INDONESIA sedang bersiap-siap menjadi tuan rumah, menyambut rombongan besar tamu dari Kerajaan Arab Saudi dipimpin Raja Salman bin Abdul Aziz yang akan melakukan lawatan sembilan hari, 1 sampai 9 Maret.
Tidak tanggung-tanggung. Anggota rombongan yang ikut serta berjumlah 1.500 orang, sangat besar dari sisi kunjungan resmi kenegaraan, termasuk di dalamnya 14 menteri, 25 pangeran dan para pengusaha.
Kabarnya, dilakukan 39 sorti penerbangan untuk mengangkut 359 ton barang bawaan dan keperluan logistik termasuk mobil mewah kebal peluru, Merci S600 Maybach dan anak tangga berjalan untuk naik-turun pesawat bagi Raja Salman yang sudah sepuh (81 tahun) dan pernah mengalami stroke.
Rombongan utama naik dua pesawat berbadan lebar Boeing B747 – 400 berdisain interior lux dan masing-masing satu pesawat Boeing B 777 dan B 757, sedangkan anggota rombongan lainnya akan datang duluan. Sebuah pesawat angkut C-130 Hercules digunakan untuk mengangkut barang dan keperluan logistik.
Selain ke Indonesia, Raja Salman dan rombongan dalam rangkaian lawatan sebulan penuh ke negara-nagara Asia, diawali kunjungan ke Malaysia, kemudian dari Bali menuju Brunei, Jepang, Tiongkok dan Maladewa, diakhiri dengan menghadiri KTT Liga Arab di Jordania di penghujung Maret.
Rangkaian lawatan Raja Salman yang naik tahta 23 Januari 2015, menggantikan kakak tirinya, Raja Abdullah yang wafat, adalah yang kedua kali di luar kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara setelah kunjungan ke AS pada 2015.
Sedangkan tradisi lawatan dengan jumlah rombongan besar dilakukan berkat berkah lonjakan atau “booming” harga minyak dunia pasca Perang Yom Kippur Arab – Israel, Oktober 1973.
Embargo minyak negara-negara Arab terhadap negara-negara pendukung Israel pasca perang 1973 membuat harga minyak bumi melangit dari kisaran di bawah dua dolar menjadi 12 dollar AS per barrel. Bahkan harga “emas” hitam itu meliwati 142 dolar AS per barrel pada Februari 2016.
Ikut sertanya Menteri Energi Khalid al-Falih dan sejumlah boss perusahaan minyak negara itu, Saudi Arabian Oil. Co atau Aramco, kemungkinan terkait rencana penjualan lima persen saham perdana pertama (IPO) perusahaan itu dan juga kerjasama proyek energi dengan pimpinan negara yang dikunjungi.
Sobat lama
Pengamat Timur Tengah Abdul Mutawali mengungkapkan, Arab Saudi termasuk negara yang lebih awal mengakui kemerdekaan RI, sehingga kedekatan politik ini bisa dijadikan modal untuk membina hubungan lebih baik.
Namun demikian, menurut dia, dari sisi mazhab keagamaan, masih ada kalangan ulama di Indonesia yang memposisikan Arab Saudi pada steorotip usang yang menganggap mereka sebagai penganut aliran garis keras Wahabi. Padahal kini kondisinya kini sudah jauh berbeda.
Menurut dia, Arab Saudi sudah membuka diri pada berbagai aliran dan paham, hal itu antara lain tercermin di perpustakaan Universitas Raja Saud di Riyadh dimana buku-buku pengetahuan atau filsafat terkait pluralisme dan demokrasi yang dulu dianggap tabu bisa dibaca mahasiswa.
“Justeru persepsi sebagian kita yang masih kolot tentang Arab Saudi hendaknya disingkirkan, “ ujarnya.
Sejauh ini, Malaysia masih menjadi “kiblat” Arab Saudi, ditandai dengan ribuan mahasiswanya yang menuntut ilmu di berbagai perguruan tinggi di negeri jiran itu, juga banyaknya wisatawan yang berkunjung bersama keluarga mereka sepanjang tahun.
Sementara Konjen RI di Jeddah M Hery Saripudin mengingatkan, untuk menarik investasi di Arab Saudi, Indonesia harus berbenah diri dan melakukan berbagai persiapan, mulai dari menciptakan kepastian hukum, peraturan perundang-undangan yang mendukung, prasarana dan sarana yang memadai sampai keamanan dan kenyamanan berusaha.
“Jangan sampai calon investor balik badan, jika cuma presiden saja yang siap , sementara menteri-menteri dan jajarannya serta instansi terkait, juga mitra usaha lokal dan aparat keamanan tidak,” katanya mengingatkan.
Dikeluhkan investor
Menurut catatan, lama dan rumitnya prosedur dan sistem perizinan di Indonesia, buruknya sarana dan prasarana terutama akses perhubungan, juga pungli dan premanisme masih dikeluhkan oleh para calon penanam modal selama ini.
Terkait prasarana perhubungan misalnya, sebagian ruas jalan Lintas Sumatera rusak, malah menjadi kubangan, belum pernah teratasi puluhan tahun, sehingga menjadi penyebab biaya tinggi, karena kendaraan cepat rusak dan waktu tempuh lebih lama, belum lagi, aksi preman, bajing luncat dan para pemeras.
Investasi Arab Saudi di Indonesia – negara dengan cadangan devisa sekitar 750 milyar dolar AS – tergolong kecil, di urutan ke-57, masih dibawah satu milyar dolar AS, jauh di bawah Jepang, Tiongkok, Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropah
Raja Salman dalam lawatannya nanti diharapkan akan menorehkan komitmen investasi sampai 25 milyar dolar atau sekitar Rp332,5 triliun khususnya di sektor energi dan pariwisata.
Sementara pengamat Timur Tengah lainnya, Yon Mahmudi, pemerintah Arab Saudi sejak kepemimpinan Raja Abdullah lalu, cenderung berpaling untuk menjalin hubungan bak deangan nagara-nagara Asia.
Saat ini, Raja Salman yang memang dikenal berfikiran moderat, ditambah kemungkinan kekhawatiran pada kepemimpinan AS dibawah Presiden Donald Trump, Arab Saudi berupaya mencari negara mitra-mitra baru termasuk dalam kegiatan investasi.
Yang penting, menurut Mahmudi, kedekatan dengan Arab Saudi tidak mengubah posisi Indonesia sebagai negara non-blok terdepan, mengingat ada negara lain seperti Turki, Iran yang berebut pengaruh di kawasan Timur Tengah.
Ibarat mengundang semut untuk datang, gula perlu ditebar dan dirasakan semut manisnya. Jika tidak, calon investor akan berbalik badan dan jika itu terjadi, yang tersisa, cuma hingar-bingar helat penyambutan tamu. (AP/Reuters/NS)





