China – India Bentrok Lagi

China dan India bentrok lagi di wilayah perbatasan di kaki Himalaya, Selasa (12/12) lalu. Tidak adanya zona demiliterisasi membuat tapal batas sepanjang 3.500 Km rawan bentrokan.

DUA raksasa Asia, China dan India kembali bentrok perbatasan di titik panas kaki Himalaya yang dikhawatirkan bereskalasi menjadi perang terbuka seperti pernah pecah pada 1962.

Setelah konflik serupa pada Mei 2020, terjadi insiden di sektor Tawang, Negara Bagian Arunachal Pradesh, bagian dari wilayah status quo tapal batas sepanjang 3.500 Km, Selasa lalu (13/12).

India menuduh China berusaha mengubah status quo sekitar Sungai Yangtze yang dipersengketakan di wilayah de facto yakni Garis Kontrol Aktual (LAC) yang sudah disepakati semula sebagai zona bebas patroli.

Sebaliknya, komando daerah militer barat Tentara China (PLA) menuduh pasukan India secara illegal melintasi tapal batas hingga memicu konflik.

Insiden saling lempar batu pasukan perbatasan kedua negara di kawasana LAC sebelumnya berlangsung di perbatasan di Danau Pangong Tso, Ladakh  pada ketinggian 15.000 kaki di dekat perbatasan Tebet, 9 Mei, 2020. Empat tantara China dan 20 tentara India tewas.

Perang terbuka antara China dan India yang merupakan kekuatan militer terkemuka dunia termasuk arsenal nuklirnya, tidak saja berdampak luas bagi kawasan tetapi juga dunia.

Institut Perdamaian dan Riset Internasional Stockholm (SIPRI) tahun ini  mencatat, anggaran militer China tahun ini 293 milyar dollar AS (sekitar Rp4.236  triliun) ke-2 terbesar setelah AS (801 milyar dollar atau Rp11.581 triliun), sedangkan  India 76,6 milyar dollar (sekitar Rp1.107 triliun) di peringkat ke-3.

Sama-sama punya nuklir

Arsenal nuklir China berdasarkan laporan intelijen Barat terdiri paling tidak  memiliki 50-an rudal balistik antarbenua (ICBM)  Dong-Feng  (a.l. DF-5 dan DF-41) berjangkauan 15.000 Km dan kecepatan max. sampai 22 Mach (26.950 Km/jam) dan sekitar  1.200 rudal jarak menengah.

India dilaporkan memiliki 130 sampai 140 rudal nuklir, a.l. rudal balistik antarbenua (ICBM) Agni-VI yang masing-masing memiliki 10 hulu ledak berjangkauan 12.000 Km dan sedang mengembangkan ICBM Surya berhulu ledak nuklir dengan jangkauan 35.526 Km lebih.

AU  China mengoperasikan sekitar  4.200 pesawat berbagai jenis, sebagian copypaste MiG-21,MiG29, Sukhoi SU-27 dan SU-30 dan  produk lokal seperti siluman J-21 Chengdu dan 1.170 helikopter.

Sedangkan AU India memiliki sekitar 2.200 pesawat, sebagian eks-Rusia dan Uni Soviet (MiG-21, MiG-29, SU-30) dan Mirage-2000 eks-Perancis dan produk lokal, Tejas ditambah 725 helikopter.

AD China a.l. mengoperasikan 7.600 tank dan 6.000-an panser, 2.650 kendaraan peluncur roket,  10.000 pucuk artileri, sementara India hanya memiliki 3.500 tank, 5.600 panser dan 266 peluncur roket.

Di Laut, China juga lebih berjaya dengan sekitar 770 kapal berbagai jenis seperti dua kapal induk, 36 destroyer, 52 fregat, 50 korvet, 76 kapal selam dan 285 aneka kapal pendukung, sebaliknya India memiliki  satu kapal induk, 14 destroyer, 13 fregat dan 19 korvet, dan 16 kapal selam dan 106 kapal patroli pantai.

AB  China didukung sektar 2,3 juta personil, belum termasuk jutaan pasukan cadangan, sementara India 2,1 juta personil dan ditambah pasukan cadangan.

Perang di era now yang serba komputer dan digital selain mengandalkan keunggulan teknologi, jarak jangkau, akurasi dan daya pembunuh atau perusak alutsista yang digunakan, juga adu strategi, taktik dan  kejelian intelijen serta doktrin militer.

Yang jelas, jika perang tak terelakkan, kedua negara yang memiliki senjata pemusnah massal bakal kehilangan nyawa, ribuan mungkin juga ratusan ribu  pasukan dan rakyat, belum lagi kerugian materi, sosial  dan ekonomi yang ditimbulkannya. (AP/AFP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement