PATI – Penyiar Radio Juwana, Pati, Ivan Nugroho (38) menulis surat bernada protes ke Presiden Joko Widodo. Melalui surat terbuka yang diunggah ke instagram-nya, tanggal 15 Mei lalu memantik puluhan nitizen memberikan komentar atas suratnya tersebut.
“Hidup kami semakin berat, Bapak Presiden. Mungkin saat ini bapak tidak merasakan beban kami yang sesungguhnya, karena setiap langkah bapak dibiayai negara. Listrik yang bapak pakai pun dibiayai negara yang notabene uang kami juga. Jelas bapak tidak akan merasakan kesulitan dan susahnya menyisihkan uang sekedar untuk membayar listrik tiap bulan, yang selalu dihantui dengan kenaikan tarif,” tutur Ivan Nugroho dalam salasatu alenia suratnya, Rabu (17/5/2017).
Berikut adalah tulisan lengkap dari surat Ivan Nugroho yang dikutip KBK dari KRJogja :
“Tanpa berbanyak kata, saya hanya akan menyampaikan keluh kesah sebagai warga negara yang Bapak pimpin. Beberapa hari terakhir, saya yakin banyak warga negara ini yang merasakan, kebijakan menyerahkan harga listrik kepada mekanisme pasar terasa sangat menambah beban hidup. Kebijakan yang jika dikatakan dengan bahasa awam adalah kenaikan tarif listrik, terasa bagaikan tali yang menjerat leher secara perlahan”.
Dengan dalih subsidi yang diberikan sangat membebani APBN, sehingga dicabut. Namun disatu sisi, tarif listrik untuk usaha besar malah diturunkan dengan dalih untuk menarik investasi ke negara ini. Sadarkah bapak, jika dengan kebijakan tersebut jelas-jelas bapak tidak sepenuhnya memperhatikan dan merasakan nasib rakyat dibawah?
Sadarkah bapak, jika apa yang telah diputuskan tersebut samadengan rakyatlah yang secara tidak langsung menanggung beban tarif listrik para pengusaha besar ?
Jika bapak masih berdalih, beban utang negara semakin berat, harusnya bapak juga berfikir beribu kali ketika akan memutuskan untuk kembali hutang ke negara lain atau lembaga keuangan dunia yang lain.
Hidup kami semakin berat, Bapak Presiden. Mungkin saat ini bapak tidak merasakan beban kami yang sesungguhnya, karena setiap langkah bapak dibiayai negara. Listrik yang bapak pakai pun dibiayai negara yang nota bene uang kami juga. Jelas bapak tidak akan merasakan kesulitan dan susahnya menyisihkan uang sekedar untuk membayar listrik tiap bulan, yang selalu dihantui dengan kenaikan tarif.
Hanya itu keluh kesah saya, Bapak Presiden. Jika membuat Bapak Presiden tidak berkenan, saya sebagai warga negara meminta maaf setulus hati. Namun jika apa yang saya sampaikan ini dianggap menghina, ujaran kebencian hingga dianggap menimbulkan konflik atau polemik, saya pasrah dengan apapun yang akan terjadi terhadap diri saya pribadi maupun keluarga saya.
Mungkin juga Bapak Presiden menganggap ini hanya sebatas celotehan yang tidak perlu ditanggapi, dan dibaca tanpa senyum lalu menjadi penghuni tempat sampah, bagi saya pun tidak mengapa. Sekian dan terima kasih atas segala perhatiannya.
Hormat Saya Ivan Nugraha
(warga Negara Indonesia, tinggal di Kab. Pati).
Catatan:
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan pelanggan listrik dengan daya 900 Volt Ampere (VA) yang masuk dalam kategori Rumah Tangga Mampu (RTM) terkena pencabutan subsidi listrik terhitung 1 Maret 2017. Kondisi ini menyebabkan tarif listrik naik bagi pelanggan.
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jarman mengatakan, pencabutan subsidi pada 1 Maret 2017 merupakan tahap kedua. Pencabutan tahap pertama sudah berlangsung mulai Januari.





