
PASAR keuangan RI ikut melemah karena efek jelang libur panjang Lebaran dan dampak lonjakan harga minyak dunia akibat perang Iran melawan Amerika Serikat yang masih berkecamuk terutama penutupan Selat Hormus yang merupakan lintasan angkuatan seperlima hasil minyak dunia.
Pasar saham akhir pekan ini, menurut laporan Kompas.com dan rupiah (13/3) melemah karena investor menghindari instrumen investasi berisiko.
Tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan riset, Jumat siang, menyebutkan, kelanjutan konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global membuat harga minyak mentah bergerak di atas level 100 dolar AS per barel.
Mengutip Trading Economics, dalam dua hari terakhir, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 9,7 persen ke harga 95 dolar AS per barel. Minyak mentah Brent yang juga jadi acuan harga minyak dunia melonjak 8,48 persen ke harga 100 dolar AS per barel, tertinggi sejak Agustus 2022.
Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, lonjakan harga energi dinilai dapat memperbesar biaya impor dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi domestik.
Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan rupiah. Jumat, siang , nilai tukar rupiah naik 0,21 persen secara harian dan 0,56 persen secara bulanan ke level Rp 16.945 per dolar AS.
”Arah rupiah ke depan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan dinamika harga energi global,” tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya.
Di pasar global, sentimen kehati-hatian juga tecermin dari pergerakan bursa saham Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis (12/3) waktu setempat, mayoritas indeks utama di Wall Street ditutup melemah.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,56 persen ke level 46.677,85. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 1,52 persen ke posisi 6.672,62 dan indeks teknologi Nasdaq Composite melemah 1,78 persen menjadi 22.311,98.
Tekanan di pasar global turut memengaruhi pergerakan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sesi I hari ini anjlok 1,81 persen ke level 7.228 setelah dibuka di level 7.338.
Nilai kapitalisasi pasar merosot menjadi Rp 12.891 triliun dengan penjualan bersih oleh asing (net sell) sebesar Rp 52 miliar. Secara sektoral, semua saham menunjukkan pelemahan. Indeks saham LQ45 pun melemah 1,89 persen.
Trading ViewPerkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak 25 Februari hingga 13 Maret 2026. IHSG pada Jumat (13/3/2026) jatuh ke posisi di bawah 7.300, menjadi titik terendah sepanjang 2026 dengan pelemahan sekitar 16 per
Pelemahan ini berlanjut dari perdagangan Kamis, dengan IHSG ditutup melemah 0,37 persen ke level 7.362,1.
Meski demikian, kemarin, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp 905 miliar di pasar saham, dengan pembelian terbesar tercatat pada sejumlah saham sektor energi dan perbankan, seperti ADRO, AADI, BMRI, ITMG, dan BBCA.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, pergerakan IHSG masih akan bergerak pada area batas bawah di kisaran 7.200-7.300. ”Ini terutama menjelang periode libur panjang pasar,” kata mereka.
Analis Phintraco Sekuritas juga menyoroti peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjadi pendorong utama lonjakan harga energi global. Jika konflik berlangsung dalam waktu lebih lama, pasar khawatir pasokan energi global akan semakin ketat.
Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga energi lebih lanjut dan meningkatkan tekanan inflasi global. Bagi perekonomian Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
”Jika tekanan harga berlangsung dalam periode panjang, risiko pelebaran defisit fiskal mendekati batas 3 persen terhadap produk domestik bruto dapat meningkat,” kata tim analis Phintraco.
Selain itu, tekanan eksternal juga dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah, terutama jika disertai arus keluar modal serta penguatan dolar AS di pasar global.
Dalam skenario tersebut, nilai tukar rupiah bahkan berpotensi bergerak menuju kisaran Rp 17.000 per dolar AS.
Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor energi dan pada akhirnya memperdalam tekanan inflasi domestik.
”Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati konflik geopolitik di Timur Tengah serta dinamika harga energi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek,” kata mereka.
Purbaya bantah, Indonesia memasuki resesi
Sementara Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyindir pihak-pihak yang menilai kondisi perekonomian Indonesia saat ini sudah masuk dalam jurang resesi dan tinggal menunggu kolaps saja.
Pernyataan ini yang dilansir detikfinance disampaikannya Purbaya di depan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Sidang Kabinet, Jumat sore (14/3) ini.
Ia bahkan tak ragu menyebut pihak atau ekonom yang berpendapat ekonomi nasional sedang buruh ‘aneh’, sebab menurut dia, justru sedang mengalami pertumbuhan sangat baik.
“Di luar banyak yang bilang kita sudah resesi pak, ekonom-ekonom yang agak aneh bilang kita sudah resesi, tinggal tunggu hancurnya,” kata Purbaya dalam Sidang Kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat lalu.
Ia menjelaskan dari sisi suplai, purchasing managers index (PMI) Indonesia pada Feb.2026 berada di level 53,8. Ini merupakan angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir ini.




