
DI ERA now, 77 tahun setelah kemerdekaan RI pada 1945, ternyata masih banyak penduduk (183,7 juta atau 68 persen) yang tercatat belum mampu memenuhi kebutuhan gizi harian mereka.
Data yang diungkapkan oleh Tim harian Kompas baru-baru ini menyebutkan, biaya yang dikeluarkan oleh orang Indonesia untuk membeli makanan sehat bergizi seimbang Rp22.126 atau Rp663.791 per bulan.
Biaya tersebut didasarkan atas standar komposisi gizi Health Diet Basket (HDB) yang juga digunakann oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agricultural Organization –Â FAO).
Biaya pangan tertinggi di Indonesia, menurut ctatan BPS 2021, ditemukan di Maluku Utara (Rp26.050) per hari atau lebih tinggi Rp3.924 dri rata-rata nasional (Rp22.126).
Biaya setingi itu berdampak, banyaknya populasi yang tidak mampu membeli makanan bergizi, sehingga dengan mengombinasikan data pengeluaran penduduk dari BPS, 80 persen penduduk Maluku Utara tidak mampu membeli pangan bergizi.
Laporan FAO juga menunjukkan, harga pangan bergizi di Indonesia yang tertinggi dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya.
Dengan memperhitungkan paritas daya beli (purchasing power parity), harga pangan di Indonesia mencapai 4,47 dollar AS (sekitar Rp69.000) per hari atau lebih tinggi misalnya dari Thailand (4,3 dollar), Filipina (4,1 dollar), Vietnam (4 dollar) dan Mlaysia( 3,5 dollar.)Â Â
Yang perlu diperhatikan oleh otoritas terkait, tingginya harga pangan bergizi terutama di luar Jawa, khususnya di Indonesia bagian timur sehingga memperparah terjadinya anak stunting atau tengkes.
Di Pro[pinsi NTT misalnya, harga biaya pangan seimbang versi Angka Kecukupan Gizi (AKG) Rp19.173 per hari atau Rp575.192 per bulan sehingga membuat 4,37 juta warganya (78 persen) tergolong tidak mampu membeli bahan makanan bergizi seimbang.
Menyongsong bonus demografi tahun 2045 ditandai dengan meningkatnya penduduk usia produktif (16 sampai 60 tahun) diiringi menurunnya angka kematian dan kelahiran, pemenuhan makanan sehat dan gizi seimbang mutlak diperlukan.  Â


