
MAYORITAS masyarakat, di tengah silang pendapat tentang perolehan suara Pemilu 2019, bersikap legawa dan bisa menerima hasil akhir perolehan suara yang sedang dihitung bertahap dan manual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Sampai hari ini, Senin (29/4), dari hasil hitung cepat (quick count –QC) sejumlah lembaga survei anggota Persepi, paslon nomor 1, Jokowi – Ma’ruf Amin unggul pada kisaran 54 persen, sedangkan lawannya, paslon nomor 2, Prabowo-Sandiaga Uno pada kisaran 45 persen.
Sebaliknya, paslon Prabowo dan Uno mengklaim, dari hasil real count (RC) oleh lembaga yang dirahasiakan namanya dengan alasan keamanan, telah meraih 62 persen suara, sehingga mereka telah tiga kali mendeklarasikan kemenanganya dan bersujud syukur.
Bahkan kubu paslon nomor 2 mengancam akan menggelar aksi people power, tidak akan menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) sesuai prosedur yang berlaku jika ada paslon yang menilai, terjadi kecurangan secara sistematis, terstruktur dan masif.
Sementara itu, real count manual yang dilakukan oleh KPU secara berjenjang dari lembar C-1 plano di tingkat TPS (Tempat Pemungutan Suara), kecamatan, kabupaten, provinsi sampai nasional, sampai Senin pagi (29/4) sudah mencapai 50,8 persen dengan perolehan suara untuk Jokowi-Amin 56,23 persen dan Prabowo-Uno 43,77 persen.
KPU dijadwalkan akan menyelesaikan seluruh hasil suara nasional dan mengumumkan hasil Pemilu 2019 secara resmi pada 22 Mei nanti.
Jajak pendapat yang digelar Litbang Kompas terhadap 544 responden berusia minimal 17 tahun yang berdomisili di 16 kota besar pada 24 dan 25 April menunjukkan, publik dapat menerima dan legawa atas hasil pilpres yang bakal diumumkan KPU.
Mayoritas (82,4 persen responden) percaya atas hasil yang akan diumumkan KPU nantinya, 12,9 persen tidak percaya dan 4,7 persen tidak tahu.
Jumlah yang hampir sama (82,6 persen responden) menganggap biasa saja dan tidak akan melakukan apa-apa jika paslon capres/cawapres yang didukungnya menang atau kalah.
Sedangkan 9,7 persen mengaku, jika paslonnya menang atau kalah akan melakukan syukuran dengan tetangga atau keluarga dan 5,1 persen memostingnya di medsos, 1,3 persen melakukan nazar, 0,4 persen jawaban lain dan 0,9 persen tidak menjawab /tidak tahu .
Legawa dan Dapat Menerima
Persentase lebih tinggi (92,5 persen) responden dapat menerima jika paslon capres/cawapresnya kalah, 2,6 persen mendorong paslon mereka mengguggat ke MK, 15 persen meminta pemungutan suara ulang, 2,8 persen tidak tahu, dan hanya 0,6 persen akan turun ke jalan.
Lebih separuh responden (58,6 persen) berjanji, jika paslon yang didukungnya kalah, akan menyambung kembali silaturahmi dengan pendukung paslon lain yang sempat bermusuhan, 38,1 persen tidak akan melakukan apa-apa dan 3,3 persen tak menjawab /tidak tahu.
Hampir seluruh responden (95 persen) berjanji, jika paslonnya kalah, akan tetap mendukung program pemerintah yang baru, 3,2 persen tidak akan mendukung dan 3,2 persen menjawab tidak tahu.
Terkait persoalan paling mengganjal pada Pemilu 2019, sebanyak 32 persen responden menyebutkan, perhitungan suara yang banyak jenisnya hingga melelahkan petugas KPPS, 29,4 persen terlalu banyak kertas yang dicoblos dan 21 persen tidak menjawab/tidak tahu.
Sementara 6,1 persen responden menganggap persoalan yang mengganjal yakni terkait kurangnya surat suara di TPS, 6,1 persen sulitnya mengurus formulir A5 (pindah memilih), 5,5 persen alasan lainnya.
Dari jajak pendapat tersebut, tercermin, mayoritas masyarakat legawa dan dapat menerima hasil Pemilu 2019 dan hanya sedikit yang ingin turun ke jalan karena menganggap pemilu curang.
Jadi, pihak-pihak yang mewacanakan turun ke jalan harus “menimbang-nimbang”, jangan sampai jika memaksa dilakukan, “people power” malah bakal menggulung mereka.(NS/Litbang Kompas)


