Makna dan Keutamaan Wukuf di Arafah dalam Ibadah Haji

Ilustrasi Jemaah Haji wukuf di Padang Arafah. (Foto: ANTARA)

JAKARTA, KBKNews.id – Wukuf di Arafah merupakan momen paling penting dalam pelaksanaan ibadah haji. Tanpa wukuf, ibadah haji tidak dianggap sah. Karena itu, seluruh jemaah—baik yang sehat maupun yang sakit—wajib melaksanakan wukuf di Arafah.

Menurut Konsultan Ibadah PPIH Arab Saudi, KH Abdul Moqsith Ghazali, wukuf adalah rukun utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh siapa pun.

“Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Haji adalah Arafah. Maka, Arafah ini menjadi bagian terpenting dari seluruh rangkaian haji,” kata Moqsith dilansir dari laman resmi Kemenag.

Oleh karena itu, setiap jemaah harus dibawa ke Arafah selama masih memungkinkan, bahkan jika dalam kondisi sakit dan hanya bisa berbaring.

Bagi jemaah lanjut usia atau yang mengalami gangguan kesehatan, bisa mengikuti skema “safari wukuf” yang diatur oleh Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) atau panitia haji.

Moqsith menjelaskan, Arafah disebut dalam Al-Qur’an dengan kata “Arafaat”, yang berarti tempat perkenalan atau pengenalan.

Ada dua makna historis yang melekat pada Arafah: pertama, tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah terpisah lama; kedua, lokasi saat Malaikat Jibril mengajarkan tata cara haji kepada Nabi Ibrahim, dan beliau menjawab “Araftu” (saya mengenalnya).

Tempat Paling Baik untuk Berdoa

Waktu wukuf dimulai pada 9 Zulhijah sejak tergelincir matahari hingga fajar tanggal 10 Zulhijah. Dalam wukuf, tidak ada bacaan wajib seperti dalam salat.

Ibadah haji merupakan ibadah yang lebih banyak dilakukan secara fisik (fi’li), dan wukuf adalah aktivitas pasif—cukup dengan berdiam diri, berzikir, dan berdoa.

“Saat wukuf, jemaah haji cukup berdiam diri saja. Jemaah cukup duduk, berdoa dan berzikir kepada Allah SWT. Meminta semua yang dibutuhkan oleh jemaah,” kata Moqsith.

Ia menganjurkan agar jemaah menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk berdoa, memohon ampun, dan mendoakan kebaikan bagi orang lain.

“Arafah adalah perjumpaan langsung antara Allah dan hamba-Nya. Maka berdoalah sebaik mungkin. Mendoakan orang lain dengan baik,” kata Moqsith.

Karena kesakralan Arafah, KH Moqsith juga mengingatkan jemaah agar tidak berkata kasar, tidak mencaci makhluk hidup, serta tidak melakukan transaksi jual beli selama wukuf

“Berdoa yang baik saja untuk orang lain, jangan mencaci dan jangan melakukan melaknat. Karena Nabi Muhammad SAW bersabda, tidak boleh mencaci ayam, karena ia yang membangunkan kita saat subuh, apalagi mencaci orang lain. Jangan juga bertransaksi jual barang saat wukuf di Arafah,” tuturnya.

Wukuf di Dalam Tenda

Selama di Arafah, jemaah akan melaksanakan salat Zuhur berjemaah dan mendengarkan khotbah. Setelahnya, mereka dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan membaca Al-Qur’an.

“Karena cuaca ekstrem, kami imbau jemaah untuk wukuf di dalam tenda. Kecuali ingin ke toilet,” ujarnya.

Terakhir, KH Moqsith menekankan pentingnya menjaga larangan ihram selama berada di Arafah.

“Seluruh jemaah haji wajib meninggalkan hal-hal yang diharamkan Ihram saat wukuf di Arafah,” pungkasnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here