Fobi Rusia di Kalangan Pejabat Pertahanan Eropa

Petinggi pertahanan Eropa mencemaskan kemungkinan serangan dari Rusia setelah negara Beruang Merah itu menginvasi tetangganya, Ukraina (lustrasi: Tass)

KECEMASAN terhadap kemungkinan serangan dari Rusia, menyusul invasi negara Beruang Merah itu ke Ukraina muncul di benak kalangan penentu kebijakan pertahanan di negara-negara Eropa.

Para  pejabat keamanan Eropa  secara blak-blakkan  menyampaikan pesan yang hampir tak terbayangkan satu dekade lalu: “menyerukan agar rakyatnya bersiap menghadapi kemungkinan konflik dengan Rusia”.

Dalam beberapa pekan terakhir ini, peringatan bernada suram hampir selalu muncul dari pemerintah, militer, atau lembaga keamanan di berbagai negara Eropa.

Situasi tersebut menandai pergeseran psikologis besar di “Benua Biru” yang selama puluhan tahun membangun identitasnya melalui harmoni dan kerja sama ekonomi pasca Perang Dunia II, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (16/12).

Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan membandingkan strategi Presiden Rusia Vladimir Putin di Ukraina dengan langkah Adolf Hitler pada 1938. Kala itu, Hitler merebut wilayah Sudetenland di Cekoslowakia sebelum melanjutkan ekspansi ke sebagian besar darata Eropa.

“Jika Ukraina jatuh, Rusia tidak akan berhenti, sama seperti saat Rusia menyerbu Sudetenland pada 1938. Tidak pernah cukup!,” kata Merz dalam konferensi partainya pada Sabtu (13/12).

Sudah di depan pintu

Pernyataan Merz muncul hanya selang beberapa hari setelah Sekjen NATO Mark Rutte memperingatkan bahwa konflik sudah di depan pintu.

Dia menambahkan, Eropa harus siap menghadapi skala perang seperti yang dialami nenek moyang generasi sekarang.

Rutte menyebut, Rusia berpotensi siap menggunakan kekuatan militer terhadap negara-negara NATO dalam lima tahun ke depan.

Sementara itu, Kastaf AB Perancis menyatakan,  negaranya berisiko karena tidak siap menerima kehilangan anak-anaknya.

Nada kewaspadaan semakin menguat seiring upaya pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menengahi akhir perang di Ukraina, yang memicu kekhawatiran di ibu kota Eropa.

Sejumlah pejabat Eropa khawatir, Ukraina akan didorong menerima kesepakatan damai yang timpang, sehingga memperkuat posisi Putin dan membuat Kyiv rentan terhadap serangan Rusia di masa depan.

Gencatan senjata juga dinilai berpotensi membebaskan sumber daya militer Rusia, sehingga dapat dialihkan ke fokus baru di Eropa, termasuk membuka peluang erangan di sayap timur NATO.

Kecemasan itu diperparah oleh sinyal bahwa pemerintahan Trump mungkin tidak akan secara otomatis membantu Eropa jika serangan benar-benar terjadi.

Strategi Keamanan Nasional AS yang dirilis bulan ini menyebut, tujuan Washington untuk mencegah meluasnya perang di Eropa adalah memulihkan stabilitas strategis dengan Rusia di mana strategi itu tidak lagi secara eksplisit menyebut Rusia sebagai musuh.

Mendestabilisasi Eropa  

Nada berbeda justru dilontarkan Kepala Dinas Intelijen Inggeris MI6 Blaise Metreweli yang  memperingatkan bahwa Rusia akan terus berupaya mendestabilisasi Eropa sampai Putin dipaksa mengubah perhitungannya.

Panglima AB Inggris Richard Knighton menyebut situasi saat ini sebagai yang paling berbahaya sepanjang kariernya dan ia bahkan meminta publik Inggris untuk bersiap menghadapi pengorbanan yang lebih besar.

“Lebih banyak keluarga akan mengetahui apa arti berkorban demi negara,” kata Knighton.

Bagi Eropa, pesan keras ini menandai perubahan mendalam dari proyek integrasi Uni Eropa yang sejak awal dirancang, dengan dukungan AS, untuk mencegah terulangnya perang besar seperti pada abad ke-20.

Saling intip kekuatan antara Rusia dan 32 negara anggota NATO pimpinan AS tak terelakkan.

Bagi Rusia sendiri, invasinya ke Ukraina,  sejak 24 Feb. 2022 yang masih berlangsung sampai har ini, a.l muncul dari kekhawatiran, Ukraina yang sesama negara bekas sempalan Uni Soviet dan juga anggota Pakta Warsawa, akan bergabung dengan NATO.

Jika itu terjadi, Rusia merasa kedaulatannya terancam, terkepung negara-negara anggota NATO yang sudah merambah ke Eropa Tengah dan Eropa Timur seperti  Ceko, Slowakia, Bugaria, Hongaria, Rumania

Bahkan negara-negara di kawasan L. Baltik di Eropa Utara yang dulunya bernaung di bawah Uni Soviet yakni Latvia,  Estonia dan Lithuania juga sudah bergabung ke NATO.

Konstelasi geopolitik dan militer di daratan Eropa bakal terus berubah, diwarnai adu taktik dan strategi, antara Rusia dan negara-ngara NATO dipimpin AS.

(AWSJ/kompas.com.ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here