SEPANTASNYALAH bangsa Indonesia bersyukur. Doa bersama (Aksi 212) yang digelar di kawasan Silang Monas sampai Bundaran Hotel Indonesia , Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu berlangsung lancar, tertib, aman dan penuh kedamaian.
Aksi yang diikuti ratusan ribu, bahkan ada yang menyebutkan lebih dari sejuta umat Islam ini menjadi “icon” lembaran baru era demokrasi Indonesia yang diperkokoh jalinan relasi harmonis antara umara (pemerintah) , ulama dan umatnya.
Dipicu pernyataan Gubernur DKI Jakarta (non aktif) Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang dianggap menista agama Islam, baik massa di akar rumput maupun kelompok elite seolah-olah terbelah dua dalam sikap pro-kontra.
Aksi 212 digagas oleh tokoh-tokoh ulama yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Islam (GNPF MUI).
Di bawah bendera “Aksi Super Damai”, pengerahan massa yang akan digelar merupakan babak ketiga atau kelanjutan aksi-aksi sebelumnya guna menekan pemerintah agar menghukum tersangka pelaku penistaan agama, Gubernur DKI Jakarta (non-aktif), Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.
Di pihak lain, pemerintah, mulai dari presiden, menkopolhukam, panglima TNI sampai kapolri semula sudah “mewanti-wanti” agar Aksi 212 tidak digelar, mengingat tuntutan agar Ahok diadili sudah dipenuhi dengan menetapkan statusnya sebagai tersangka.
Aksi lanjutan untuk menuntut Ahok agar segera ditahan, dianggap pemerintah mengada-ada karena pihak penyidik (polisi) lah yang berhak menentukan perlu-tidaknya penahanan tersangka.
Rencana Aksi 212 juga membuat ketar-ketir kelompok etnis dan pemeluk agama minoritas, juga kalangan pebisnis.
Sejumlah pengusaha toko, restoran dan kegiatan lain di pusat bisnis di kawasan Jakarta Pusat memilih tutup. Bagi mereka, lebih baik menghentikan kegiatan sementara, karena sulit memprediksi apa yang terjadi di tengah aksi massa.
Kekhawatiran sebagian warga bisa dimaklumi, mengingat hujatan kebencian, caci-maki dan ancam-mengancam antara kedua kubu yang pro dan kontra bersliweran di media sosial.
Suhu politik juga terus memanas di tengah safari politik Presiden Jokowi untuk menemui sejumlah pimpinan parpol, ormas keagamaan dan menginspeksi satuan-satuan utama TNI dan kepolisian. Pernyataan presiden terkait adanya ‘’penunggang’’ aksi massa juga menambah kekhawatiran tentang rentannya situasi yang dihadapi bangsa dan negara.
Kompromi akhirnya dicapai setelah GNPF akhirnya bisa menerima saran pemerintah. Aksi 212 bisa digelar, tetapi formatnya diubah dari unjukrasa menjadi doa bersama, diisi doa-doa, zikir dan tausiyah, tidak ada orasi.
Aksi yang semula akan digelar di kawasan Bundaran HI dipindahkan ke kawasan Silang Monas, sedangkan waktunya dibatasi dari pukul 08.00 sampai 13.00 usai shalat Jumat.
Keberhasilan Aksi 212, juga tidak lepas dari buah aksi “blusukan” Jokowi berujud safari politik, menemui sejumlah pimpinan parpol dan pimpinan ormas Islam seperti MUI, Muhammadiyah dan NU.
Jokowi juga menginspeksi satuan Kopassus, Marinir, Pakhasau dan Kostrad serta Brimob untuk memastikan, mereka tetap setia mengawal tegaknya NKRI dalam kerangka Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD l945.
Kepiawaian Kapolri, Jenderal Pol. Tito Karnavian dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo untuk membuka dialog dan bersedia mengakomodasi aspirasi umat Islam yang diwakili para tokoh agama dalam wadah GNPF, juga ikut memberikan andil besar tercapainya kompromi.
Kehadiran presiden dan Wapres Jusuf Kalla beserta sejumlah pembantunya di ajang Aksi 212 juga ikut merekatkan kembali kebersamaan antara umara, ulama dan umat yang sebelumnya terganggu ditengah hiruk-pikuk pro-kontra kasus Ahok.
Aparat keamanan tanpa senjata, juga polwan berhijab dan polisi pria bersurban yang iku berzikir, terbukti bisa meniadakan jarak antara mereka dengan rakyat.
Saling mengingatkan antar peserta untuk tertib , menjaga lingkungan dan kebersihan, berhasil menghapus stigma perilaku jorok anggota masyarakat Indonesia yang mengikuti helat massal dimana-mana sebelumnya.
Sebagian peserta yang sudah menyiapkan kantong-kantong plastik, memunguti sampah berupa botol-botol plastik bekas wadah minuman, kotak karton bekas wadah makanan atau koran bekas alas shalat berjamaah.
Warga, secara individu maupun kelompok, LSM, organisasi sosial, instansi swasta dan pemerintah menyediakan pasokan logistik berupa nasi kotak, nasi bungkus, penganan ringan, minuman kemasan, kurma atau camilan lainnya dan juga sajjadah.
Suka atau tidak suka, Aksi 212 telah menaikkan pamor umat Islam Indonesia sebagai insan yang cinta damai dan anti kekerasan, juga menunjukkan keberhasilan Jokowi memainkan seni kepemimpinannya merangkul semua pihak.
Jika kebersamaan antara umara, ulama dan segenap elemen bangsa lainnya berlanjut dalam keseharian – tidak sebatas pada event-event tertentu seperti di saat Aksi 212 saja – tentu apapun permasalahan bangsa bisa diatasi.
Juga seandainya, bersih-bersih sampah yang dilakukan peserta Aksi 212 diiringi aksi “bersih-bersih” melawan korupsi, Indonesia juga akan bersih dari praktek busuk yang telah memiskinkan dan menyengsarakan bangsa selama ini.*



