JAKARTA, KBKNEWS.id — Selama lebih dari satu pekan, Sahdiamin Tambunan, seorang perempuan lansia di Kelurahan Aek Tolang Induk, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, harus bertahan hidup tanpa akses air bersih.
Pascabanjir bandang, aliran air pipa dari gunung yang selama ini menjadi tumpuan warga terputus total akibat longsor dan timbunan lumpur.
“Sudah lebih satu minggu air tidak masuk. Airnya kotor seperti lumpur. Kalau hujan turun, baru bisa mandi. Kalau tidak hujan, ya tidak mandi,” tutur Sahdiamin.
Di wilayah tersebut, sebenarnya masih terdapat sumber mata air terdekat. Namun airnya keruh dan tidak layak digunakan. Warga terpaksa mengantre siang dan malam untuk mendapatkan air seadanya. Kondisi fisik serta rasa trauma membuat Sahdiamin enggan ikut mengantre.
“Airnya dekat gunung itu, tapi ramai sekali orang. Siang malam orang mencuci. Aku sudah tua, tidak sanggup lagi. Sungai pun sampai sekarang masih keruh kali,” ujarnya.
Tak hanya kehilangan akses air bersih, banjir bandang juga merusak akses jalan desa. Lumpur setinggi lutut membuat warga sulit beraktivitas. Sawah milik Sahdiamin yang hampir panen pun hancur tertimbun lumpur, menyisakan kerugian besar bagi sumber penghidupannya.
“Sayang sekali. Tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya pasrah.
Di tengah keterbatasan itu, harapan perlahan datang. Pada malam hari, relawan menyambangi rumah-rumah warga membawa makanan. Sebuah mangkuk bubur kacang hijau menjadi penguat batin bahwa mereka tidak sendiri menghadapi musibah ini.
“Sedih sekali rasanya. Aku terima sambil menangis, tapi tetap bersyukur,” ungkap Sahdiamin.
Kelegaan semakin terasa ketika mobil tangki air bersih berkapasitas 6.000 liter akhirnya tiba di wilayah tersebut. Air bersih itu menjadi jawaban atas kebutuhan mendasar warga untuk memasak, mencuci, dan mandi, sekaligus mengurangi kecemasan yang selama ini membayangi.
“Bersyukur sebanyak-banyaknya sama Tuhan. Aku sudah tidak sanggup lagi mengangkat air dari jauh,” katanya.
Meski demikian, Sahdiamin hanya memanjatkan satu doa sederhana: agar bencana serupa tak kembali terjadi dan penderitaan ini segera berakhir.
“Yang terbaiklah yang kami minta sama Tuhan. Jangan lagi kalau boleh bencana ini,” tutupnya.
Kisah Sahdiamin mencerminkan krisis air bersih yang dialami banyak penyintas banjir bandang di Sumatra. Melalui distribusi air bersih dan layanan kemanusiaan lainnya, Dompet Dhuafa terus berupaya menghadirkan harapan di tengah keterbatasan, sekaligus mengajak masyarakat untuk bersama membantu para penyintas agar kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.





