Mantan Drummer God Bless Yaya Moektio Berpulang, Tengok Perjalanan Grup Musik Rock Ini

God Bless, salah satu grup band rock Indonesia. (Foto: Aktuil via instagram)

Jakarta, KBKNews.id – Mantan drummer God Bless Yaya Moektio meninggal pada Senin, 8 Desember 2025. Pemilik nama lengkap Yahya Karya Konsepsianto bin Moektio itu menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 04.00 WIB.

Berita duka itu disampaikan langsung oleh God Bless lewat akun resmi Instagram mereka. Dalam unggahan singkat namun sarat makna, mereka menuliskan betapa Yaya pernah memberi warna tersendiri dalam perjalanan musik band rock legendaris tersebut.

Seluruh keluarga besar God Bless pun menyampaikan belasungkawa. Mereka mengenang Yaya bukan sekadar rekan musisi tetapi bagian dari sejarah panjang mereka.

Bagi para penggemar rock Indonesia, nama Yaya Moektio bukanlah sosok asing. Ia bergabung dengan band ini pada 2009 dan tampil di album 36th. Album tersebut merupakan perayaan perjalanan band yang kala itu telah berkarya lebih dari tiga dekade.

Meski kemudian tak lagi bersama God Bless sejak 2015, jejaknya tetap tertanam sebagai bagian dari evolusi musik mereka. Selain itu, Yaya juga dikenal sebagai drummer Gong 2000. Itu menunjukkan kapasitas bermusiknya yang kuat di skena rock nasional.

Perjuangan Terakhir Sang Drummer

Kabar kepergiannya disertai cerita pilu dari sang putra, Rama Moektio. Ia menuturkan, ayahnya telah lama berjuang melawan penyakit yang ternyata salah didiagnosis selama bertahun-tahun.

Keluhan yang kerap disangka asam lambung atau maag itu rupanya berasal dari usus buntu yang pecah. Hal itu memicu infeksi bakteri kronis yang menyebar ke seluruh tubuh.

Setelah dua kali menjalani operasi dan 17 hari dirawat di rumah sakit, kondisi Yaya tak kunjung membaik. Infeksi itu memicu komplikasi hingga munculnya tuberkulosis di paru, ginjal, dan organ lain.

Rama mengenang ayahnya sebagai musisi hebat sekaligus pribadi yang hangat—mudah bergaul, komunikatif, dan selalu memberikan teladan.

“He is a good father, he is a good drummer,” ujarnya, mengenang hari-hari terakhir sang ayah.

Di tengah kabar duka itu, publik kembali menoleh kepada sejarah panjang God Bless. Band yang tak hanya menjadi rumah bagi Yaya di sebagian perjalanan kariernya, tetapi juga ikon terbesar dalam sejarah musik rock Indonesia.

Awal Mula

God Bless lahir dalam suasana musik Indonesia yang sedang mencari bentuk pada awal 1970-an. Usai kembali dari Belanda, Ahmad Albar yang ketika itu telah merasakan panggung musik Eropa, ingin membangun band rock yang serius di Tanah Air.

Ia mengajak gitaris Ludwig Le Mans, drummer Fuad Hassan, dan bassist Donny Gagola. Dari pertemuan itu, band bernama Crazy Wheels terbentuk pada awal 1973.

Crazy Wheels mulai meniti panggung, salah satunya tampil di ajang musik Summer 28. Antusiasme publik terhadap gaya musik mereka makin besar, mendorong mereka mencari nama baru yang lebih kuat sebagai identitas.

Pilihan nama tidak mudah. Mereka sempat menjajal The Balls, The Road, bahkan The God. Hingga suatu hari, sebuah kartu ucapan tergeletak di meja rumah adik Ahmad Albar, Camelia Malik, bertuliskan “May God bless you.”

Dari tulisan itulah nama God Bless lahir pada 5 Mei 1973. Nama yang sederhana, tetapi kelak menjadi salah satu simbol paling ikonik dari musik rock Indonesia.

Formasi Awal dan Cobaan Berat

Formasi pertama God Bless terdiri atas Ahmad Albar (vokal), Donny Gagola (bass), Ludwig Le Mans (gitar), Fuad Hassan (drum) dan Deddy Dores (kibor). Namun perjalanan mereka segera diwarnai tragedi.

Pada 1974, kecelakaan merenggut nyawa Fuad Hassan dan Soman Lubis (pengganti Jockie Surjoprajogo yang keluar sementara). Tak lama berselang, Ludwig juga memutuskan untuk mundur.

God Bless sempat hanya menyisakan Ahmad Albar dan Donny Gagola. Namun dari masa sulit itu, lahirlah formasi yang kemudian menguatkan fondasi kelompok ini. Ahmad Albar mengajak Jockie kembali, dan ia menghadirkan dua nama yang kelak menjadi legenda Ian Antono pada gitar dan Teddy Sujaya pada drum.

Formasi inilah yang menghasilkan album debut God Bless pada 1976, sebuah penanda bahwa rock Indonesia telah menemukan porosnya.

Era Keemasan

Memasuki 1980-an, God Bless merilis album Cermin (1980), lalu mencapai puncak popularitas melalui album Semut Hitam (1988). Album ini memuat lagu-lagu yang kemudian menjadi anthem rock Indonesia. Di antaranya Rumah Kita, Kehidupan, dan Semut Hitam.

Ketiganya hingga kini masih sering diputar, dinyanyikan lintas generasi, bahkan dijadikan simbol perlawanan, persatuan, dan semangat kebebasan.

Pada 1989, God Bless merilis Raksasa. Meski tidak seikonik Semut Hitam, namun perjalanan mereka tidak pernah surut. Setelah melewati berbagai pergantian personel, band ini merilis total tujuh album hingga Cermin 7 yang hadir pada 2017.

Salah satu bukti pengaruh besar mereka adalah ketika God Bless dua kali dipercaya membuka konser Deep Purple di Jakarta pada 1975 dan 2023. Tidak banyak band Indonesia yang mendapat kehormatan seperti itu.

Regenerasi, Dedikasi, dan Status Legendaris

Selama lima dekade, God Bless mengalami banyak perubahan formasi. Sejumlah musisi besar pernah singgah. Di antaranya Eet Sjahranie, Keenan Nasution, Gilang Ramadhan, Abadi Soesman, hingga Yaya Moektio.

Namun tiga nama tetap menjadi pilar utama, Ahmad Albar, Ian Antono dan Donny Fattah Gagola. Mereka menjaga nyala api God Bless tetap hidup, bahkan di usia yang tidak lagi muda.

Atas dedikasi panjang itu, band ini dinobatkan oleh Rolling Stone Indonesia sebagai salah satu dari The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa. Presiden Joko Widodo pun memberikan penghargaan khusus pada konser 48 tahun God Bless.

God Bless bukan hanya band. Ia adalah tonggak, tongkat estafet, dan simbol bahwa musik bisa bertahan melampaui zaman dan generasi.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here