JAKARTA – Banyak orang memberikan sedekah hanya dari uang yang tersisa setelah memenuhi berbagai kebutuhan lainnya, seperti makanan, transportasi, komunikasi, dan hiburan.
Misalnya, jika tersisa seratus ribu, maka sedekahnya juga hanya sebesar itu. Kadang, jika tidak ada sisa, orang cenderung hanya memberi sedekah kepada keluarga.
Sangat berbeda dengan zaman Rasulullah, di mana Rasulullah sendiri takut jika ada uang yang tersisa di rumahnya dan segera menyedekahkannya.
Namun, saat ini, orang lebih takut jika tidak ada uang di rumah. Dilansir dari tabungwakaf.com, mari kita simak hadis berikut:
“Kisah Umar radhiyallahu ‘anhu: ‘Aku (Umar) masuk menemui Rasulullah yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan.’ Rasulullah bertanya: ‘Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam kamar pengasingan seperti ini.’ Rasulullah lalu bersabda: ‘Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?” (HR Muslim)
Semua orang tahu bahwa Rasulullah adalah seorang pengusaha yang jujur dan kaya. Tetapi, perhatikan bagaimana beliau memberikan prioritas pada sedekah daripada mengejar gaya hidup yang mewah. Beliau tidak mencari kesenangan berlebihan untuk dirinya sendiri.





