
LEBIH enam jam aliran listrik padam yang nyaris melumpuhkan kegiatan masyarakat di sebagian wilayah Jawa, Minggu (4/8) sejak pukul 11.50 WIB merupakan kejadian terbesar sejak 2002.
Bahkan pemadaman listrik (current blackout) juga masih terjadi di sebagian wilayah Bekasi, Jakarta, Tangerang, sejumlah kabupaten di Bandung dan Propinsi Banten hingga Senin malam.
Sebelumnya, pemadaman listrik pada jaringan transmisi Jawa – Bali dalam skala besar terjadi berulang kali akibat sejumlah faktor seperti kerusakan alat atau penyebab lain.
Pada 1991 misalnya, alat pemutus arus listrik Jawa – Bali meledak sehingga terjadi pemadaman listrik, begitu pula pada 1992, 1997 dan 2002 terjadi pemadaman di cakupan wilayah yang cukup luas di Jawa.
Minggu lalu, ribuan penumpang komuter (KRL) numpuk di berbagai stasiun di wilayah Jabodetabek, karena moda angkutan andalan warga menghentikan layanan karena tidak mendapatkan catu daya listrik.
Bisa dibayangkan, bagaimana kacau balaunya aktivitas publik, ada sekitar 900 perjalanan KRL setiap hari dengan sekitar 1,2 juta penumpang yang melayani 79 stasiun di kawasan Jabodetabek.
Sebagian penumpang, lansia atau emak-emak dengan bayi atau anak kecil, tetap bertahan di atas KRL atau turun, membatalkan perjalanan, karena sebagian tidak punya ongkos naik moda angkutan lain yang lebih mahal atau taunya cuma naik KRL.
Celakanya, angkutan daring juga terimbas karena sistem pesanan on-line tidak berfungsi, juga jumlahnya tidak memadai atau belum semua orang terbiasa atau mampu membayar ongkosnya.
Terimbas Listrik Padam
Sistem ticketing elektronik Trans Jakarta dan di gerbang-gerbang toll, internet, e-transaksi perbankan dan komunikasi lewat HP, bahkan pasokan air PT Palyja dan juga SBPU ikut terganggu akibat listrik padam Minggu lalu.
MRT yang ramai di hari-hari libur karena banyak warga Jabodetabek, bahkan dari kota-kota lain yang ingin menjajal angkutan baru itu juga stop hingga pukul 20.00, dan baru jalan lagi hingga pukul 24.00 dengan tiket gratis.
Operator, PT MRT mengevakuasi sekitar 3.400 penumpang atau calon penumpang yang terjebak di stasiun-stasiun di bawah tanah atau sudah berada di atas gerbong saat aliran listrik tiba-tiba padam.
Berdasarkan keterangan sementara PLN, listrik padam karena rusaknya enam turbin gas pembangkit listrik di Suralaya dan juga di Cilegon ditambah adanya gangguan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Ungaran – Pemalang, Jateng.
Akibatnya, pasokan arus listrik dari timur ke barat wilayah Jawa mengalami kegagalan, diikuti gangguan sejumlah pembangkit di bagian tengah dan barat Jawa.
Presiden Jokowi yang menyambangi kantor pusat PLN, Senin pagi menunjukkan kekecewaan dan geramnya atas peristiwa itu walau Plt. Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani berusaha menjelaskan dengan panjang lebar.
Menanggapinya, presiden hanya meminta PLN segera melakukan perbaikan secepatnya. “Di beberapa wilayah, listrik masih padam. Segera dikejar dengan cara apa pun agar bisa hidup lagi,” pintanya.
Jokowi juga mengingatkan agar pemadaman total seperti yang terjadi pada Minggu lalu tidak terulang lagi. “Dalam sebuah manajemen besar seperti PLN, mestinya ada tata kelola terkait (potensi-red) risiko-risiko dengan merancang ‘kontingensi plan’ dan ‘back- up plan’.
“Pertanyaan saya, mengapa itu (PLN-red) tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik,” tanya Jokowi seraya mengingatkan agar kejadian listrik padam total tidak terulang lagi.
Ganguan Jaringan SUTET
Plt. Dirut PLN menjelaskan, awal mula listrik padam di sejumlah wilayah di Jateng, Jabar, DKI Jakarta, hingga Banten akibat gangguan di Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran- Pemalang.
Namun ia juga mengakui proses penanganan listrik padam yang melanda sejumlah wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, hingga Banten berjalan lambat.
Menurut dia, kelistrikan Jawa-Bali memberlakukan dua sistem yaitu utara dan selatan, masing-masing dengan dua sirkuit atau jaringan, sehingga total ada empat.
“Pertama kali terjadi gangguan di sirkuit utara antara Ungaran dan Pemalang pada pukul 11.48 WIB, kemudian meyusul gangguan di sirkuit selatan sehingga dua-duanya mengalami gangguan,” ujarnya.
Jokowi menyebut peristiwa serupa pernah terjadi di Jawa dan Bali pada 17 tahun lalu. Atas kejadian ini PLN dinilai tidak belajar dari pengalaman sebelumnya.
“Saya tahu peristiwa seperti ini pernah terjadi tahun 2002. Mestinya hal itu menjadi pelajaran bersama. Jangan sampai kejadian yang pernah terjadi, kembali terjadi lagi,” ujar Jokowi.
Pentingnya listrik bagi aktivitas publik dan menggerakkan industri serta berbagai layanan lainnya menyongsong Revolusi Industri 4.0 di era now dan juga rawan dari gangguan teknis maupun non-teknis.
Tidak diketahui kerugian yang ditimbulkan, diduga ratusan milyar rupiah, belum lagi lunturnya kepercayaan calon investor asing di tengah persaingan ketat investasi saat ini.
Perlu investigasi menyeluruh kenapa kerusakan gas turbin di pembangkit Suralaya dan Cilegon berbarengan dengan terjadinya gangguan pada SUTET Ungaran – Pemalang.
Investigasi diperlukan, agar peristiwa ini tidak dimanfaatkan oleh para hoaker dan pihak-pihak yang ingin memolitisirnya, atau bisa jadi pula kejadian ini bukan dipicu oleh persoalan teknis, tetapi aksi sabotase atau ulah teroris?




