berusia di bawah lima tahun yang belum divaksin.

Gejalanya a.l turun kesadaran, demam tinggi, mual, muntah dan nyeri perut, warna urin pekat dan feses pucat, lesu, hilang nafsu makan, gatal, nyeri sendi, gatal-gatal.

Pencegahan yang dianjurkan:  rutin mencuci tangan, minum dan makan makanan yang dimasak sampai matang, buang tinja atau popok pada tempatnya, gunakan alat makan sendiri-sendiri, ikuti prokes 3M.

Last but not least, jika anak mengalami gejala hepatitis, segera larikan ke fasilitas layanan kesehatan terdekat, jangan menunggu sampai kondisinya serius (selaput mata dan kulit menguning).

 

 

 

 

 

 

Advertisement